CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
SHOW UP DI DEPAN ARJUN


__ADS_3

 ”Sri,” panggil Mukti pada Sri. Ayya masih bicara dengan Aksa dan Fahri. Entah di mana Farhan saat itu.


“Ya Pak,” jawab Sri.


“Kalau saya sedang enggak ada di sebelah Komang, kamu jaga dia. Jangan boleh dia berdekatan dengan lelaki lain. Mengerti kamu?” kata Mukti memberi pemerintah pada Sri untuk menjadi tangan kanannya.


“Saya tak mungkin bisa 100% menjaga dia karena saya pasti bertugas wira-wiri ngurusin tamu. Kamu jaga dia jangan pernah satu kali pun boleh berduaan dengan lelaki lain. Kalau ada lelaki lain harus dengan kamu.”


“Iya Pak saya mengerti,” kata Sri.


‘Ya ampun seposesif itu dia pada Komang,’ Sri hanya berani berucap dalam hatinya sendiri. Sekarang di pundaknya ada amanat yang sangat berat untuk menjaga Komang jangan sampai bisa berdua dengan siapa pun. Sri akan menjalankan perintah Mukti.


Mukti melihat banyak teman S2 Sonny yang datang dan salah satunya adalah perempuan yang mengejar Sonny sejak dulu. Mukti tak ingin pernikahan kakaknya menjadi berantakan gara-gara kecemburuan Adelia.


Mukti mendekati seorang temannya Sonny yang dia kenal saat mereka masih kuliah di luar negeri dulu.


"Jangan main-main dengan Sonny dan membuat Adelia cemburu atau marah bila tak ingin langsung bubrah," bisik Mukti pada seorang teman Sonny yang sudah dia kenal sejak dulu.


Tentu saja temannya Sonny langsung memberitahu pada semuanya agar jangan berbuat macam-macam kalau enggak ingin masuk kuburan!


“Yang lagi ngobrol asik banget sih,” kata Mukti sambil memeluk pinggang Ayya di depan Sri.


“Ini lho Mas, Sri ini lagi minta carikan kerja buat dia,” jawab Ayya.


“Kerjaan model apa? Memang di cafe kenapa?” kata Mukti.

__ADS_1


“Dia pengin kerjaan seperti aku. Yang tidak perlu bayar kost dan mikirin biaya makan. Jadi uang gajinya bisa langsung dia simpan buat orang tuanya.”


“Kalian ini kerja buat orang tua ya bukan buat diri sendiri,” kata Mukti.


“Orang tua kami dulu juga mencari makan buat kami Pak. Jadi wajar kalau sekarang kami cari uang buat mereka,” kata Sri.


“Tapi dia tidak mau kerja di Bali karena jauh dari Pulau Jawa. Dia kepengennya yang ada di Jawa Tengah aja biar kalau ada apa-apa dia dekat dengan orang tuanya,” jelas Ayya.


“Kamu tamatan apa?” tanya Mukti.


“Saya SMK tata boga karena itu saya kerja di cafe.”


“Kalau di Surabaya bagaimana? Tapi akan saya upayakan di Solo.”


“Di Surabaya masih bisa naik bus bila sewaktu-waktu harus kembali ke Cilacap Pak. Jadi enggak apa apa kalau ada pekerjaan di Surabaya,” jawab Sri.


"Ada lah Mas."


"Ya sudah, kita bicarakan kalau sudah selesai kegiatan ini. Sekarang kalian makan saja dulu." Mukti hendak meninggalkan dua gadis itu. Tapi batal melihat Arjun mendatangi Ayya.


‘Baru mau aku tinggal, malah dia menghampiri,’ batin Mukti.


“Komang,” sapa Arjun.


“Hai Jun kok sudah ada di Jakarta lagi? Bukannya semalam kamu habis acara anniversary pernikahan kedua orang tuamu?” Ayya sengaja merinci hal itu gar Mukti tahu kebenaran info yang dia punya.

__ADS_1


 Iya betul semalam memang aku habis pesta untuk pernikahan kedua orang tuaku. Itu sebabnya orang tuaku tak bisa hadir di pesta ini karena masih banyak keluarga yang menginap di rumah. Jadi aku mewakili papaku untuk datang ke resepsi ini. Papaku dapat undangan sebagai sesama pengusaha dari pak Abu,” jelas Arjun.


 ”Undangannya dari pak Abu ya bukan dari Pak Sonny,” kata Ayya.


“Bukan, bukan dari Pak Sonny, tapi dari pak Abu,” jawab Arjun.


“Kenalkan ini teman aku waktu kerja di cafe, namanya Sri,” Komang memperkenalkan Arjun dan Sri.


“Yank, kayaknya kamu makan duluan deh sama Sri. Mas masih mau urus tamu yang lain,” bisik Mukti kepada Komang Ayu tapi tak pelan, jadi jelas Sri dan Arjun jelas mendengar. Sengaja Mukti bicara seperti itu di depan Arjun.


"Mas enggak makan bareng aja?” tanya Ayya.


“Aku makan bareng  Mas aja ya nanti,” jawab Ayya lagi.


“Aku masih kenyang makan kue dari Mas tadi,” tolak Ayya.


“Sri kamu bolak-balik ingetin dia buat ganjel perut baik dengan puding maupun dengan snack, kalau dia belum mau makan nasi. Kamu makan duluan aja Sri. Enggak usah nemenin dia makan. Yang penting dia enggak boleh perutnya kosong,” kata Mukti pada Sri.


“Iya Pak, saya akan ingetin dia ngemil terus. Memang dia suka males kalau untuk makan sejak di cafe saya sadar itu,” kata Sri.


“Ayo Arjun saya tinggal ya,” pamit Mukti, tetapi telapak tangannya langsung digenggam oleh Ayya. gadis itu tak mau ditinggalkan berdua dengan Arjun.


Ayya merasa Mukti sengaja memberi peluang dia ada Arjun bicara tapi Ayya yang tidak mau. Untuk itu Ayya langsung menggamit jemarinya Mukti supaya tidak meninggalkan dirinya.


Mukti memandang tangannya yang digenggam erat oleh Ayya. Dia rasakan ada getar ketakutaan disana.

__ADS_1


“Mas nemuin temen Mas Sonny dulu ya Sayank. Sebentar aja,” di depan Arjun dan Sri, Mukti sengaja mengecup pipi Ayya lalu dia meninggalkan sambil menepuk lengan atasnya pelan.


“Sebentar aja kok,” Ayya pun mengangguk. Tak mungkin dia ngotot ikut Mukti bila tak diajak.


__ADS_2