CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
SIAPA AYAH BAYI ITU?


__ADS_3

“Kok bawaanmu sedikit banget Yank?” tanya Mukti karena dia melihat pakaian yang dibawa Ayya untuk tinggal selama tiga bulan di Solo hanya sedikit.


“Iya Mas, aku memang nggak bawa banyak,” balas Ayya. Dia sudah menutup travel bag yang akan dibawa ke Solo lusa.


“Kita lama lho, tiga bulan di sana,” jelas Mukti.


“Justru karena lama, jadi aku nggak bawa banyak. Aku lebih suka belanja pakaian baru di pasar Klewer. Aku ingin batik-batik Jawa saja. Nanti atasannya juga aku mau beli kebaya brokat tangan pendek atau apa pokoknya. Kalau di sini kan beda motif, juga jenisnya,” jelas Ayya.


“Aku juga sudah janjian sama Sri. Jadi besok kami kalau di sana belanja di akhir minggu di pasar Klewer. Biar bisa beli banyak jenis dan banyak motif dengan harga murah,” jelas Ayya.


“Mas nggak suka ya?” tanya Ayya melihat Mukti hanya diam memandang wajahnya.

__ADS_1


“Suka! Suka banget malah. Lebih keren kalau memang kita pakai baju etnik yang dimodifikasi seperti itu. Sejiwa banget sama Mas,” balas Mukti dengan senyum bahagia.


“Iya aku suka banget rok-rok kulot batik panjang itu. Tapi nanti tetap ada celana bahan atau celana jeans kok. Yang itu sudah aku bawa, hanya rok kulotnya yang belum ada.”


“Kenapa kamu nggak mau pakai rok mini saja?” pancing Mukti. Dia sudah bisa memperkirakan jawaban tunangannya. Tapi ingin tahu secara langsung dari bibir yang menggemaskan itu.


“Rok mini kayanya bukan aku banget. Kalau pun aku pakai rok pasti ya di bawah lutut. Nggak mungkin di atas lutut,” jawab Ayya.


“Terlebih lagi span terus mini. Wow nggak bisa duduk nanti,” balas Ayya lagi.


Karena sudah tahu tentang kehamilan Saras hari ini Mukti sengaja memperhatikan sosok Saras pada saat perempuan itu masuk ke ruang sidang. Lusa Mukti dan Ayya sudah berangkat karena itu mereka memastikan kali ini tetap datang agar persidangan selanjutnya mereka bisa bolos dengan tenang.

__ADS_1


Dua hari lalu persidangan awal somasi dari Windy juga sudah dilakukan. Benar-benar pahit untuk Saras.


‘Wah benar, aku nggak pernah perhatikan. Ternyata memang perutnya mulai sedikit membuncit. Dulu waktu Vio juga aku nggak lihat tapi kayaknya Vio belum sebesar ini. Karena aku sama sekali nggak tahu. Aku masih menidurinya saat dia sedang hamil dulu.’  batin Mukti melihat perut Saras,


‘Ah kenapa aku ingat dia perempuan sia-lan yang menjebak aku. Walau sebenarnya jebakan itu diawali oleh eyang Menur.’


‘Apa jadinya kehidupanku bila aku terjebak oleh Saras? Apakah itu sama seperti yang papa Abu rasakan bersama dengan ibuku dan merasakan derita berkepanjangan. Kalau ibuku masih hidup pasti hidup papa hancur lebur karena selalu direngekki oleh permintaan ibu untuk menyingkirkan mama Ambar.’


‘Aku bukan mensyukuri kematiannya, tapi aku mensyukuri dia tidak bersama papaku. Sehingga aku bisa bersama dengan mama Ambar dan papa Abu.’


‘Jadi ingat Om Ferry. Kayak apa ya dia sekarang? Biar bagaimana pun dia ayah kandungku. Tapi ya sudahlah. Dia juga nggak tahu kok. Ngapain pula aku harus ingetin orang itu. Mungkin nanti kalau pas pernikahanku aku akan beritahu dia dan kakekku.’ batin Mukti.

__ADS_1


Sama seperti Mukti, Ayya pun memperhatikan sosok perempuan yang berjalan masuk dengan tertunduk. Perutnya memang mulai terlihat. Pipinya juga chubby, walau tak ada kecerahan dalam wajahnya.


‘Kira-kira siapa ya ayah bayi itu? Kenapa dia ingin menjebak Mas Mukti supaya jadi ayah secara tertulisnya? Mengapa tidak ayah bayi itu saja yang jadi suami Saras? Kenapa harus cari orang lain? Apa ayah bayi itu nggak mau bertanggung jawab ya?’ pikir Ayya.


__ADS_2