CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
DIKUNTIT


__ADS_3

“Jadi itu alasanmu datang ke penutupan pameran?” tanya Mukti.


“Ya Mas. Aku sengaja ingin memberitahu siapa pun yang mendalangi tragedi yang Mas alami, saat itu kan belum ada video tentang aku. Aku ingin dia atau mereka tahu, aku tak mudah mereka tumbangkan!” jawab Ayya.


“Masih ada lagi yang mau dicari?” tanya Mukti saat mereka sedang di kasir.


“Sepertinya cukup sih Mas. Yang penting sudah ada semua yang aku butuhkan,” ucap Ayya.


“Makan siang dulu di luar ya?” ajak Mukti.


“Oke,” jawab Ayya, dia tak mau mengecewakan Mukti dan Ayya juga semakin sadar bahwa memang ada orang yang ingin memisahkan mereka berdua. Sama seperti alasan dia datang ke penutupan pameran maka sekarang dia pun bertekad seperti itu.


“Mas, mobil itu mengikuti kita sejak di ruas jalan keluar tol,” ucap Ayya melihat mobil sport kuning yang mencolok mata.


“Kamu tahu dari mana?” tanya Mukti.


“Pas keluar tol tadi, dia berada di sisi mobil kita, dia bukan dari tol jadi mungkin baru lihat kita. Coba Mas muter dulu,” pinta Ayya. Mukti pun mengikuti saran Ayya. Dia berputar dulu sebelum masuk resto.


“Mas bisa peluk aku sedikit erat dan cium pipi aku?” pinta Ayya berbisik sangat dekat di telinga Mukti sehingga terlihat sedang mencium pipi tunangannya.

__ADS_1


Tanpa bertanya Mukti pun langsung mencium kening Ayu dan merengkuhnya lebih dekat. Mereka berjalan masuk ke resto.


“Ada apa Yank?” tanya Mukti. Dia tahu pasti Ayya sedang ingin menunjukkan sesuatu.


“Orang di belakangku sebelah kiriku, kalau dari Mas sebelah kanan, beberapa kali aku lihat dengan Silvana. Kalau Silvana sekarang masih disembunyikan oleh timnya papa pasti orang itu juga nanti akan membuat foto kita dengan candid untuk Silvana atau untuk apa. Yang pasti aku tahu dia temannya Silvana.”


“Aku nggak tahu yang mana yang kamu tuju. Nanti kamu kasih tahu. Sekarang ayo kita terus masuk,” jawab Mukti.


Mukti dan Ayya hari itu makan siang bukan di resto besar mereka hanya makan di kedai kecil tapi menu seafood lengkap.


“Aku ingin capcay goreng dan fuyunghai tanpa nasi Mas,” kata Ayya.


“Eh jangan. Jangan … coret,” kata Mukti.


“Mas kwetiauw aja deh. Kwetiauw goreng seafood,” Mukti meralat pesanannya.


“Oke. Minumannya biasa kan?” kata Ayya.


“Ya minumannya biasa,” balas Mukti.

__ADS_1


“Mas perhatikan orang di belakang aku agak ke kanan. Lihat apakah dia pergi saat pelayan membuatkan pesanan kita. Aku takut dia membubuhkan sesuatu di makanan kita,” ucap Ayya was-was.


“Mas minta bodyguard-nya papa untuk jaga. Cepetan takutnya kita nanti pulang sudah di bawa ke tempat lain,” ucap Ayya parno. Mukti tak mau menyepelekan perkataan tunangannya.


“Wah Mas nggak kepikiran seperti itu,” ucap Mukti.


“Bisa aja kan terjadi?”


Mukti langsung menelpon papanya dengan bisik-bisik memberitahu lokasi mereka dengan sharelock dan mengatakan kecurigaan Ayya takut mereka dikerjain di rumah makan tersebut. Bukan rumah makannya yang ngerjain tapi orang yang bersama Silvana.


Ayya juga memberitahu Angga dan Ambar untuk berjaga-jaga.


“Yank, orang itu ke belakang saat waitress-nya bawa pesanan kita,” ucap Mukti memberi laporan pada Ayya yang memberlakangi orang tersebut.


“Mas pura-pura melihat handphone tapi sebenarnya merekam Mas. Jadi semuanya ada bukti,” ucap Ayya makin ketakutan.


“Biar nanti CCTV ruangan ini langsung dipegang oleh orangnya papa saja. Mereka sudah on the way kata papa,” jawab Mukti.


“Oke,” jawab Ayya.

__ADS_1


Bodyguard-nya Abu datang 40 menit kemudian. Tentu tak bisa instant karena mereka menempuh jarak yang cukup jauh. Saat itu makanan Ayya dan Mukti sudah datang.


__ADS_2