
“Pantas waktu Ayu menyamar nggak ada yang kenalin walau itu Mukti sekalipun. Kalau tidak lihat kalian berfoto bersama Ayu aku nggak percaya,” kata Sonny melihat hasil foto Ambar Ayya bersama 3 jagoan tersebut.
Abu no komen dia hanya memberi emoticon kaget.
Aksa belum lihat karena dia masih di kelas tidak boleh pegang ponsel selama jam pelajaran berlangsung.
“Kok bisa gitu Ma? I tu lama nggak dandannya?” Reaksi Adelia lebih heboh dia langsung menghubungi Ambar.
“Boro-boro lama. Satu setengah jamsudah selesai 3 orang itu tambah Ayya dandan sendiri,” jawab Ambar.
“Ya ampun benar-benar kalah deh make up artis,” puji Adelia.
“Ya sudah kalian berangkat lah. Tolong beda mobil dengan aku. Aku tidak mau kita kepergok. Jadi memang kalian pakai mobil masing-masing saja juga. Jangan datang satu mobil,” kata Ayya lagi.
“Iya kita pakai taksi online saja. Biar Made yang bawa mobil. Aku lagi males nyetir,” kata Mukti pada Made.
“Siap. Aku diantar sama pak Parman,” ucap Ayya.
Pak Parman dan Bu Parman tak percaya perubahan 3 sosok lelaki muda dihadapan mereka. Mukti dan dua temannya sudah sangat berubah.
__ADS_1
“Bismillah ya Ma. Doain aku,” kata Mukti pada Ambar.
“Ya kalian jangan terlalu jauh dari Ayu. Papa juga sudah menaruh orangnya di sana duluan. Jadi nggak kelihatan mereka datang belakangan. Dua bodyguard perempuan sudah lebih dulu standby,” kata Ambar.
“Siap Ma, aku jalan ya,” kata Ayya. Dia bersiap dengan pak Parman tentunya.
“Mas,” panggil Ayya.
“Kenapa?” tanya Mukti.
“Mas belum minum jus. Ini bawa dan habiskan di mobil,” Ayya memberikan satu botol jus untuk Mukti.
“Enak ya yang ada pasangan di sebelahnya. Aku nih jauh dari istri. Boro-boro ada yang ngingetin jus,” keluh Wayan.
“Istrimu ada di Singapura atau di Jepang?” tanya Made sambil terkekeh.
“Oh iya ya. Aku kan memang lagi di negeri orang, wajar kalau nggak ada istri,” jawab Wayan mengingat dia sedang menyamar.
“Ingat nanti di sana kalian jangan bercanda seperti ini. Kalian adalah tokoh-tokoh pengusaha yang baru bertemu. Nggak mungkin kan bercandanya sampai seperti sekarang,” Angga memperingatkan ketiganya.
__ADS_1
“Enggak lah Eyang. Kami akan ngobrol pelan-pelan seperti biasa saja. Diskusi apa juga kami nggak tahu yang penting pokoknya kami nggak akan bercanda. Kami hanya akan memperhatikan Carlo dan Komang,” kata Made.
“Yank, jangan lupa saat bicara langsung hubungi aku,” pinta Mukti.
“Ya saat aku bicara dengan Carlo aku bukan dalam proses merekam tapi aku langsung menelpon ke nomor Mas Mukti. Mas Mukti yang rekam pembicaraan itu. Kalau aku proses merekam nanti bisa ada panggilan masuk jadi mengganggu. Jadi aku lebih baik proses memanggil saja,” ucap Ayya.
“Siap Bu Komandan,” balas Mukti sambil memberi hormat.
“Oke ayo. Aku berangkat duluan kalian kan nunggu ojek online. Kak Made duluan ayo. Jadi kak Made bareng aku. Biar yang nunggu ojek online belakangan,” ajak Ayya.
“Siap Bu Komandan,” kata Made mengikuti Mukti.
“Kami on the way Pa, Mas Sonny, kak Adel,” kata Ayya di grup Lukito family.
“Siap Dek. Doa kami untukmu,” jawab Adelia dengan voice note.
“Papa standby mantau,” jawab Abu.
Sonny seperti biasa slow respon. Dia sedang sibuk tadi dia sempat melihat penampilan ketiga aktornya Ayya saja. Habis itu dia kembali sibuk dengan klien.
__ADS_1
Ayya dan Made jalan beriringan tapi tentu saja dengan kondisi tidak saling mengenal. Di dalam resto, Ayya sudah melihat ada Carlo yang wajahnya gelisah menunggu kedatangannya. Ayya tak melihat ada Lukas padahal kemarin Ayya sudah bilang minta Carlo datang bersama Lukas karena dia kangen pada Lukas dan Carlo berjanji akan menyampaikan itu ke Lukas.