CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
TERASA PERTAMA WALAU SUDAH SERING


__ADS_3

Ayya masih tak percaya. Dia mengingat bagaimana tadi secara perlahan wajah Mukti mendekati wajahnya, lalu bibir basah milik tunangannya itu pelan dan lembut menempel di bibirnya. Tak ada kata yang bisa dia sebut untuk pengganti sensasi rasa yang dia rasakan saat itu. Panas dingin pasti.


Pengalaman pertama itu membuatnya tak bisa bergerak, karena memang dia belum pengalaman. Dia tak mengerti apa yang harus dilakukan saat lelaki tersebut melu-mat bibirnya.


Boro-boro membalas, tidak menolak atau mendorong Mukti saja itu sudah bagus. Ayya terus menunduk sepanjang perjalanan. Di mobil dia terus mengingat kejadian di kamarnya tadi.


‘Ah mulai tadi pagi bibirku sudah  tidak perawan lagi!’ kata Ayya dalam benaknya.


Padahal selama ini dia sudah banyak membaca novel maupun melihat di media sosial bagaimana orang berciuman bibir dengan bibir. Tapi tentu saja semua itu hanya terlihat atau dibaca tanpa dia merasakan. Tadi pagi dia sudah mulai tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya.


“Masih kepikiran ya Yank?” tanya Mukti.

__ADS_1


Cukup lama Ayya tak menjawab. Akhirnya dia menemukan kata guna membalas kalimat calon imamnya kelak.


“Waktu Mas pertama kali melakukannya entah dengan siapa pun itu, apa sesudahnya Mas nggak kepikiran?” tanya Ayya hati-hati. Sekarang dia tidak mau langsung marah walaupun seharusnya Mukti tak perlu mempertanyakan itu. Pasti kepikiran lah namanya juga pengalaman pertama kan. Aneh tunangannya itu.


“Kamu mau jawaban bohong atau jujur?” tanya Mukti sambil menoleh sesaat. Dia tahu Ayya memandanginya.


“Semanis apa pun sebuah kebohongan, itu lebih menyakitkan dari kebenaran yang pedih,” balas Ayya.


‘Aaamiiin,’ jawab Ayya cepat dalam hatinya.


“Seperti Mas berapa kali cerita. Mas naksir perempuan yang wajah Indonesia asli. Mas nggak suka wajah bule atau wajah Indonesia tapi yang dari beberapa suku yang mukanya kebule-bulean misalnya seperti Manado gitu kan wajahnya tidak Indonesia banget karena dia bercampur dengan Belanda atau Chinese atau apalah Karena kan dia dekat dengan Filipina. Jadi Mas suka dengan wajah Jawa, wajah Bali bahkan wajah putri Sumatra atau mungkin Papua. Mas enggak suka yang wajah blasteran, itu kan wajahnya nggak nJawani, karena putih gitu kan. Kesannya bukan coklat sawo mataangnya Indonesia. Itu itu versi Mas ya. Enggak usah marah, itu versi Mas,” jelas Mukti lagi. Karena semua orang punya kriteria berbeda kan?

__ADS_1


“Saat di SMA itu Mas lihat adik kelas berwajah sangat Jawa yang sangat Mas suka. Namanya Violin Ayaka semua temannya panggil dia Yaka. Jarang yang manggil dia Vio. Jadi saat Mas Sonny bilang mau tunangan dengan Yaka, ya Mas nggak tahu kalau ternyata itu adalah Vio!”


“Mas jujur ngrjar dia. Mas cari perhatian dia, karena Mas suka. Tapi kami belum pernah ngapa-ngapain. Pergi pun rame-rame. Ke mana-mana rame-rame. Mas selalu kawal karena nggak ingin dia kepincut pria lain.” Mukti menarik napas dan kembali menoleh. Dia lihat Ayya memperhatikan wajahnya tak bergerak sama sekali.


“Saat itu Mas tak tahu kalau dia enggak suka Mas, dia suka lelaki lain. Yang Mas tahu, Mas suka sama dia. Mas selalu cerita sama Made bagaimana cinta Mas ke dia. Lalu terjadilah kejadian di rumah kosong yang sudah disiapkan oleh eyang Menur.”


“Itu pengalaman Mas pertama menyentuh tubuh gadis. Baik untuk memeluk, mencium bahkan langsung menggaulinya! Saat itu kondisi Vio sudah terangsang berat oleh obat. Tidak ada rasa deg-degan.”


“Mas mencium bibirnya nggak ada nggak ada rasa deg-degan, pertama kali menggaulinya nggak ada rasa yang aneh, karena dia yang lebih agresif.” Mukti menarik napas dalam mengingat kejadian 10 tahun lalu.


“Itu pengakuan jujur yang Mas bisa ungkapkan. Kamu tanya apakah itu akan terkenang-kenang? Pasti bohong kalau bilang nggak! Tapi terkenang BUKAN karena terkesan. Terkenang dengan pikiran kok bisa ya aku berbuat seperti itu? Kok bisa ya aku melakukan itu? Itu yang Mas kenang sepanjang malam tanpa tidur! Bukan terkenang dengan romantisnya, atau terkenang dengan manisnya, semua itu tidak ada. Jadi jujur pengalaman tadi pagi itu pengalaman Mas pertama mencium seorang perempuan yang memang benar-benar sama-sama suka. Itu kejujuran dari Mas,” jelas Mukti.

__ADS_1


__ADS_2