CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
BUAT BELI PULAU


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Pagi ini yang ikut sarapan sudah banyak berkurang Adelia memanggil Komang Ayu di belakang


“Iya Bu,” Komang Ayu segera menghampiri Adelia yang memanggilnya.


“Kamu makan bareng kami, jangan di belakang. Kemarin saya biarkan karena masih banyak tamu sehingga meja makan juga kurang. Kalau sekarang sudah enggak. Kamu harus makan bareng kami,” Adelia memberi perintah kepada Komang Ayu.


“Baik Bu,” jawab Komah Ayu dengan ragu. Dia takut kesalahan.


“Enggak perlu takut,” kata Ambar dengan lembut.


“Kita semua di sini sama. Bahkan di rumah kami pun di Bali dulu seperti itu. Tidak ada perbedaan.”


“Lebih-lebih kamu asistennya Mukti. Jadi harus sarapan atau makan bareng bersama kami,” kata Ambar.


“Baik Bu,” jawab Komang.


Mukti tak peduli tentang apa yang diminta oleh kakak iparnya mau pun dengan Ambar mamanya.


“Mama, Papa, urusan pengadilan sudah selesai kan? Nanti malam habis selesai membuat konsep undangan pernikahannya Kak Adel sama Mas Sonny,  aku dan Ayu langsung pulang ke Solo ya. Karena pekerjaanku banyak di Solo.”


‘Ayu?’ batin Adelia mendengar panggilan spesial Mukti buat Komang Ayu. Dia tambah yakin Mukti tak hanya sekadar mempekerjakan Komang Ayu.


“Lho kan kita mau lamaran,” protes Sonny.


“Lamaran masih 2 minggu lagi kan Mas? Masa selama 2 minggu aku ngikutin kalian terus? Aku harus kerja ini, di uber-uber sama tim aku di Solo,” jelas Mukti berargumen.

__ADS_1


“Oh iya Ma rumah, baru sudah bisa dipakai belum?” tanya Mukti.


“Kenapa?” tanya Ambar.


“Kalau sudah bisa dipakai nanti Komang Ayu biar masuk di rumah baru sama bu Parman. Aku kan di rumah lama.”


“Enggak mungkin kan kita masukin Ayu di rumah lama. Enggak ada kamar. Walau pun Mama, Papa Dan Eyang masih di sini tapi aku enggak mau sorotan orang.”


“Kayanya kalau kamar yang belakang sudah rapi kok. Sudah bisa dipakai,” jawab Ambar.


“Ya sudah nanti Mama kasih tahu ibu dan pak Parman, jadi enggak tiba-tiba aku bawa orang nanti mereka kaget,” pinta Mukti.


“Memang kamu mau berangkat kapan?” tanya Abu.


“Kenapa Pa?”


“Besok pagi juga Papa, Eyang, dan Mama kembali ke Solo kok.”


 ”Oh ya sudah kalau gitu bareng aja. Nanti Aku yang beli tiket kita semua,” ujar Mukti.


“Seperti kamu bilang tadi, masih ada dua minggu kasihan Aksa sudah kelamaan ditinggal. Lumayan kan selama 2 minggu besok dia enggak sendirian. Persiapan di sini bisa dibicarakan vi zoom tiap malam. Enggak harus Mama di sini nungguin Sonny,” jelas Ambar.


“Aku juga mau balik dulu  ke Jogja kok Ma, tapi masih 3 hari lagi bukan besok,” jelas  kata Sonny.


“Yaaah, aku sepi dong sendirian,” keluh Vonny.


“Aalah selama ini kami di sini juga kalian pada kerja kok, kami ditinggal terus,” protes Abu.


Sjahrir tertawa terbahak-bahak mendengar protes sahabatnya. Memang benar walau pun sahabat dan calon menantunya ada di rumah mereka tetap aja ditinggal bekerja.


“Tapi kan dua minggu lagi rame karena Laksmi juga datang kan.” ucap Ambar.

__ADS_1


“Iyalah Laksmi juga datang,” kata Ambar. Untuk acara lamaran pertunangan dan pernikahan memang Ambar dan Vonny memang sudah meng-arrange Laksmi juga hadir.


“Berarti besok pagi ya Pa, nanti aku yang pesankan tiket Eyang, Papa dan Mama aja sekalian,” Mukti memastikan lagi.


“Oke,” jawab Abu.


“Habis sarapan aku pergi dulu ya,” jawab Mukti.


“Kalian mau ke mana?” tanya Sonny.


“Mengurus kerjaan Mas, sekalian nyelesain desain undangan pernikahan kalian. Nanti aku bikinkan beberapa yang bisa Mas pilih.”


“Mas enggak mau pilih kok, yang milih ibu negara karena belum tentu pilihan Mas cocok,” jawab Sonny.


“Ya sudah pokoknya gitu, aku akan bikinkan 4 atau 5 pilihan tinggal kalian tentukan yang mana. Nanti aku kasih di email kalian aja,” jelas Mukti.


“Ya sip,” Adelia setuju.


“Jangan lupa ya bayarannya. Ini profesional, bukan adik ipar,” semuanya terbahak-bahak mendengar perkataan Mukti. Bahkan  eyang Angga sampai tersedak karena ketawanya pada saat mulutnya penuh.


“Kamu tuh bikin Eyang sampai tersedak seperti itu,” tegur Abu.


“Lagian Eyang aneh kayak gitu aja ketawanya enggak kira-kira. Aku serius Eyang lumayan kan bayarannya bisa buat beli pulau,” kata Mukti.


“Ya Allah, desain undangan pernikahan aja bisa beli pulau. Bagaimana kalau order lain ya?” goda Sjahrir.


“Order lain malah cuma buat jajan cendol Om Ariel,”  Mukti membalas godaan Ariel.


“Kalian ini memang paling-paling,” Sjahrir tentu makin tertawa. Akhirnya  mereka kembali berbincang hangat sambil sarapan pagi itu. Mereka lupa baru saja kehilangan salah satu anggota keluarga yaitu Prilly. Tapi Prilly memang sudah lama tidak ada dalam kehidupan mereka jadi kepergiannya memang tidak membekas.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~

__ADS_1


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY yok



__ADS_2