
“Wa’alaykum salam,” jawab Ambar dengan gemetar. Dia haru bercampur bahagia menerima telepon ini.
“Apa kabar Ma?” tanya suara di ujung sana. Tadi memang Ambar membalas salam yang dia sampaikan.
“Mama baik Sayang. Kamu bagaimana?” tanya Ambar dengan lembut tapi bergetar.
“Aku sehat. Mama nggak perlu khawatir. Ma, aku sengaja langsung telepon Mama karena nggak ingin nanti kalau melalui pesan dibaca oleh semua orang,” kata penelopon yang ternyata Ayya.
“Iya, ada apa Sayang?” tanya Ambar. Pada gadis seperti Ayya, tak bisa kita tekan. Dan sikap Ambar selama ini memang depensif. Tak pernah menyerang seperti Menur dan Vonny. Dia lebih banyak bertahan. Tapi bila waktunya tiba dia bisa lebih galak dari Vonny.
“Aku ingin ketemu Mama berdua. Hanya berdua. Enggak boleh ada yang tahu. Kalau Mama nggak bisa merahasiakan. Untuk selanjutnya aku nggak akan pernah mau lagi ketemu Mama,” ucap Ayya tegas. Dia tak ingin ada siapa pun tahu kalau dia bicara berdua Ambar.
“Iya bisa, bisa. Mama bisa,” sahut Ambar bahagia.
__ADS_1
“Oke. Kalau Mama memang bisa. Kita ketemunya besok siang Ma. Jam 10.00 pagi lah enggak siang banget. Mama mau ketemu di mana? Yang penting Mama benar-benar sendiri. Nggak ada yang tahu Mama ke mana dan sama siapa,” Ayya kembali menegaskan tak ada orang lain selain Ambar yang bertemu dengannya.
“Kalau begitu bagaimana kalau di cafe bank tempat Mama biasa ke sana? Sehingga tidak ada yang curiga. Mama akan bawa mobil sendiri. Nggak pakai sopir. Jadi dia juga nggak bisa lapor sama papa mama ke mana,” kata Ambar.
“Oke, jam 10.00 di jalan Sumoharjo, banknya Mama kan?” kata Ayya. Dia tahu bank tempat Ambar mendaftar. Karena pernah di beritahu saat mereka akan belanja dulu.
“Iya Sayang. Mama akan ke sana tepat waktu,” jawab Ambar.
“Oke kalau begitu. Terima kasih ya Ma. Assalamu’alaykum.”
‘Aku makin penasaran. Ada apa Carlo tiap hari menghubungiku? Mengapa Lukas malah tak pernah? Apa aku janjian saja dengan Lukas? Tapi kalau akhirnya malah ketemu dengan Carlo bagaimana?’
Akhirnya Ayya memutuskan dia bicara lebih dulu pada Ambar karena kalau dia langsung bicara dengan Mukti dia takut tidak kuat pertahanannya.
__ADS_1
“Kamu kenapa?” tanya penanggung jawab rumah makan tempat Ayya bekerja melihat Ayya menghampiri dia di meja kerjanya.
“Besok saya izin satu hari. Saya ada keperluan,” pamit Ayya.
“Kamu mau izin 10 hari juga nggak apa-apa kok,” kata penanggung jawab rumah makan dengan santai.
“Tidak Bu. Besok saya ada keperluan jadi hanya satu hari besok saja. Lusa saya masuk kok,” jawab Ayya.
“Lusa masuk bagaimana? Memangnya sejak kapan rumah makan buka hari Sabtu?”
Memangnya tempat makan di mana Ayya bekerja tutup di hari Sabtu dan Minggu.
“Eh saya lupa besok hari Jumat ya? Aduh saya janjian jam 10.00. Nggak apa-apa sih sama perempuan jadi nggak ganggu waktu jumatan,” kata Ayya yang lupa kalau saat ini hari Kamis.
__ADS_1
“Ya sudah, kamu kembali lagi ke pekerjaanmu. Tentu banyak pesanan saat makan siang seperti sekarang.”
“Ya Bu. Terima kasih,” jawab Ayya.