
“Ada yang perlu aku bantu enggak?” tanya Ayya di depan kamar Aksa dan Mukti serta Farhan dan Fahri.
“Bantu apa?”
“Packing barang biar besok sudah siap,” jawab Ayya.
“Enggak usah. Kalau packing barang aku bisa sendiri kok.”
“Baju buat besok sudah dipisahin?”
“Sudah.”
“Kalau begitu aku tidur ya?” pamit Ayya.
“Ya.”
Jam 05.00 pagi sehabis salat subuh para wanita terutama Ambar sudah didandani oleh MUA yang memang disewa oleh Adelia.
MUA datang sejak jam 04.00 pagi. Mereka salat bareng di rumah itu.
Ada tiga orang yang merias para wanita. Jadi kloter pertama adalah Ambar, Ayu, dan bude Pras.
Bude Pram, Laksmi dan beberapa sepupu Sonny kloter kedua dan ketiga.
Dibagian pria Abu, Angga, dan Mukti yang didandani lebih dulu.
__ADS_1
Seharusnya eyang Soetiono, tapi eyang bilang nanti dia kloter kedua saja.
Yang mendandani Sonny tentu sendiri karena perias Sonny khusus pengantin.
“Kamu cantik banget,” Puji Ambar pada Ayu.
“Aku baru mau bilang begitu sama Mama.” balas Ayu cepat. Dia memang akan mengatakan hal itu melihat Ambar sangat cantik dengan kebaya nona baju khas Ambon yang semua gunakan hari ini.
“Mama tambah cantik aja. Manglingi ( membuat pangling ),” jelas Ayu selanjutnya.
“Benar, Mbak Ambar cantik banget,” Laksmi yang lagi didandani untuk kloter kedua juga berkomentar.
“Wis tho, kamu diam saja lagi didandani, ra sah kakehan cangkem,” Ambar bilang pada Laksmi, sudahlah kamu diam saja sedang didandani. Tidak usah banyak bicara.”
“Enggak ganggu kok, yang lagi di dandani kan rambut. Mulutku nggak sedang di plester.”
Tentu saja seruangan pada ketawa mendengar candaan dari Laksmi.
“Bismillah yo Nang, kita berangkat,” kata Abu pada Sonny yang dia pegang tangannya sangat dingin.
Mereka pun berdoa bersama sebelum berangkat ke rumah Adelia. Tentu saja barang sejak tadi sudah dimasukkan ke mobil oleh sopirnya masing-masing. Karena beda keluarga beda mobil.
Mukti melihat Ayya yang sangat cantik ( kalau buat Mukti tentu AYYA kan? Nama spesial seperti Wayan dan Sukma memanggil kesayangan mereka itu ).
“Kamu nanti jalannya sama aku bukan sama yang lain,” bisik Mukti sebelum Ayya naik mobil. Memang Mukti yang membantu Ayya naik karena agak sulit sebab Ayya memakai kebaya nona dan rok panjang khas Ambon.
__ADS_1
“Aku enggak boleh sama Aksa?” bisik Ayya.
“Tadi dengar enggak Mas bilang? Kamu sama Mas, bukan sama yang lain. Kalau sama Aksa berarti sama yang lain kan?” gertak Mukti walau tak keras suaranya.
“Iya Mas, aku kan cuma tanya,” balas Ayya.
“Enggak perlu ditanya lagi. Itu bikin Mas tuh marah,” Mukti sangat takut Ayya diambil orang saat melihat bagaimana penampilan Ayya yang sangat memukau pagi ini.
“Ya jangan cepat emosian lah. Apa-apa marah,” desah Ayya.
Mukti pun naik mobil yang lain karena Ayya bersama dengan Ambar dan Laksmi serta para Bude.
Rumah Adelia sudah dipasangi tenda mewah. Satu persatu semua rombongan dari keluarga Abu turun.
Seperti saat lamaran, kali ini rombongan diawali dengan eyang Soetiono dan eyang Angga sebagai panglima perang yang maju lebih dulu. Di belakang itu baru Sonny yang diapit oleh Abu dan Ambar.
Di belakang Sonny sekarang giliran Aksa, Mukti dan Ayya. Ternyata susunannya berbeda. Kali ini keluarga inti lebih dulu. Tadi Ayya sudah bilang dia di paling belakang karena dia bukan keluarga apalagi masuk dalam keluarga inti.
Tapi Abu dan Ambar tak mau. Mereka tetap mengharuskan Ayu baris di jajaran Aksa dan Mukti!
Seharusnya dari sini semua sadar siapa Ayu buat Ambar dan Abu. Orang luar mungkin mengira karena Ayu adalah anak angkat dari Ambar maka disejajarkan dalam barisan keluarga inti.
Padahal bukan karena itu Abu dan Ambar menempatkan Ayu di barisan Mukti. Melainkan karena buat mereka Ayu adalah calon menantu berikutnya. Ini sudah mereka berdua bahas saat di Solo setiap Mukti lapor apa yang Ayu lakukan untuk dirinya.
__ADS_1