
Hari Rabu siang dari terminal Solo Ayya menuju Banyuwangi.
“Loooh aku salah meluncur ke sini, sangat salah!” Ayya bergumam dalam hatinya ketika menjejakan kakinya di tanah kelahiran ibunya tercinta.
“Mas Mukti pasti tahu dan pasti mencari aku di lingkungan keluarga ibu. nggak mungkin dia nggak cari ke sini,” ucap Mukti. Dia duduk di rumah makan seberang terminal. Dia makan sebelum cari hotel. Saat ini Rabu tengah malam, hampir nerganti tanggal menjadi hari Kamis.
Ayya langsung mencari hotel tidak ke rumah keluarga kakek dan neneknya. Ayya menginap di hotel kecil di Banyuwangi, dia tidak mampir ke rumah kakek neneknya. Di hotel Ayya berpikir ulang dia mau ke mana. Esok subuh rencananya dia akan ke makam kedua nenek dan kakeknya sekalian sarapan.
“Apa aku ke Jakarta ya? Tapi pasti Mas Mukti juga cari ke sana tak mungkin dia tidak memantau aku di sana,” kata Ayya lagi.
“Lalu aku harus ke mana?”
“Selain Mas Mukti pasti pakde dan bude Saino akan dapat kabar dari keluarganya kalau aku ada di sini karena pakde dan bude Saino satu kampung dengan ibu. Kalau pakde dan bude tahu pasti juga Mas Mukti akan tahu. Aku tak boleh tinggal di sini. Aku harus benar-benar menghilang.
Kamis pagi sehabis dari makam Ayya meninggalkan hotel tersebut lalu sejak itu SOSOK AYYA HILANG tak ada yang tahu dia di mana.
Hari Jumat pagi Ayya berada di ruang pameran. Di duduk di belakang Wayan dan Made yang sedang ngopi pagi.
__ADS_1
“Aku masih belum tahu,” kata Made saat Ayya baru datang dan duduk dibelakang mereka.
“Yang pasti semua sudah di tangan mas Sonny. Semoga aja segera terkuak. Kasihan Mukti sangat menderita setelah Komang hilang. Mamanya juga tak bisa dia ajak bicara lagi. Kemarin waktu papanya telepon, orang tua Mukti juga bilang percaya kalau kita dijebak. Tapi Komang kan enggak tahu? Lagian kalau mereka mau nikam Mukti, kenapa kirim video lewat nomor Komang? Artinya orang itu ingin Komang benci sama Mukti sehingga dia bisa mendekati Komang kan?” suara Made ini membuat Ayya tersedak.
‘Dijebak? Benci Mas Mukti? Jelas-jelas mereka bergelut naked koq dijebak?’
“Kenapa kamu juga dijebak? Kenapa kamu juga kenapa sama perempuan itu? Kalau dia hanya ingin hancurin Komang kenapa juga hancurin kamu?” tanya Wayan.
“Mungkin kalau ada satu perempuan lagi, kamu juga akan kena. Saat itu kan di meja itu hanya dua perempuan.”
“Iya juga ya. Sudahlah. Ayo, kita bersiap, Mukti sudah on the way. Dia akan di wawancara hari ini,” Wayan mengajak Made meninggalkan warung kopi itu. Dari jauh Ayya melihat Mukti yang berjalan terhuyung keluar dari mobilnya menuju ruang pameran. Ayya pun kembali ke penginapannya,
‘Dijebak? Pingsan semua? Apa itu sebabnya semua nomor ponsel mereka off. Jadi Made juga main perempuan selain Mas Mukti?’ pertanyaan itu terus berputar di benak Ayya sepanjang perjalanan menuju penginapannya pagi itu. Dia juga masih bingung ngapain dia balik ke Solo.
“Aku mau ngapain? Aku enggak betah diam. Aku harus ke mana dan bagaimana?” ujar Ayya setelah tiba di kamarnya. Dia bicara sendiri.
“Balik ke Badung? Toch enggak ada yang kenalin aku kalau kondisiku seperti ini. Tapi riskan bila ada apa-apa dengan mama dan mas Mukti.”
__ADS_1
“Itu bukannya pak Mukti? Tanya seorang gadis di belakang Ayya yang Ayya tak tahu siapa. Dai belum familiar dengan suara itu.
“Bener banget. Kenapa tuh?” jawab lawan bicaranya.
“Pingsan, dia pingsan,” balas suara pertama. Ayya langsung reflek berbalik. Dia lihat televisi rumah makan sedang menyiarkan Mukti yang pingsan saat sedang diwawancara.
Ayya lemas melihat tunangannya seperti itu.
“Waah enak tuh kalau kamu menikah dengan dia, ternyata dia anak sultan,” kata seorang gadis entah yang mana. Ayya terus menyimak. Rupanya dua gadis itu teman tidur yang dijebak. Karena yang satu tidur dengan Made.
Ayya juga mendengar mereka juga tak mau menikah dengan Made dan Mukti karena sama-sama tidak kenal sama sekali mereka butuh kekayaan. Ayya menuntaskan makannya, dia langsung menuju ke rumah sakit. Dia ingin lihat kondisi Mukti yang baru saja dibawa Made dan Wayan.
“Ups, aduh hampir saja,” kata Ayya. Dia berpapasan dengan Ambar yang untungnya tak mengenalinya. Walau kondisinya berbeda tapi Ayya tak mau memperlihatkan jati dirinya takut penyamarannya terlihat.
Saat itu dia melihat Ambar yang panik tak lama kemudian datang Abu disusul dengan Angga yang tergopoh-gopoh.
‘Rasanya aku pengen memapah eyang agar tidak terantuk dan jatuh menuju ke kamar Mas Mukti. Tapi nggak mungkin kan aku memapah? Bisa terlihat semua samaranku,’ batin Ayya. Dia hanya melihat dari pintu saat Angga dan Abu masuk. Diperhatikannya wajah tunangannya yang teramat pucat. Ayya juga mendengar apa yang Ambar katakan pada Abu bahwa denyut jantungnya Mukti sangat lemah.
__ADS_1