
Ayya bangun saat semua sedang salat subuh bersama. Dia sedang libur bulanan, jadi langsung ke dapur. Ayya bersiap langsung membuat opor yang diminta oleh Sonny. Dia akan buat kuahnya kental karena lebih enak.
Ambar hanya punya ayam negeri sehingga sengaja Ayya goreng dulu setengah matang agar rasanya lebih enak, bisa mirip-mirip ayam kampung. Memang tekstur ayam negeri beda dengan ayam kampung.
“Bu Parman tolong beli lontong dan ketupat ya. Ketupatnya sedikit saja cuma buat sarapan. Kalau lontong agak banyakan karena akan digunakan buat rujak cingur.”
“Lalu masakan lainnya apa Mbak?” tanya bu Parman.
“Untuk siang sama seperti kemarin saja, rujak cingur. Papa kan kemarin belum makan rujak cingur. Untuk malamnya bikin soto betawi saja. Eh kita bikin soto bogor saja,” kata Ayya.
Ayya menuliskan bahan-bahan soto bogor yang diperlukan. Tambahan lainnya Ayya membuat semur kentang takut ada yang tidak suka dengan soto bogor.
“Jangan kesiangan ya Bu. Soalnya lontong dan ketupatnya ditunggu untuk sarapan.”
“Iya ini saya langsung berangkat kok,” kata Bu Parman dia langsung mengambil kunci motor.
“Kok pakai uang kamu Yu?” kata Ambar saat Bu Parman sudah berangkat ke pasar.
__ADS_1
“Aku cuma nambahin sedikit kok Ma, takut kurang saja. Tadi bu Parman bilang masih ada uang Mama kok. Tadi Mama belum selesai salat. Aku enggak pengin bu Parman kesiangan, jadi aku tambahin sedikit. Maaf kalau aku lancang dan salah ya Ma.” Ayya tak ingin dianggap lancang atau sembrono pada calon mertuanya.
“Enggak apa-apa. Enggak ada yang harus dimaafkan. Memangnya kamu bikin masakan apa?” tanya Ambar.
“Buat pagi kan Mama sudah ada semua bahannya kecuali lontongnya saja Ma. Ini santannya juga banyak kok. Nggak ada yang diperlukan untuk bahan sarapan pagi. Tinggal bawang goreng, tadi aku minta Bu Parman juga untuk beli saja biar nggak terlalu repot.”
“Siang aku bikinnya rujak cingur Ma. Takut kak Adel atau Mas Sonny kepengin, kan kemarin kita bikin rujak cingur. Lagian papa juga belum makan rujak cingur. Makanya tadi lontongnya aku suruh beli agak banyak, karena buat makan siang juga.”
“Malam, aku bikin soto mie bogor Ma. Sama semur kentang takut ada yang nggak doyan soto mie. Tetap ada gorengan tahu tempe sama ayam atau ikan nanti ada terserah saja mau bikin gorengan apa,” Ayya merinci menu masak siang dan malam hari.
“Kok Mama tahu aku tambahin uang?”
Tadi bu Parman pas mau keluar Mama tanya uangnya cukup nggak. Dia bilang sudah ditambahin kamu.”
“Iya Ma, takut nggak cukup saja. Tapi rasanya sih nggak ada yang perlu dibelanjain lagi. Semua bahan sudah ada semua kok. Tempe, tahu, ikan, kentang sudah ada semua. Yang belum ada cuma mie basah buat soto mie sama kulit lumpia karena nanti kan bikin lumpia isi bihun. Yang lain komplit. Aku sudah lihat bahannya ada semua.”
“Terserah kamulah. Selama ada kamu Mama mah pasrah,” kata Ambar dengan tersenyum. Ambar pun lalu mulai bersiap bikin bubur sumsum pesanan menantunya yang sedang hamil.
__ADS_1
“Wow duet wanita tercintaku lagi pada sibuk di dapur nih,” kata Mukti. Dia mencium pipi mamanya lalu mendekati Ayya dan mencium kening kekasihnya. Dengan lembut Ayya membalas mencium pipi Mukti. Membuat lelaki itu serasa melayang ke langit ke-3. belum sampai langit ke-7 ya.
“Masak apa Yank?” tanya Mukti setelah degub jantungnya kembali normal.
“Ini Mas, cuma bikin opor sesuai permintaan Mas Sonny.
“Itu kenapa ayamnya digoreng dulu Yu?” tanya Ambar.
“Biar nggak cepat hancur Ma. Kalau ayam negeri dibikin opor kan kalau diaduk suka hancur. Jadi aku goreng dulu setengah matang. Nanti rasanya lebih enak daripada ayam negeri yang tanpa di goreng. Jadi semu-semu ayam kampung gitu Ma,” jelas Ayya.
“Selain itu bumbunya juga jadi lebih meresap.”
“Sebentar ya Mas. Aku rampung ini dulu, tanggung bau amis. Setelah cuci tangan baru aku siapin kopinya,” kata Ayya. Dia mengerti pasti Mukti cari kopi pagi. Dia juga belum membuatkan teh untuk mama papa juga su5u buat eyang Angga.
“Iya Sayank. Nggak apa-apa kok. Mas cuma pengen nyariin kamu saja, karena kamu kan tadi nggak ketemu di ruang salat,” balas Mukti yang memang belum bertemu kekasih hatinya sejak dia keluar kamar. Tadi sehabis salat Mukti mencari Ayya di kamarnya, tapi ternyata sudah tak ada di sana.
Mukti pun lalu berlalu dari dapur. Dia tak mau mengganggu kedua perempuan terkasih beraktivitas di dapur.
__ADS_1