CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
ADA YANG RINDU KOMANG


__ADS_3

“I miss you very much! Apa kamu nggak kangen sama aku ya?” kata Carlo sambil memandang foto Komang Ayu di ponselnya. Foto yang diambil saat mereka makan malam bersama di studionya Mukti. Waktu dia datang bersama dengan Niken dan Hanum serta Lukas.


“Tadi Lukas bilang kamu sudah ada di Solo, tapi belum bisa ketemuan sebab kamu masih sibuk dengan keluarga tunanganmu itu. Kamu juga bilang ke Lukas akan nginep di Jogja selama 1 minggu ini, di rumah kakak calon kakak ipar. Andai aku bisa segera ketemu kamu begitu kamu janjian sama Lukas,” kata Carlo lagi.


Memang tadi Ayya sudah memberitahu Lukas bahwa dia telah tiba di Solo dan Ayya juga memberitahu dia sibuk tidak bisa bertemu Lukas dan sedang ada rencana akan menginap di Jogja selama satu minggu bersama keluarganya. Padahal tadi soal menginap di Jogja itu baru karangan Ayya saja terhadap Lukas agar enggak minta cepat-cepat ketemu. Ternyata barusan Mukti bilang kemungkinan mereka akan ikut ke Jogja.


“Mas nambah gulai enggak?” tanya Ayya saat pesan yang untuk dibawa pulang.


“Nggak Yank. Besok kan kamu mau masak gulai kambing pesanannya Mas Sonny,” jawab Ayya.


“Aku kok ngerasa Mas Sonny sama kak Ade lagi ngidam ya Mas?”


“Ngawur kamu,” jawab Mukti cepat.

__ADS_1


“Mas Sonny tadi minta tanpa ragu loh. Aku yakin pasti ngidam. Mas Sonny kan enggak sedekat itu ke aku. Dia seperti masih kaku. Tapi pas minta gulai kambing rasanya lain,” jawab Ayya memberikan praduganya.


“Kamu itu sama kak Adel kenapa sih? Kok Mas lihat banyak kesamaannya?” jawab Mukti mendengar ulasan Ayya barusan.


“Kak Adel waktu liat Vio di pengadilan melihat bagaimana raut wajah Vio yang tenang dia tuh curiga pasti ada apa-apanya. Dan akhirnya terbukti Vio itu di beckingi sama eyang Menur dari belakang sehingga terbongkarlah bahwa Vio itu akan ditahan sebentar lalu mereka akan pergi ke Australia bersama eyang Menur dan suaminya.”


“Kemarin kamu menduga soal Saras ternyata benar. Sekarang kamu menduga Mas Sonny ngidam. Jangan-jangan beneran kak Adel sudah ngidam saat 4 bulan pernikahan mereka. Alhamdulillah bila seperti itu karena eyang Angga dan papa Abu sangat lama baru bisa punya anak. Tidak seperti aku.” jelas Mukti. Dia ingat cerita kalau Angga dan Abu punya kelemahan membuahi.


“Iya juga sih ya,” kata Mukti. Mereka sudah selesai makan sekarang mereka sedang menunggu sate kambing yang biasa bukan yang buntel untuk dibawa pulang. Mukti ingin makan nasi goreng kambing untuk sarapan besok jadi satenya sengaja dibuka dari tusukannya sejak dari rumah makan ini. Besok tinggal Ayya olah untuk bikin sarapan nasi goreng kambing.


Mukti membawa Ayya muter-muter ke kota Solo di waktu malam hari. Tentu saja dengan mengendarai motor secara pelan-pelan. Mereka benar-benar menikmati sambil ngobrol.


Terakhir Mukti berhenti dulu di sebuah cafe pinggir jalan yang pemandangannya melihat kota Solo dari atas bukit. Sungguh indah. Hanya satu cangkir cappucino yang mereka pesan karena Ayya tidak ingin minum apa pun lagi. Dia sudah terlalu kenyang, Mukti memesan hot cappucino untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


“Sudah habis Mas kopinya?” tanya Ayya.


“Kamu mau pulang?” jawab Mukti. Kopinya masih terisi setengah cangkir.


“Iya aku capek. Sepertinya aku akan kedatangan tamu bulanan. Nanti mampir di supermarket ya beli minuman kunir asem buat aku minum malam ini. Kalau besok aku akan bikin sendiri. Biar aku tambahin bahannya di list belanjaan di bu Parman.”


“Oh ya sudah, nanti kita mampir di supermarket. Apa kamu sudah bawa pembalut?” tanya Mukti penuh perhatian.


“Kalau pembalut ada. Aku memang sudah siapkan di travel bag.”


“Ya beli saja lagi satu buat kamu masukkan di tas satu atau dua piece,” balas Mukti.


“Iya Mas, nanti aku beli lagi,” jawab Ayya. Dia minum sedikit kopi karena Mukti menyodorkan cangkir kopi ke mulutnya.

__ADS_1


__ADS_2