
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Mas ini mau ambil berapa?” tanya Ayya melihat ada notifikasi m-banking masuk di ponsel miliknya.
“Dua juta aja, kan tadi aku bilang dua juta,” jawab Mukti.
“Kenapa setornya banyak begini?” tanya Ayya karena yang masuk adalah lima juta.
“Kan yang diambil Mas dua juta. Hari ini kamu mau belanja apa nanti kurang uangnya. Jadi pakai uang itu. Ambilnya jangan dua juta.”
“Enggak kurang. Uang yang kemarin masih banyak lebihnya Mas,” Ayya memberitahu uang Mukti di tabungannya masih sisa banyak dan dia selalu tulis agar tak tercampur dengan gajinya.
“Ya sudah pegang saja lah,” jawab Mukti, lelaki itu lalu meninggalkan meja makan lesehan tersebut. Sedang Ayya langsung membawa piring kotor bekas makan mereka berdua.
“Tinggal saja mbak Komang,” kata Bu Ikhlas.
“Biar Ibu yang beres-beres seperti biasa. Katanya tadi Mbak Komang mau pergi ke pasar bersama Bu Pinem.”
“Iya Bu ini mau ke pasar. Tapi sempat koq cuci piring cuma sedikit saja,” jawab Ayya sambil meneruskan pekerjaannya.
“Bu Pinem tahu tempat menjual rumput?” tanya Ayya.
“Mau buat apa?” tanya bu Pinem.
“Di sini ada yang jual rumput buat pakan ternah, ada yang jual rumput untuk taman.” jelas bu Pinem saat mereka siap berangkat ke pasar.
“Rumput yang untuk taman. Halaman belakang mau aku nanami rumput agar terlihat sejuk, tidak gersang,” jawab Ayya.
“Sepertinya dekat ke arah pasar ada yang jual rumput lembaran Mbak,” jawab bu Pinem.
“Iya rumput lembaran itu. Nanti itu ditanam seperti padi Bu berjarak agak jauh. Lama-lama mereka semakin melebar sehingga seluruh halaman tertutup rumput,” jelas Ayya. Ayya ingat dulu saat kecil pernah melihat di rumah papanya ditanam rumput seperti itu. Bukan ditutup secara langsung keseluruhan.
__ADS_1
“Aku ingin halaman belakang jadi hijau aja sih, enggak tanah begitu seperti sekarang.”
“Ada kok di dekat pasar, nanti bisa minta langsung ditanamkan,” kata bu Pinem selanjutnya.
“Baiklah, nanti kita mampir ya sebelum ke pasar,” pinta Ayya.
Sesuai pembicaraan tadi bu Pinem berhenti di tukang taman lebih dulu sebelum ke pasar. Ayya langsung memesan rumput dan minta langsung ditanamkan dia juga membeli beberapa bunga untuk ditaruh di pinggiran halaman agar terlihat segar saja.
“Banyak sekali mbak Komang,” cetus Bu Pinem. Dia melihat Ayya membeli beberapa macam buah sekaligus.
“Iya Bu, biar tiap hari ganti juice-nya.”
“Aku juga harus beli madu buat ganti sedikit gula dijuice.”
“Terus mau beli apa lagi?” tanya Pinem
“Juga keju,” akhirnya semua kebutuhan kulkas sudah terpenuhi selain sayuran dan buah-buahan juga bahan salad. Ayya membeli ikan daging dan ayam untuk dia bekukan. Kadang malam-malam dia bisa bikin masakan buat Mukti kalau Mukti lagi kerja.
“Hari ini Ibu memasak apa?” tanya Ayya.
“Masak ayam saja ya? Kita masak panggang. Sayurnya sop atau bening saja.”
“Aku kan terserah Ibu saja. Paling aku cuma butuh bakso dan segala macam pelengkap kalau malam-malam mas Mukti kerja bisa aku bikinkan makan tengah malam.”
“Iya, tengah malam dia kadang suka bikin mie kalau lagi iseng sendirian dan kelaparan. Ibu suka lihat bekas bungkusnya saja di tempat sampah dapur, tapi piring dan panci sudah dia cuci. Jadi ibu cuma lihat bungkusnya aja.” jelas bu Pinem lagi.
“Makanya aku belikan segala macamnya untuk persiapan kalau memang dia kerja tengah malam,” jelas Ayya.
“Mbak Komang ini pantesnya jadi istrinya pak Mukti. Sangat perhatian,” ucap bu Pinem jujur.
__ADS_1
“Wah tidak Bu. Saya bukan seperti itu. Saya hanya baru kenal dan belum banyak tahu. Makanya saya tanya terus. Saya harus banyak belajar dan saya bukan calon istrinya,” sanggah Komang Ayu.
“Jadi istrinya pun tak apa-apa Mbak. Karena memang sudah sepatutnya pak Mukti mendapat istri yang baik. Bahkan dia sudah sangat percaya pada Mbak soal uang.”
“Pak Mukti itu pada siapa pun seperti itu soal uang. Tak jadi alasan buat dia transfer ke siapa pun tapa percaya,” kata Ayya.
‘*Anda Ibu tahu bahkan buat berobat aku pun dia yang tanggung*,’ batin Ayya mengingat besarnya biaya berobat yang dikeluarkan Mukti untuknya.
“Ingetin saya nanti mau pulang kita ambil uang ya Bu. Saya takut kalau belum ke pasar tadi uangnya nanti hilang.”
“Baik Mbak,” jawab bu Pinem. Mereka terus belanja aneka kebutuhan. Saat hendak pulang mereka melewati los bagian pakaian.
“Ibu ini kayaknya bagus deh buat Menik,” Ayya melihat baju yang sangat bagus buat anak seumur Menik. Sejak jumpa kemarin siang dia suka dengan gadis kecil yang ramah dan rajin itu.
“Mbak Komang, jangan, masih cukup baju kami,” bu Pinem menolak.
“Enggak. Aku ingin beli sebagai hadiah perkenaln Bu.” Ayya bersikukuh ingin beli.
“Jangan mbak, cukup.” bu Pinem tetap ingin menolak.
“Enggak Bu. Biarin aku belikan Menik. Saya suka anak-anak. Saya anak tunggal jadi enggak punya kakak atau adik,” ujar Ayya jujur.
Bu Pinem mengalah, dia pun memilih ukuran yang pas untuk putri tunggalnya.
“Satu saja cukup ya Mbak. Jangan lagi,” Ayya memperhatikan ukuran yang bu Pinem pilih. Besok-besok dia bisa beli sendiri.
“Kalau sepatu Bu?”
“Sepatu baru bulan lalu Ibu beli. Jangan ditambah lagi,” kata Bu Pinem.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE yok.
__ADS_1