
“Mas boleh tanya sesuatu?” tanya Mukti.
“Kalau bertanya pasti boleh Mas. Tapi apakah aku mau jawab atau bisa jawab itu berbeda. Jadi monggo saja bertanya. Cuma aku belum tentu jawab entah karena aku tidak mau atau tidak siap. Entah juga karena aku nggak bisa jawab,” kata Ayya diplomatis.
‘Ternyata kamu bijaksana juga menjawab pertanyaanku barusan. Kamu nggak akan mau kejeblos,’ Mukti bisa menilai calon istrinya ini sangat hati-hati dan tidak emosional bila menjawab sesuatu.
“Kenapa soal skin to skin tidak kamu beritahu pada Mas?” Mukti bertanya sambil menatap lekat mata Ayya. Yang dipandang balas menatap tak gentar.
“Itu sederhana kok Mas jawabannya. Yang pertama Mas saat itu sedang sakit tak bisa diajak diskusi bukan aku tidak mau.”
“Alasan yang kedua pandangan orang seperti apa? Orang tidak tahu maksud kita sama-sama tidak berpakaian. Orang pasti akan berpikir negatif bila melihat keadaan seperti itu.”
“Dan ketiga yang paling penting, dalam agama kita dilarang Mas. Kecuali ada saksinya, aku bisa melakukan itu. Tapi kan nggak mungkin aku narik Bu Pinem untuk melihat kita skin to skin walaupun mungkin kita tertutup selimut dan kita hanya punggung dengan punggung. Jadi bukan aku tidak mau tapi banyak pertimbangan yang harus aku pikirkan matang-matang. Kita hidup bukan hanya berdua yang bisa saja kita bilang tak peduli pandangan orang. Tapi kita punya norma jadi mohon maaf bukan aku nggak mau bahas atau nggak mau menolong tetapi itu tadi 3 pertimbangan yang aku pikirkan,” jawab Ayya dengan terus menatap Mukti tajam.
“Mohon maaf kalau Mas terluka karena aku nggak mau melakukan itu.”
“Mas nggak marah kok, cuma Mas tanya kenapa kamu nggak bilang sama Mas. Itu aja,” balas Mukti.
__ADS_1
“Ya itu tadi, nggak bilang karena Mas itu lagi sakit, nggak bisa diajak diskusi,” jawab Ayya.
“Ya sudah, nggak usah dibahas lagi.” jawab Mukti.
“Tapi nanti kalau kita sudah sah, bisa kan skin to skin?” tanya Mukti.
“Kalau sudah sah nggak mungkin aku nggak tahu sejak awal kalau Mas sakit. Pasti sebelum Mas panas tinggi juga aku sudah tahu jadi pasti langsung sudah aku kasih obat,” jawab Ayya diplomatis.
Ayya bangkit membereskan piring kotor juga membawa makanan yang tersisa kembali ke dapur.
“Sudah Mbak biar saya aja,” kata Bu Pinem.
“Besok mau bikin snacknya apa Mbak?” tanya Bu Pinem.
“Nggak usah ada snack Bu. Lha wong sudah makan malam langsung kok,” ucap Ayya.
“Bukannya mereka katanya datang dari sore?”
__ADS_1
“Ya datang dari sejak sore. Nggak usah diberi snack biar laper sekalian. Kalau sudah kebanyakan snack malah nggak makan benar Bu.”
“Kirain mau dibikinkan sesuatu misal kue pisang atau lemet seperti kemarin,” balas Bu Pinem.
“Nggak Bu, pisangnya mau aku bikin mata roda untuk besok pagi,” kata Ayya.
“Maksudnya bagaimana? Ibu malah belum tahu,” kata Bu Pinem.
“Singkongnya seperti biasa diparut seperti kemarin ibu bikin lemet itu. lalu pisangnya ditaruh di tengah-tengah di bungkus daun juga lalu dikukus. Nanti makannya dipotong-potong dan diberi taburan kelapa parut Bu. Jadi pisangnya dikelilingi singkong. Persis seperti mata ditengah roda.”
“Berarti parutan singkongnya dikasih gula sedikit?”
“Parutan singkongnya dikasih gula dan pewarna Bu. Jadi bisa bagus kuenya. Nanti bisa satu warna bisa dua warna tergantung kita.”
“Apa nggak kita bikin malam ini aja Mbak. Biar besok pagi tinggal kukus parutan kelapanya biar nggak cepat basi?”
“Kalau Ibu mau parutin singkongnya, kita bikin sekarang aja,” balas Ayya.
__ADS_1
Akhirnya Ayya dan Bu Pinem langsung mengeksekusi mata roda.