CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
TAMBAH TERPURUK


__ADS_3

“Kamu sudah makan? tanya Ambar ketika tiba di rumah. Dia langsung menemui Mukti tanpa masuk kamarnya dulu. Dia bertekad segera menyampaikan semua agar putranya tak salah langkah lagi.


“Sudah Ma sudah minum obat juga,” jawab Mukti.


“Mama mau bicara penting,” tegas Ambar.


“Ada apa ya Ma?” tanya Mukti menatap mamanya heran.


“Tadi kamu telepon sama Ayu?” tanya Ambar. Dia ingin tahu kejujuran putranya saja.


“Dan sebelumnya kamu juga pernah telepon sama Ayu.”


“Mama tahu dari mana Ma? Mama ketemu dia?” tanya Mukti cepat.

__ADS_1


“Berarti dia ada di Solo Ma?” tanya Mukti setengah berharap.


“Hari ini YA. Dia ada di Solo. Tapi nggak tahu hari-hari lain karena hari ini Mama bertemu dengan dia. Mama janjian dengan dia.” balas Ambar, membuat Mukti terperangah. Mengapa Ayya bisa janjian dengan mamanya tanpa dia dilibatkan.


“Kok Mama tega gitu janjian sama Ayya, nggak bilang aku?” tanya Mukti sedih.


“Karena kalau Mama bicara dengan siapa pun, ada yang tahu Mama bertemu dengan dia, maka seumur hidup dia tidak akan mau bertemu dengan Mama. Jadi Mama lebih berpikir untuk ke depannya saja. Mama tak mau membuat dia marah besar dan tak mau kenal Mama lagi.” jawab Ambar. Tadi Abu juga sama reaksinya seperti ini saat tahu dia janjian dengan Ayu. Ambar yakin Aksa dan Angga juga akan sama reaksinya.


“Apa yang dia bilang Ma. Bagaimana kabarnya dia? Terus bagaimana kondisi dia?” tanya Mukti mencecar pertanyaan pada Ambar. Membayangkan bagaimana sosok Ayya saat ini.


Mendengar itu rasanya Mukti ingin langsung masuk ke jurang dan tak pernah muncul lagi.


“Kamu tahu yang ada di bayangan Ayu? Kamu membujuk perempuan itu memeluknya dan membuatnya agar dia bisa tenang dan tak menangis lagi!”

__ADS_1


“Demi Allah aku tidak melakukan itu Ma. Aku malah membentaknya untuk diam jangan bicara karena aku akan bicara dengan tunanganku,” jawab Mukti lemah.


“Ya kamu membentaknya agar diam, sehabis itu siapa yang tahu? Mama juga nggak bisa membayangkan apa yang kamu lakukan terhadap perempuan yang sedang menangis. Pasti kamu akan membujuknya, memeluknya dan segala macam. Itu yang ada di pikiran Mama dan Ayu dan itu membuat Ayu sangat kecewa. Jadi sejak hari Minggu siang dia sudah tahu kamu selingkuh. Itu sebabnya sampai hari Senin dia tidak mau bicara apa pun sama kamu. Karena dia sudah tahu kamu pembohong. Kamu penipu itu sudah melekat di otaknya Ayu. Apa pun kondisinya kamu berbohong pada dia!” Mukti menutup wajahnya dia tak percaya. Kebohongannya sangat kotor. Rasanya dia ingin membunuh perempuan tersebut atau dia bunuh diri saja.


“Jadi Mama tidak bisa bantu kamu apa pun keputusan Ayu. Itu sudah final. Kamu yang menipunya lebih dulu. Kalau saat itu kamu bicara jujur kamu bilang kamu di suatu tempat dengan kondisi yang tidak baik karena dijebak, it's oke. Tapi kamu bilang apa? Kamu di pameran padahal saat itu Ayu yang di pameran dan suara background hanya ada tangisan perempuan. Itu yang berkali-kali Ayu katakan dengan nada marah dan kecewa pada Mama.”


“Dia tahu kamu dijebak itu bisa dia maafkan, tapi kebohonganmu itu tidak bisa dimaafkan. Dan juga dia bilang ingatan tentang video saat kamu berbuat itu tidak bisa dihapus dari otaknya. Jadi rasanya sulit untuk kamu dan dia bersama lagi.”


“Please Ma, tolongin aku agar bisa bertemu satu kali saja sama dia. Oke kalau memang dia tidak mau terima aku, setidaknya aku bisa pamit dulu sama dia. Itu saja yang ingin aku lakukan saat ini.”


“Nanti kalau dia ganti nomor ke nomor lama lagi, Mama akan bicara untuk memintakan waktu buat kamu. Tapi selama dia pakai nomor yang pengganti sekarang ya Mama nggak tahu. Karena Mama nggak dikasih tahu nomor tersebut.”


Mukti benar-benar tak percaya dia memang sangat salah karena ternyata Ayu mendengar isak tangis perempuan itu yang entah namanya siapa Mukti lupa dan memang tak pernah ingin mengingatnya.

__ADS_1


‘Mukti minta satu kali saja bertemu untuk pamit padamu!’ tulis Ambar ke nomor Ayya. Sekarang hanya itu yang dia tulis mulai hari ini karena itu permintaan putranya tadi.


__ADS_2