CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
SKENARIO APA?


__ADS_3

“Yank bicara dong,” pinta Mukti. Dia tetap tak menyalakan mesin mobil sebelum mendapat jawaban atau respon dari tunangan nan cantik itu.  Karena sejak menuduh bahwa Saras itu kemungkinan hamil anak dia Ayya tak mau bicara apa pun dengan Mukti. Ayya tetap bicara dengan dokter Windy, juga Pak Putut tapi tak mau bicara dengan dirinya.


“Jangan salah tangkap Mas. Aku nggak marah kok sama Mas. Aku cuma lagi nggak bisa ngebayangin kalau saat itu Mas bisa kejebak sama dia. Aku malahan sampai nyusun skenario sendiri loh di otakku,” akhirnya Ayya membuka mulutnya, dia memandangi Mukti yang menatap lekat dirinya.


“Skenario apa?” tanya Mukti sambil mengernyitkan alisnya. Ciri khas dirinya bila tak mengeri apa yang diutarakan lawan bicaranya.


“Kalau saat itu misalnya Saras pura-pura mabuk atau pingsan, tapi dia mengarah agar Mas yang antar dia. Lalu Mas nganter dan dia buat supaya Mas terangsang seperti Vio dulu dan terjadilah hal itu. Mas nggak bisa ngelak kan? Kebayang nggak kayak apa jadinya?” tanya Ayya.


“Aku dari tadi mikir itu kok. Serius aku nggak marah sama Mas,” Ayya memegang kedua jemari Mukti erat.

__ADS_1


“Astagfirullah. Kok bisa gitu ya Yank?” kata Mukti menyadari kemungkinan yang Ayya pikirkan. Bukankah hal itu yang terjadi pada papa Abu saat dijebak Witri?


“Zaman sekarang apa pun bisa kok Mas. Itu yang sejak tadi aku nggak habis pikir kalau hal itu menimpamu,” ucap Ayya.


“Mulai sekarang kamu atau pun aku jangan pernah pergi berdua  dengan orang lain karena bisa jadi jebakan itu akan dilakukan. Sama seperti waktu di Solo. Ingat nggak aku ditelepon katanya Wayan sakit, ternyata aku cuma mau dijebak karena ternyata Wayan nggak apa-apa. Semua itu pasti bisa terjadi sama kita. Bisa jadi kamu yang diperlakukan itu.” ucap Mukti was-was.


“Mas nggak ingin itu terjadi. Jadi kita tetap harus ada orang lain dan upayakan orang itu pro sama kita. Jangan sampaikita ditemani orang yang salah. Misal aku diundang oleh Saras, jangan yang menemani kita itu teman akrabnya Saras atau anak buahnya Saras karena ada kemungkinan mereka bekerja sama.”


“Iya sih, kita harus benar-benar antisipasi semua hal itu,” kata Ayya.

__ADS_1


“Ya sudah jalan Mas. Hari ini kita balik lagi ke Gianyar?” tanya Ayya.


“Enggak lah. Hari ini sudah terlalu siang, kita balik ke studio saja,” jawab Mukti sambil menyalakan mesin mobilnya.


Minggu ini memang Gianyar, Denpasar dan Badung sudah selesai mereka datangi. Jadi tak perlu lagi balik ke galeri cabang tersebut. Tinggal orang-orang galeri yang datang ke studio.


“Minggu ini barang mulai packing kan Mas?”


“Ya sudah mulai di packing tinggal nanti masuk kontainer sekalian dengan Master yang baru Mas buat itu,” jawab Mukti.

__ADS_1


“Masternya sudah siap bungkus kok kemarin,” kata Mukti. Memang semalam para pekerja mulai membungkus master dengan lapisan-lapisan yang sangat lembut untuk bagian dalam dan luarnya dilapisi oleh kayu agar tak terjadi guncangan juga. Benar-benar pekerjaan yang harus sangat teliti.


Ayya sudah tak sabar untuk berangkat ke Solo karena dia sudah janjian dengan Sri. Nanti selama Ayya di Solo, Ayya sudah minta pada Sri setiap hari Jumat sore Sri menginap di rumahnya Ambar. Jadi mereka bisa ngobrol. Kalau hari lain tentu Sri sibuk dengan kantin yang dia pegang. Padahal kalau weekend Ayya lah yang sangat sibuk. Tapi tentu mereka bisa bicara di kamar. Itu yang sudah mereka rancang bersama.


__ADS_2