
“Semoga saja nanti Lukas bisa melihat dengan jernih dan mengatakan yang sejujurnya ketika bertemu dengan aku,” harap Ayya. Saat mereka baru turun di lobby rumah sakit. Pak Parman memang menurunkan keduanya di lobby agar taak jalan jauh.
“Perasaan tadi aku lihat mereka ada di cafe lho,” kata Carlo pada Ayya.
“Siapa?” tanya Ayya.
“Itu. Tiga orang yang ada di lobby rumah sakit. Aku ingat saat yang China atu Jepang dan orang Arab itu datang ketika di cafe tadi. Mereka sepertinya ada pertemuan bisnis dengan orang yang satunya,” ucap Carlo.
“Wah aku cowok seganteng apa pun nggak akan pernah aku perhatikan. Karena aku sudah punya yang terbaik. Jadi aku nggak pernah perhatikan ketika mereka di cafe tadi,” jawab Ayya tak acuh.
“Kalau mereka tadi ada di cafe, berarti mereka nggak ngikutin kita. Karena mereka sudah lebih dulu ada di sini,” jelas Ayya.
“Iya mereka kan juga nggak tahu tujuan kita. Ngapain mereka ngikutin kita? Kalau pun mereka tahu tujuan kita dan mereka ngikutin, kan di belakang kita. Buktinya mereka sudah lebih dulu ada di rumah sakit ini. Berarti memang mereka tidak ngikutin kita,” kata Carlo.
Ayya memandang berkeliling dia mencari bodyguard yang belum masuk ke rumah sakit. Rupanya mereka baru parkir mobil. Ternyata mereka bukan hanya berdua. Ada empat orang, dua laki-laki tapi turun dari mobil terpisah. Setidaknya Ayya merasa aman dia tidak sendirian.
__ADS_1
“Ruangannya ada di mana?” tanya Ayya. Dia sengaja agak keras agar Mukti mendengar di handphonenya karena Ayya sudah melakukan panggilan ke nomor Mukti.
“Di paviliun Menjangan kamar 107,” jawab Carlo.
“Paviliun Menjangan itu ada di lantai berapa?” tanya Ayya lagi.
“Di lantai 5.”
“Lantai 5, paviliun Menjangan, kamar 107?” Ayya sengaja mengulanginya itu agar Mukti memberi arahan pada bodyguard nanti.
“Aku pikir kamu free setelah selesai pameran,” ucap Carlo.
“Untuk peserta memang sudah selesai, karena mereka hanya bekerja saat pameran. Tapi aku kan bukan dari panitia, tugas panitia itu dari sebelum pameran sampai sesudah pameran. Saat semua peserta pulang ya kami masih kerja,” kata Ayya.
“Iya sih aku mengerti. Ya sudah ayo masuk. Jangan sampai kamu belum jadi masuk atau baru masuk sudah ditelepon. Nanti kamu keburu-buru,” kata Carlo.
__ADS_1
Mukti langsung memberi kabar pada bodyguard untuk menuju ke lantai 5 paviliun Menjangan dan bersiap-siap di sekitar kamar 107.
“Rupanya dia sedang tidur,” bisik Carlo. Ayya melihat Lukas diikat kakinya ke tempat tidur. Mungkin supaya tidak berlari turun atau kabur. Tentu saja Ayya trenyuh.
“Ya ampun kasihan ya kakinya sampai diikat seperti itu,” kata Ayya. Ini sengaja dia ucapkan untuk di dengar oleh anggota keluarga Lukito karena dia sengaja menelepon group. Tentu semua mendengar tentang apa yang Ayya katakan walau mereka tidak lihat.
“Iya kalau tidak diikat dia akan kabur. Dia pernah berupaya untuk lompat karena ini lantai 5 ke bawah. Pernah juga dia ngambil garpu untuk mencoba bu-nuh diri. Jadi makanya semua peralatan dengan meja-meja disingkirkan agak jauh,” jelas Carlo.
“Kalau tangan memang dibiarkan, karena tak ada alat apa pun yang dekat kasihan bila tangannya juga diikat,” kata Carlo lagi.
“Lalu bagaimana aku akan bicara kalau kondisinya seperti ini?”
“Kadang dia bisa diajak bicara normal. Sebentar aku akan mencoba membangunkan dia pelan-pelan. Dia masih bisa diajak bicara. Kadang-kadang tapi. Bila dia lagi ingat tentang video itu dia akan menjerit-jerit,” ucap Carlo.
“Bro … bro, bangun. Ada Komang loh,” kata Carlo mencoba membangunkan Lukas.
__ADS_1