CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
LEBIH BAIK MATI


__ADS_3

Mukti kaget ternyata di ruang kerja papanya sudah ada Ambar dan Angga.


Ambar dengan wajah yang tak bisa diraba oleh Mukti entah itu marah entah itu duka entah apa pokoknya wajah Ambar sepucat mayat.


“Sekarang kamu mau ngomong apa?” tanya Abu. Dia yang memanggil Mukti, tapi Mukti yang ditanya mau ngomong apa.


“Aku nggak tahu Pa. Itu semua di luar kesadarnaku,” jawab Mukti.


“Kamu memang pemain seperti itu?” tanya Abu berat. Sungguh dia bingung bila anaknya menjawab sudah terbiasa main perempuan.


“Demi Allah Pa. Aku cuma pernah main sama Vio dan ini baru kejadian hari Sabtu. Aku nggak ngerti bagaimana bisa terjadi. Dan aku juga nggak ngerti siapa yang bikin videonya. Lalu yang aku enggak habis pikir lagi kenapa video itu dikirimkan ke Ayya bukan ke aku? Kalau dia mau merusak aku, harusnya videonya dikirim ke aku bukan ke Ayya,” jawab Mukti.

__ADS_1


“Kamu sudah salah sejak awal. Waktu kamu pulang hari Minggu sore, magrib tepatnya. Kami sudah tanya kamu ke mana? Ada apa? Kamu nggak mau ngomong kan. Lalu hari Senin mamamu tanya, kamu bilang nggak ada apa-apa. Kamu tak mau terbuka kan? Tiba-tiba sekarang hari Rabu, Papa dapat video ini dari Ayya langsung. Lalu Papa harus bilang apa?”


“Kejadian ini bisa sama dengan kejadian waktu kamu lahir. Yaitu dijebak. Sekarang kamu harus bertanggung jawab terhadap perempuan itu karena yang Papa lihat perempuan tersebut masih perawan.”


“Apa pun alasannya lebih baik aku mati daripada aku menikahi perempuan itu. Perempuan itu baru aku kenal Pa. Baru ketemu hari Sabtu itu, karena dia mahasiswa magang yang berurusan sama Made. Aku sama sekali nggak ada urusan sama dia.”


“Tapi dia perempuan baik-baik, kalau bukan perempuan baik-baik nggak mungkin dia masih virgin,” kata Angga.


“Bagaimana ada tetesan darah palsu. Wong jelas-jelas di zoom kok waktu kamu nembus dia video itu. Terlalu vulgar dan dibuat oleh orang yang pro. Jelas-jelas pertemuan dua alat itu di zoom. Kamu mau bilang apa? Mau bilang itu editan?”


“Sekarang Papa sama Mama harus ke mana mencari Ayu?”

__ADS_1


“Ayu ke mana Pa?”


“Sejak kamu pergi, mama dan eyang pergi. Dia juga pergi bawa travel bag. Kita nggak ada yang tahu. Dia bilang ke Pak Parman dia pergi ke tempat Sri tapi Sri nggak tahu. Kamu pikir dia masih mau lihat muka kamu setelah dia melihat dengan jelas apa yang kamu lakukan dengan perempuan lain?”


Mukti serasa ingin mati. Hancur sudah harapannya hidup bersama Ayya.


“Papa yakin Ayu tidak akan mungkin pulang ke Badung, karena itu gampang kamu lacak. Sekarang bisa bayangkan perempuan yang sedang sakit hati, nggak punya sanak saudara mau ke mana dia? Kamu bisa pikirin bagaimana pikiran mama dan Adelia yang sedang hamil? Papa sudah bilang sama Mas Sonny jangan sampai Adel tahu. Jangan sampai dia stress.”


“Apa Mas Sonny sudah tahu?” tanya Mukti sedih.


“Mas Sonny tahu langsung dari Ayu. Jadi ke mana pun kamu melangkah kamu tak ada harapan untuk kembali sama Ayu. Papa yakin dia nggak akan mungkin terima kamu apa pun alasannya. Jelas-jelas kamu mengkhianati dia. Jadi silakan kamu nikahi perempuan tersebut tapi jangan bawa Papa dan mama. Kami tidak terima perempuan tersebut apa pun alasannya.”

__ADS_1


“Dan apa pun alasannya walau dia hamil sekali pun. Aku tak akan mungkin menikahi perempuan itu. Kalau dia hamil anaknya akan aku pelihara. Terserah mau dipelihara aku atau dia atau aku beri santunan saja. Tapi tidak mungkin aku menikahi dia apa pun alasannya. Lebih baik Papa todong kan pistol di kening aku daripada aku harus menikahi perempuan tersebut yang jelas-jelas aku tidak kenal sama sekali.”


__ADS_2