
“Sudah Mas?” tanya Ayya dengan lembut.
“Sudah Yank, ayo kita balik,” kata Mukti sambil mengulurkan tangannya untuk Ayya pegang saat akan berdiri. Mukti mengajak Ayya pulang.
“Kak Lingga kami duluan ya,” pamit Ayya.
“Ayo Mbak kami duluan,” kata Ayya pada semuanya.
“Oh iya silakan,” jawab Lingga dan dua temannya.
“Memang kita udah bayar Mas?” bisik Ayya saat mereka meninggalkan meja tersebut.
“Barusan Mas itu bayar ke kasirnya langsung, sekalian apa yang mereka makan. Nggak enak kalau ribut di depan petugas saat kita manggil pramusaji pasti mereka akan gengsi. Jadi lebih baik Mas langsung samperin meja kasir aja,” kata Mukti santai.
“Alhamdulillah akhirnya sampai rumah juga,” kata Mukti. Rumah buat Mukti adalah studionya. Di sini cinta jiwanya tertanam.
Ayya hendak menurunkan travel bag-nya, tapi Mukti bilang nggak usah biar dia yang turunkan semuanya. Termasuk beberapa barang dari Denpasar yang tadi Mukti bawa.
“Mbak Komang apa khabar Mbak?” sapa bu Pinem sambil mengulurkan tangan.
“Baik Bu. Ibu apa kabar? Bagaimana Menik?” tanya Ayya ramah sambil menerima uluran tangan asisten rumah tangga Mukti tersebut.
“Kami semua sehat kok Mbak,” kata Pinem.
“Tanaman aku disiramkan selama aku pergi?” tanya Ayya.
__ADS_1
“Iya Mbak saya siram terus kok. Sama Bu Ikhlas juga sering disiram takut kalau pohonnya pada mati,” jawab bu Pinem selanjutnya,
“Dan rumputnya sekarang sudah mulai penuh Mbak. Hampir satu halaman belakang itu sudah mulai ditumbuhi rumput,” kata bu Pinem bersemangat.
“Yang benar Bu?” kata Ayya. Dia sangat penasaran dan langsung lari ke belakang. Benar saja halaman belakang sudah mulai hijau, tidak gersang lagi tentu saja itu membuat Ayya tambah senang.
“Besok aku mau bikin foto dan aku kirim ke Mama,” kata Ayya.
Ayya ingin memperlihatkan hasil pekerjaannya selama di Uluwatu.
“Ada apa Yank?” tanya Mukti.
“Nggak apa-apa. Cuma rumput halaman belakang sudah mulai tumbuh. Karena pas mau berangkat aku memang pesan supaya selalu disiram,” ujar Ayya bahagia.
“Ya bahagialah karena apa yang kita tanam berhasil tumbuh,” jawab Ayya dengan mata berbinar.
‘Kebahagiaan buatmu itu sangat sederhana ya Yank, bukan dapat segenggam berlian atau deposito yang ratusan juta. Hanya karena rumput tumbuh kamu sudah sangat bahagia seperti itu. Kamu memang langka,’ kata Mukti melihat kebahagiaan yang hakiki di wajahnya Ayya.
‘Dulu aku memberikan semua yang Vio minta seharga hampir 300 juta, bahkan aku juga meninggali uang 100 juta buat Vio selama aku kami tidak bersama, tak ada pancaran bahagia seperti bahagia yang ada di wajahmu saat ini. Padahal rumput itu kamu beli sendiri dengan uangmu. Aku sangat berharap kamu jadi istri dan ibu anak-anak aku,’ kata Mukti dengan penuh harap.
Mukti meletakkan travel bag-nya Ayya ke kamar gadis itu. Yang punya dirinya, dia letakkan langsung di kamarnya.
“Mas serius nggak mau kerja malam ini?” tanya Ayya.
“Kamu mau bikinin apa?” tanya Mukti. Dia tahu tujuan Ayya bertanya karena ingin mengolah sesuatu.
__ADS_1
“Aku sih nggak lihat apa-apa. Cuma ada bahan bihun goreng aja. Sayuran ada, isinya juga ada. Bihunnya ada yang lainnya nggak ada sama sekali.”
“Hari ini belum dulu deh. Aku mau mengolah data dulu,” kata Mukti.
“Oh ya sudah kalau begitu. Berarti aku mau bikin daftar yang perlu dibelanjain aja,” kata Ayya.
“Yank jangan lupa lusa kita ke pengadilan,” ucap Mukti ketika dia membawa baju kotor untuk di taruh di bak cuci belakang.
“Iya, sudah aku lihat kok daftarnya. Lusa kita ke pengadilan. Besok kita masih bisa istirahat maksudnya tidak keluar rumah,” jawab Ayya.
“Iya besok kita berbenah yang masih ada di sini. Data yang dari cabang Gianyar dan Badung kita tunggu. lalu kita olah untuk berangkat ke Solo,” Mukti menyebutkan besok masih bergelut dengan data. Belum dengan bahan.
“Terus kamu kapan mau ke Badung ke rumah papa?” tanya Mukti selanjutnya.
“Ya nunggu Mas lah, katanya harus dianterin? Ya aku nunggu aja,” jawab Ayya santai. Tak ada lagi ketakutan bila Wayan akan bertemu dengan Mukti.
“Atau lusa sehabis dari pengadilan kita ke tempat papa? Nggak perlu nginep kan?” kata Ayya memberi tawaran.
“Kayak gitu aja bagus, habis pengadilan kita ke tempat papa,” kata Mukti.
“Baik, nanti aku kabarin papa biar dia nggak ke mana-mana. Kita ke sana paling siang habis makan siang atau sore kan?”
“Mungkin selesai sidang jam segitu lah.” jawab Mukti.
“Ya udah besok aku kabarin papa. Kalau malam gini kasihan dia sudah tidur,” jawab Ayya.
__ADS_1