
“Beneran maunya yang itu?” tanya Mukti meMastikan saat Ayya memilih cincin sederhana dengan batu permata. Tadi memang sengsaja Mukti minta diambilkan cincin nikah perak yang ada permatanya bukan yang sekadar polos karena kalau hanya perak belaka tentu harganya tak terlalu mahal. Mukti tak ingin istrinya menggunakan cincin yang kurang ada harganya.
“Kalau pakai batu begini apa nggak copot Mas? Aku takutnya copot, lalu hilang permatanya,” begitu tadi sebelum Ayya memutuskan cincin yang sekarang Mukti pegang.
“Enggak lah, yang membuat cincinnya tentu nggak berani macam-macam dengan harga batu yang banyak ragamnya ini, pasti ikatannya dibuat hati-hati agar tak mudah copot,” jawab Mukti dengan tersenyum. Lelaki itu sangat bahagia. Ini pertama kali dia memilih cincin pernikahan. Dengan Vio tanpa cincin sama sekali. Saat akad nikah siri Mukti hanya memakaikan cincin Vio yang lama, yang sebelum bertemu penghulu sudah dilepas karena mereka menikah dadakan. Hanya agar Mukti terhindar dari zina saja. Mas kawin dulu uang cash di dompet Mukti sebesar rp 1.100.000.
“Kalau begitu aku pilih yang itu saja,” kata Ayya. dia tidak memilih yang bentuknya macam-macam, gadis itu memilih bentuk yang sangat sederhana sesuai dengan kepribadiannya. dia juga tak memilih yang lebih mahal. dia memilih karena menyukai bentuknya, bukan karena harganya.
Mukti pun membayar cincin pilihan calon istrinya tersebut.
Tadi mereka berangkat dari Solo sejak habis salat subuh, lalu tiba di stasiun Tugu, mereka makan dulu di soto Gareng depan stasiun. murah meriah tapinya maknyus, itu yang Mukti sukai.
__ADS_1
Yang makan di soto gareng depan stasiun Tugu ini juga terlihat bukan hanya warga sekitar, karena plat mobil yang parkir di sana banyak dari luar kota. Bahkan ada beberapa yang dari luar pulau.
Mukti minta soto ayam dengan nasi dipisah, sedang Ayya memesan soto ayam saja tanpa nasi dengan kuah sedikit. Tentu saja mereka minta tambahan kepala dan ceker kegemaran mereka. Memang harganya pasti beda tapi itu kesenangan mereka.
Yang mereka suka, pagi ini mereka puas makan sate telur ayam muda atau uritan atau puritan yang memang tersedia di meja. Tentu saja mereka makan dengan membuat foto, hanya tak mereka kirim saat ini karena akan membuat Sonny dan Adelia marah bila tahu keduanya ke Jogja tapi tak mampir atau ketemuan.
Itu tadi cerita sarapan saat sebelum mereka ke Kota gede sekarang mereka tentu sedang di Kota gede dan sudah selesai membeli cincin pernikahan yang mereka inginkan.
“Sekarang kamu mau ke mana lagi?” tanya Mukti.
__ADS_1
“Nggak ingin ke mana-mana sih Mas. Ke Jogja cuma ingin beli cincin saja,” kata Ayya.
“Kalau begitu sebelum pulang kita ke Keraton yuk? Kamu kan waktu itu belum jadi masuk ke Keraton karena hari Senin Keraton tutup,” ajak Mukti.
“Ayook,” jawab Ayya, dari Kota gede Mukti membawa Ayya naik taksi online menuju Keraton Jogja.
Ayu terkagum-kagum melihat pemandangan di dalam Keraton. Mereka banyak membuat foto-foto di sana baik foto sendiri masing-masing, foto selfie berdua maupun minta bantuan sesama pengunjung sehingga mereka ada foto berdua yang utuh.
Puas melihat Keraton Jogja Ayya minta langsung pulang. dia tak enak kalau pergi lama-lama tanpa izin seperti ini. Kalau izin dia tentu tak takut. Ayya merasa seperti pencuri, takut ketahuan.
Mukti tak menyangka perjalanan cintanya akan menuju titik yang dia harapkan ini. dia ingat wajah pias Ayya ketika diberitakan ibunya meninggal. Itu pertama kali Mukti melihat wajah Ayya. Saat itu juga Mukti langsung jatuh cinta tapi tentu dia tepis karena masih sakit dengan pengkhianatan Vio. dia masih tak mau jatuh cinta pada perempuan. Satu-satunya perempuan yang pernah dia cintai malah mengkhianatinya, bukan berkhianat dengan laki-laki lain tetapi berkhianat terhadap keluarga Mukti. Keluarga yang membuat dia bisa bertahan hidup, padahal dia bukan siapa-siapanya keluarga Lukito.
__ADS_1
Mukti memeluk bahu Ayya, gadis itu sudah tertidur dalam kereta menuju ke Solo. Padahal sebelum pertemuan pertama kala Ayya menjerit saat mendengar khabar ibunya meninggal, Ayya sering melayani rombongan Mukti. Karena itu mereka selalu minta kopi buatan Ayya dipertemuan berikutnya.