
“Komang?” sapa Carlo senang melihat Komang Ayu ada di mall yang sama dengannya.
“Hai,” jawab Ayya juga senang.
‘Aku ada alasan ke mama mau mengobrol dengan Carlo,’ pikir Komang yang bete mengikuti kegemaran ibu-ibu belanja. 4 kerabat Vonny tentu sangat ingin belanja di Jakarta.
Carlo sedang berjalan bertiga dengan temannya. Satu orang lelaki dan satu orang artis baru yang sangat cantik.
“Kapan pulang?” kata Carlo.
“Besok pagi. Ini aku sedang bersama rombongan mamanya Bos. Kamu sibuk?” tanya Ayya.
“Enggak,” jawab Carlo.
“Kita ngobrol aja di sini sebentar bisa? Aku pamit dulu ke mamanya pak Mukti,” jelas Ayya. Tentu saja Carlo seperti kejatuhan ice cream coklat satu kontainer. Kalau kejatuhan duren kan sakit. Ice cream enak dan dingin he he he.
“Kak Carlo, ayo dong,” rengek artis tersebut saat Ayya menjauh ingin bicara pada rombongan Ambar.
“Gue tidak ngajak kamu kan? kamu yang minta ikut gue. Kenapa gue harus ikutin kamu?” tanya Carlo dengan ketus.
Artis baru tersebut menatap Ayya dengan sinis. Dia merasa lebih cantik dan lebih modis dari gadis sederhana itu.
“Kakak, elo ngapain sih ngomong sama dia?” protes artis cantik itu.
__ADS_1
“Eh mulutmu itu dijaga ya,” umpat Carlo.
“Dia lebih berharga dari kamu dan saya tidak peduli siapa kamu. Baru jadi artis nongol kemarin sore aja bertingkah. Kalau tidak karena kita satu judul sinetron gue tidak mau kok jalan sama kamu. Jadi tidak usah sok ngetop.”
“Gue tidak butuh kamu dan ingat jangan pernah belaga kamu itu pacar saya benar-benar di luar skenario. Karena kita hanya pacaran di judul tersebut.”
“Tidak usah kamu menempel saya terus biar media mengekspos bahwa kita pacaran beneran karena cinlok. Sorry cara cari nama saya bukan dengan cara sensasi seperti itu. Saya cari nama dengan prestasi bukan dengan sensasi,” ujar Carlo sambil menanti Ayya yang sedang pamit.
“Ma, Aku ketemu teman. Aku mengobrol sama dia aja sambil nunggu Mama dan tante Vonny belanja ya?” pinta Ayya.
“Kamu enggak apa apa?” tanya Vonny.
“Enggak apa apa Tante. Aku mengobrol sama teman aja mumpung ketemu. Besok kan aku sudah pulang ke Bali,” jawab Ayya.
“Iya Ma.” jawab Ayya plong. Dia senang tak perlu mengikuti orang belanja.
“Sudah?” tanya Carlo.
“Kamu mau belanja apa?” tanya Ayya.
“Enggak niat belanja. Aku cuma mengamati orang aja buat pendalaman watak,” jawab Carlo.
“Bagaimana kalau menemani aku belanja bahan buat bikin burger adik-adik aku?” ajak Ayya.
__ADS_1
“Siaaaaap,” balas Carlo senang. Dia tentu tak membuang kesempatan itu.
“Mama di mana?” Mukti menghubungi Ambar setelah mendapat kemarahan Ayya yang malah ‘merasa diejek’ olehnya dengan ucapan HAVE FUN.
“Di mall lah,” jawab Ambar.
“Ayu kemana Ma? Dia marah ke aku,” jawab Mukti.
“Kenapa marah?”
“Ayu paling benci menemani belanja di mall. Dia cerita awalnya cuma mau beli daging dan roti bahan burger. Koq malah dia diajak menemani muter-muter belanja. Dan tujuan utama dia malah akan dibeli paling belakang dengan alasan nanti dagingnya busuk kalau kelamaan. Dia langsung marah saat aku bilang have fun,” jawab Mukti putus asa.
“Dia tadi pamit mengobrol sama temannya yang artis itu,” jawab Ambar.
“Maksud Mama, Ayu berpisah sama Mama dan dia malah dengan Carlo?” pekik Mukti tak sadar dia sedang bersama adik-adiknya.
“Mungkin itu namanya. Pokoknya artis top itu. Yang kemarin datang di akad nikah juga di resepsi pernikahan mas Sonny.” jelas Ambar.
“Dia itu kandidat pacar Ayu Ma. Dia malah sudah menyatakan cinta ke Ayu sejak mereka bertemu yang kedua.”
“Maaf. Mama enggak tahu kalau Ayu benci shopping. Memang sejak di beritahu ke supermarketnya belakangan, dia langsung diam tak bicara apa pun,” sesal Ambar.
“Ya sudah ya Ma. Aku coba hun=bungi dia. Semoga dia mau terima telepon aku,” ucap Mukti. Dia jadi malas menemani para adiknya keliling Taman Mini Indonesia Indah.
__ADS_1
Sayang telepon Mukti sama sekali tak direspon Ayya sama sekali. Malah akhirnya Ayya mematikan ponselnya karena merasa terganggu.