
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
Mukti masih bingung akan hubungan mama dan papanya. Ditambah sekarang eyang putrinya sakit tentu papanya tambah drop. Mukti tak ingin papanya sakit. Tapi dia yakin tak mungkin Papanya tak sakit.
Mukti yakin hati papanya sedang terluka akan keputusan sang mama yang minta break 1 tahun, dan repotnya lagi sehabis break satu tahun itu, belum pasti mereka akan balikan. Bisa saja sehabis 1 tahun break mereka lalu berpisah selamanya.
‘*Gimana caranya ya nolongin papa? Aku harus berbuat apa*?’ pikir Mukti. Dia tahu semua awal persoalan terjadi karena kelahiran dirinya! Jadi dia tak bisa tak peduli. Walau kelahirannya bukan kemauan dia, tapi persoalannya dengan Vio juga menyumbang banyak luka. Menambah benang semakin ruwet.
‘*Aku tak bisa minta Aksa berkolaborasi membuat papa dan mama rujuk kembali. Aksa sudah jelas sangat membenci diriku*,’ batin Mukti.
‘*Papa kan nggak pernah perhatian sama aku. Anak Papa cuma mas Mukti aja. Bukan aku dan Mas Sonny. Kami berdua bukan anak papa*.’
‘*Papa enggak pernah tahu kapan aku pertandingan futsal. Apa Papa tahu kapan jadwal aku ujian semester sebelum ini? Apa Papa tahu berapa nilai hasil ujianku? Enggak pernah kan? Tapi Papa tahu kapan mas Mukti pameran. Papa tahu kapan mas Mukti pergi ke Surabaya. Papa bahkan tahu kapan Mas Mukti harus memperpanjang STNK mobilnya dan mengingatkannya*!’
\*‘Semua Papa tahu kalau soal mas Mukti tapi soal aku dan Mas Sony Papa tak peduli karena kami bukan anak Papa!’ \*
‘*Selama ini Papa nggak peduli sama aku walau Papa ada di rumah. Papa tak perlu izin untuk pergi. Aku bukan anak Papa. Setidaknya tak pernah ada aku dan mas Sonny dihati dan pikiran Papa*.’
Mukti ingat mendengar kata-kata Aksa saat itu. Semua kata-kata adiknya. Dan itu memang KEBENARAN, sehingga papanya tak membantah. Bahkan Mukti berani membela Vio karena yakin Abu pasti akan berpihak padanya seperti yang selama ini Abu lakukan untuknya!
Aksa dan Sony bukan anak Abu, itu pikiran Aksa tentang papa mereka. Tentu saja hal ini sangat membuat Mukti terpuruk mengetahui adik kecilnya aja sudah sadar bagaimana perilaku papanya yang membedakan antara dirinya dan Mas Sonny serta adik Aksa.
Dan jahatnya lagi, Mukti sering memanfaatkan perilaku papanya untuk kepentingannya seperti saat diaa minta digagalkan nya pernikahan Vio dan Sonny.
__ADS_1
‘*Aku sangat jahat. Aku tak pantas hidup di keluarga sebaik keluarga Lukito*,’ batin Mukti.
Mukti melihat perawat masuk untuk mengganti infus eyang Menur.
“Bagaimana hasil pemeriksaan sekarang suster?” tanya Mukti.
“Masih belum ada perkembangan banyak Pak. Semoga aja besok pagi dokter bisa memberi putusan yang tepat, apa yang harus dilakukan lagi untuk membuat Ibu Menur cepat pulih.” jawab suster sambil membereskan botol infus bekas.
“Aamiiin. Terima kasih suster,” Mukti menyampaikan rasa terima kasih karena suster datang saat dia tak memperhatikan sisa cairan di botol infus.
“Bapak jaga sendiri?” tanya suster.
“Tidak. Kami bertiga cuma papa dan eyang kakung sedang ke mushola,” balas Mukti.
“Iya suster, sekali lagi terima kasih.”
Tak lama Abu dan Airlangga masuk.
“Kok infusnya sudah penuh lagi Mukti?” tanya Airlangga, seharusnya pertanyan ini tak perlu terucap dan tak perlu dijawab karena pasti suster kan yang ganti?
“Iya Eyang, barusan aja diganti karena tinggal sedikit banget,” jawab Mukti.
__ADS_1
“Tadi sebelum keluar Eyang ingat mau tinggalin pesan soal isi infus ke kamu. Eh pas pergi malah lupa, Eyang ingat saat sudah di depan ruang perawat maka begitu masuk langsung liat botol infus,” Angga atau Erlangga rupanya tadi sudah akan minta ganti tapi lupa.
“Susternya mungkin pakai timer. Jadi pas habis, susternya datang tanpa aku panggil Eyang,” jawab Mukti.
“Baguslah, sudah kalian istirahat saja,” perintah Airlangga pada anak dan cucunya.
“Bukan kami eyang, Tapi kita semua yang harus istirahat. Agar kita juga tidak ikutan sakit,” bantah Mukti.
“Iya Pa, Mukti benar. Kita semua harus istirahat. Terlebih Papa. Jangan sampai Papa juga ikutan sakit,” kata Abu pada Airlangga.
“Papa tidur aja di bed yang buat penunggu, biar aku sama Mukti yang di sofa.” kata Abu.
“Baiklah.”
“Nanti kalau eyang putri bangun juga pasti salah satu dari kita dengar kok. Eyang tenang aja,” kata Mukti menenangkan Airlangga.
“Iya semoga begitu. Semoga dia cepat sadar,” kata Airlangga.
Mereka akhirnya tertidur, Mukti dan Abu bukan hanya lelah fisik tapi juga lelah psikisnya.
Bagaimana Abu tidak lelah? Dia baru saja mendapat keputusan dari Ambar satu-satunya perempuan yang ada di hatinya sejak mereka SMA. Ambar minta untuk break 1 tahun itu bukan hal yang main-main.
Kalau tak malu pada Mukti , ingin rasanya Abu menjerit sekeras-kerasnya untuk menghilangkan beban dalam hatinya.
\*\*\*
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK yok