
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
\*‘Mas, aku pulang lebih dulu,’ \*pesan Mukti pada Sonny.
Mukti hari itu boleh keluar ruang sidang karena dia bukan yang sedang menjadi saksi. Sebaliknya Ambar dan Angga tak bisa keluar karena saat itu adalah jadwal mereka jadi saksi, sehingga mereka masih tertahan walau sidang sudah dihentikan sementara. Rasanya sidang akan dihentikan terus sebab pelaku sudah meninggal semua yaitu Vio, Menur, dan Imelda. Tinggal Wahid yang masih ada. Tinggal Wahid saja yang mempertanggungjawabkan semua kerugian dari tingkah laku Menur, Imelda dan Vio.
‘*Ya aku ngurusin mama dan eyang dulu, aku juga sudah bilang sama Adelia soal pembunuhan eyang Menur dan bunuh dirinya Vio*,’ balasan dari Sonny langsung Mukti baca.
Mukti akhirnya membawa Komang ke cafe di dekat situ. Komang tak berani bicara apa pun. Selain masih syok melihat pembunuhan dan bunuh diri, Komang juga tidak berani bertanya sebenarnya sidang apa yang sedang diikuti oleh majikannya atau bosnya. Komang merasa belum waktunya dia bertanya karena dia baru 3 hari bertugas sebagai asisten pribadi Mukti.
“Boleh aku cerita?” tanya Mukti sambil menatap lekat wajah Ayu yang memang ayu di mata Mukti. Sejak dipandang Ayu menunduk tak berani bertatap mata dengan Mukti.
“Silakan Pak,” jawab Komang Ayu. Tak mungkin ‘kan dia melarang majikannya bercerita?
Mukti menyedot juice belimbing yang dia pesan. Dia aduk juice, lalu diminum lagi sedikit. Dia ragu bercerita, tapi ingin mengeluarkan semua yang menghimpit d@da.
“Sebenarnya ini sangat berat buatku perempuan yang tadi membunuh eyangnya sendiri itu adalah mantan istri siriku,” ucap Mukti lirih. Komang tak percaya mendengar semua yang keluar dari mulut Mukti siang itu. Dia mengambil gelas lemon tea miliknya dan mengaduk-aduk sekedar meredam kekagetannya bahwa perempuan tadi pernah punya hubungan sangat erat dengan majikannya.
Lalu mengalirlah cerita perkenalan Mukti dengan Vio sejak SMA kelas 2 sampai kejadian mereka melakukan hal terlarang. Semua Mukti ceritakan agar beban di hatinya lepas.
“Mengapa tadi Bapak tidak menghampirinya? Setidaknya Bapak mengucapkan selamat tinggal, karena dia sudah pergi untuk selamanya,” kata Ayu setelah semuanya selesai diceritakan oleh Mukti. Lebih dari satu jam Mukti bicara tanpa henti.
“Buat apa?” kata Mukti sambil melambai pada pegawai cafe. Dia minta daftar menu untuk mereka makan siang.
“Bukankah dia perempuan yang paling Bapak cintai?” tanya Komang.
__ADS_1
“Sudah berapa kali aku bilang jangan panggil Bapak?” protes Mukti.
“Jadi saya harus panggil apa?” tanya Komang bingung. Karena setahu dia semua karyawan di galeri memanggil Mukti dengan sebutan BAPAK.
“MAS. Mas lebih baik,” jawab Mukti.
“Mamaku orang Jember dan papaku orang Surabaya. Kamu orang Banyuwangi kan jadi pas kalau panggil aku Mas,” jelas Mukti.
“Baik,” jawab Komang. Dia masih kaku memanggil Mas. Jadi hanya menjawab tanpa sebutan.
“Tadi kamu bilang dia perempuan yang paling aku cintai?” tanya Mukti.
“Begitu kan kenyataannya?” desak Komang Ayu.
“Begitu aku tahu dia membunuh dua anakku, aku langsung menjadikan dia perempuan yang paling hina di depan mataku. Aku membuat statusnya menjadi orang yang paling menji-jikan dan paling aku benci! Dia ibarat sampah yang tak ada harganya sama sekali,” jawab Mukti marah.
“Kamu bisa bayangkan seorang perempuan yang tidak ada sangkut pautnya apa pun dengan diriku, memelihara aku dengan penuh cinta. Dia tahu aku bukan anak suaminya, tapi aku dididik dan dibelai dengan kasih sayang tak beda dengan mas Sonny dan Aksa.”
“Sekarang kamu bandingkan dengan perempuan yang mati tadi. Dua anak kandung dia bunuh! Apa perempuan seperti itu masih bisa kita masukkan dengan kategori perempuan yang paling dicinta?” jelas Mukti getir.
“Ya saya mengerti,” jawab Ayu.
“Mungkin itu yang Ibu rasakan saat hamil saya. Walau ibu belum menikah dengan papa tapi Ibu tak pernah berniat membunuhku karenbayi di perutnya adalah buah cinta ibu dan papa.”
“Terlebih buat Papa yang tahu istrinya tak bisa punya anak tentu aku adalah harapannya.”
__ADS_1
“Keluarga Papa mau pun keluarga Ibu juga menerimaku dengan baik walau mereka tahu status aku adalah anak di luar nikah. Mereka tak pernah menghina aku mereka, tetap memelukku. Itulah yang sebenarnya harga cinta seorang perempuan,” kata Komang, dia jadi ingat nasib dirinya sendiri.
“Memangnya kenapa dengan ayahmu?” tanya Mukti ingin tahu.
Komang akhirnya bercerita tentang Wayan, Dewi, dan Sukma. Sebenarnya itu bukan cinta segitiga tapi hubungan segitiga karena cinta hanya ada pada Sukma dan Wayan, tidak terkait dengan Dewi. Sama sekali tak ada cinta dalam diri Dewi untuk Wayan.
Komang juga bercerita bagaimana dia dijadikan alat untuk Dewi berbuat tak benar dengan para pacarnya di hotel dia diberi permen obat tidur.
Mukti baru tahu tentang nasib, Komang Ayu. Mukti sangat bersyukur terdampar di keluarga Lukito, bukan seperti Vio yang dibuang di panti asuhan atau seperti Komang yang dibuat alat oleh ibu adopsinya.
Tanpa sadar mereka berdua sudah sama-sama menceritakan latar belakang hidup mereka yang amburadul, tapi mereka tetap berpegang teguh pada agama dan tetap berbuat baik.
Memang Mukti pernah salah waktu berbuat zina dengan Vio tapi kan awalnya disebabkan oleh jebakan Menur dan juga saat itu dia masih labil. Sesudah dewasa dia nikah walau hanya secara agama tapi kan tidak zina.
Sejak itu Mukti dan Komang Ayu merasa dekat dalam hubungan kerja. Mereka merasa nyaman satu sama lain.
”Ayo sudah, kamu jadi beli alat mandi?” tanya Mukti.
”Oh iya Pak, eh saya mau beli alat mandi,” Komang Ayu tak sadar masih menggunakan panggilan Pak untuk Mukti.
“Kalau begitu ke supermarket aja ya? Di sana kan banyak pilihan,” tawar Mukti.
“Di mana aja enggak apa apa,” jawab Komang Ayu. Dia tak ingin mengharuskan Mukti mengantarnya ke toko kosmetik. Padahal dia ingin membeli alat make up juga cuma enggak enak ngomongnya ke majikannya tersebut.
Mukti langsung meluncurkan mobilnya menuju ke mall dan membiarkan Komang Ayu belanja. Dia tidak menemani saatKomang Ayu memilih juga saat membayar. Mukti tahu, Ayu pasti enggak mau dibayarin. Mukti berpikir toh uang kemarin belanja masih ada sisa banyak.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING yok
__ADS_1