
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Malam ini Komang sudah sendirian di rumahnya. Dia tak punya keluarga di Badung kecuali pakde Saino dan bude Ati tetangga ibunya sejak di Banyuwangi. Komang menutup rapat pintu depan rumahnya. Pakde dan bude sudah pulang karena mereka semua lelah.
Komang membereskan barang-barang milik ibunya juga barang-barang bekas penggunaan pemakaman tadi, setelah selesai baru dia tidur setelah beres rumahnya.
Saat sedang tidur Komang merasakan ada seseorang yang menciuminya, Komang langsung tersadar bangun dan mendorong sosok tersebut.
Sosok itu lelaki yang tidak terlihat jelas wajahnya karena kamar gelap, tapi Komang tahu siapa oknum tersebut.
Komang langsung berteriak dan melempar semua barang yang ada di dekatnya terutama gelas dan botol minum yang memang selalu ada di kamarnya. Komang juga melempar piring dan baskom kaleng yang masih tergeletak di kamarnya belum sempat dibereskan ke dalam lemari.
Lelaki tersebut langsung melarikan diri karena mendengar Pakde Saino menggedor pintu depan rumah Komang.
Komang berlari ke depan dan memeluk Pak Saino. Dia sangat ketakutan.
“Ada apa?” tanya Pakde Saino, saat ini datang bude Ati masih dengan mukenanya.
Komang lalu bercerita bagaimana dia hampir dilecehkan oleh Soleh lelaki yang memang sejak kecil menyukai Komang. Komang tidak mau menanggapinya karena Komang tak ingin mencari pacar. Dia sedang ingin konsentrasi untuk mencari uang bagi ibunya yang sakit.
Tadi pun Soleh tidak membantu Pakde sama sekali, dia malah hanya mengamati Komang saja tanpa melakukan hal lain.
__ADS_1
Akhirnya malam itu, Komang tidur di rumah Pakde Saino.
Besoknya Komang mencuci semua baju kotor bekas Sukma dia juga membersihkan lagi kamar ibunya juga bekas obat dan seluruh peralatan Sukma. Komang merapikan kembali foto-foto Yang sudah berantakan karena sudah umum di kampungnya bila ada orang meninggal maka foto di balik-balik tidak boleh terlihat wajahnya. Semua foto di dinding atau di meja di balik sekarang semua sudah dibetulkan oleh Komang.
Pagi ini Komang dan bude Ati belanja bahan masakan yang akan digunakan malam hari nanti hingga hari ke 7 nanti. Memang kebiasaan di desanya di Banyuwangi pengajian itu sampai 7 hari terus menerus, makanya mereka sekalian belanja nanti tinggal yang kecil-kecil kebutuhan yang sedikit-sedikit yang dibeli di warung dekat rumah.
Sejak tadi Komang sadar Soleh terus mengikutinya. Ternyata bukan hanya Komang, tapi Bude Atik juga memperhatikan hal itu sedang pakde Saino menunggu di mobil karena ini belanja untuk 7 hari ke depan tentu bukan barang yang sedikit.
“Kamu lihat sejak tadi lihat Soleh membuntuti kita,” tanya Bude sambil berbisik.
“Iya Bude aku lihat kok,” jawab Komang.
“Aku takut Bude,” kata Komang.
“Dia mencari kesempatan agar bisa mendapatkanmu bila kamu sendiri,” kata bude.
Bude Ati mengerti memang Soleh sejak dulu berambisi memiliki Komang. Sholeh bukan anak nakal yang mau pada sembarang perempuan. Sejak SMA dia sangat menyukai Komang adik kelasnya dan ingin memiliki gadis itu.
Malam ini pengajian berlangsung lancar, Bude tentu senang. Malam itu Komang kembali tidur di rumahnya Bude Ati. Dia tidak mau kembali ke rumah bila hanya sendirian.
Sehabis salat subuh Komang ingin mengambil baju di rumah. Dia pikir tentu aman karena sudah pagi. Bukan malam gelap lagi.
“Bude aku tak pulang dulu ya mau ambil baju,” kata Komang dia hanya membawa ponsel dan dompet kecil miliknya. Dia pikir nanti dia juga mau beli sesuatu di warung jadi dia bawa dompet. Karena hanya nyebrang jalan Komang cukup pakai sendal jepit saha.
Tiba di rumah, baru saja pintu depan terbuka Komang sudah ditarik oleh Soleh, kali ini Soleh benar-benar gelap mata hendak memperkosa, tentu saja Komang tak berani dia terus menjerit-jerit lalu Komang berlari sekencang-kencangnya.
__ADS_1
Begitu ada angkot melintas di depannya Komang naik tanpa peduli itu jurusannya ke mana. Yang penting dia selamat dulu.
Komang pun memutuskan menuju ke galerinya Mukti. Satu-satunya alamat yang dia tahu di Badung. Dia tak punya kenalan lain lagi sejak lepas SMA. Komang takut teman-temannya tidak ada di rumah mereka, entah pergi kuliah, entah pergi kerja. Jadi Komang memilih aman, ke alamat terbaru yang dia ketahui.
“Kenapa Nduk?” tanya pakde Saino.
“Pakde, saya pergi lagi,” Komang melaporkan pada pakde Saino takut dicari,
“Kenapa?”
“Barusan mau masuk rumah, Soleh kembali berupaya melecehkan saya. Hampir saja dia berhasil Pakde. Sekarang saya ke galeri Pak Mukti. Saya tinggal dan bekerja di sana saja Pakde. Saya tidak berani kembali ke rumah.”
“Rumah tidak dikunci Pakde, tadi saya tidak sempat menutupnya lagi,” jelas Komang. Tentu saja Pakde Saino kaget.
Tanpa menunda Saino langsung ke rumah Sukma atau Komang dan menutupnya.
“Pakde tolong titip pesan pada Bude lakukan saja acara pengajiannya sampai selesai, nanti aku kirim lagi uangnya kalau kurang,” kata Komang.
Komang minta berhenti di depan galerinya Mukti lalu dia menyerahkan uang Rp 20.000 tanpa minta kembali dan langsung berlari masuk ke dalam galeri.
“Kak Sita, tolong kak Sita, tolong aku,” kata Komang panik.
“Ada apa?” tanya Sita kaget melihat Komat pucat pasi dan gemetaran. Sita membawa ke dalam. Dan dia meminta seorang rekan mengambilkan air minum bagi Komang.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY yok