CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
AWAL PERSIDANGAN VIO


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


"Sidang akan berlangsung  jam berapa? Di undanganku jam 10. Apa ada perubahan?” tanya Mukti pada kakak yang menghubungi pagi.


“Enggak ada perubahan koq,” jawab Sonny


“Lusa aku datang langsung ke pengadilan aja ya Mas. Aku masih ribet hari ini dan besok. Belum bisa ninggalin pangkalan,” jawab Mukti.


“Ha ha ha kaya jualan minyak wae pakai istilah pangkalan. Ya Wis Mamas tunggu. Kita menginap di rumah om Ariel. Mas berangkat besok,” balas Sonny.


“Oke, kita langsung ketemu di sana,” Mukti segera menyudahi pembicaraan. Dia sedang banyak urusan di departemen pariwisata mengenai proyek yang akan digelar di Solo.


‘Aku boarding Mas,’ Mukti mengirim pesan pada Sonny saat akan terbang ke Jakarta dari Bali. Tak menunggu balasan, Mukti langsung mematikan ponselnya.


"Sudah lama?" Mukti mendengar kakaknya bertanya saat dia menghampirinya di cafe pengadilan tempat sidang mereka akan digelar.


"Baru tuh taksinya baru jalan," jawab Mukti. Dia membawa ransel baju gantinya.


"Oh aku pikir kamu sudah lama. Mau taruh dulu ranselmu di mobil atau kita bawa?" Tanya Sonny memberi attensi. Karena memang Mukti membawa ransel baju ganti. Mereka sudah tak punya rumah di Jakarta sehingga tak ada lagi pakaian ganti cadangan seperti dulu.

__ADS_1


"Bawa saja lah, enggak merepotkan juga koq." Mukti tak merasa keberatan membawa ransel miliknya.


"Mas, aku boleh tanya,"  kata Mukti yang tidak hanya ngopi tapi juga sekalian sarapan karena dari Bali dia belum sarapan dan tak ingin makan di pesawat.


"Silakan aja," jawab Sonny santai. Mereka sejak dulu memang selalu terbuka, kecuali soal wanita.


"Dulu perasaan Mas terhadap Vio bagaimana?" tanya Mukti.


"Jujur aku suka Vio. Ini karena kamu tanya, maka aku menjawab dengan jujur."


"Tapi bukan cinta! Aku mikir aku harus punya pendamping yang polos tidak matre dan enggak neko-neko. Semua itu ada pada sosok Vio secara casing."


"Secara casing dia memang terlihat polos, enggak neko-neko dan enggak matre. Jadi penilaianmu enggak salah Mas," Mukti membenarkan pendapat Sonny.


"Aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya, ketika kemarin aku sadar ternyata aku sudah jatuh cinta teramat lama cuma aku pendam karena aku tidak ingin melakukan perselingkuhan."


"Maksudnya bagaimana Mas?" Mukti tak mengerti apa yang kakaknya bicarakan.


"Ingat waktu aku pinjam mobil sportmu  buat seorang konsumen rental?"


"Ingat," jawab Mukti.

__ADS_1


"Saat itu yang pinjam adalah Adelia. Di situ aku jatuh cinta sama dia. Tapi aku sadar diri aku punya tunangan, aku tak mau selingkuh. Tapi rasa cinta itu teramat besar."


"Sampai waktu Adelia ngambek aku merasa seperti tenggelam dalam kubur!"


"Bahkan untuk mendapatkan maaf atau sekadar tahu alasan mengapa dia membatalkan sewa mobil saja aku sampai membeli tiket ke Jakarta yang bersebelahan dengannya!"


"Demikian besar cintaku  padanya. Cinta pertama kali pada seorang perempuan."


"Makin ke sini aku makin mencintai terlebih setelah aku tahu penghianatan Vio. Tapi aku menutup diriku."


"Aku takut rasa cintaku pada Adelia adalah pelarian karena kegagalanku dengan Vio."


"Aku kubur semuanya sampai aku bisa memastikan bahwa ini bukan pelarian karena aku tak pernah cinta pada Vio, sehingga rasa cinta pada Adelia sama sekali bukan pelarian. Sejak itu baru aku berani maju."


"Aku juga mempertimbangkan kegagalan yang dialami oleh Adelia. Dia baru terluka karena kegagalan pernikahannya. Sehingga aku menunggu timing yang tepat." Sonny menyeruput kopi miliknya.


"Kalau kamu sendiri bagaimana?" Tanya Sonny.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ yok

__ADS_1



__ADS_2