
“Kamu makan dulu ya baru pulang,” Pinta Ayya pada Lukas
“Nggak usah aku makan di lokasi aja, mereka sudah mulai kumpul kok habis maghrib ini,” kata Lukas.
“Aku senang sejak tadi bisa melihat kamu dari dekat bekerja menerima barang dan segala macamnya.”
Saat ini sudah hampir magrib Ayya baru saja selesai menerima 3 cabang itu dan dia juga bersiap untuk mandi serta istirahat dan makan malam
Mukti?
Jangan ditanya, lelaki itu kalau sudah sibuk dia tak mau berhenti. Lukas melihat beberapa kali Ayya harus mendatanginya untuk menyuapi sepotong kue atau apa pun karena Mukti benar-benar tak ada jeda. Sesekali dia minum air putih yang memang sudah disiapkan oleh Ayya. Selebihnya tak bergeming dari bahan yang sedang dia kerjakan.
“Itu sepanjang hari seperti itu Komang?” tanya Lukas takjub.
“Tidak sepanjang hari, kadang lebih dari 24 jam dia tak bergeser dari bahan yang sedang dia kerjakan. Jadi memang setiap saat aku harus ingatkan asupannya baik air maupun makanan,” kata Ayya.
“Ya ampun, aku pikir tugasmu itu ringan. Hanya nemenin dia jalan atau ngobrol. Ternyata kalau sudah di studio itu berat banget ya?” cetus Lukas.
__ADS_1
“Dulu sebelum aku bekerja untuknya, ibunya yang tiap saat telepon untuk mengingatkan dia makan atau pun minum. Makanya begitu aku kerja sama dia ibunya benar-benar nyerahin dia ke aku. Jadi ya kamu jangan aneh kalau aku memang benar-benar nyuapin seperti bayi besar.”
“Aku beneran baru tahu loh, ada orang kerja sampai lupa waktu seperti dia,” Lukas berkata jujur.
“Kadang jam 02.00 jam 03.00 malam aku bikinkan dia menu makan malam, aku panggil dulu baru aku tinggal tidur lagi,” kata Ayya.
“Namanya orang kerja kan pasti lapar, itu sebabnya aku selalu sediain bahan makanan di kulkas.”
“Kamu lebih tepatnya jadi istrinya,” kata Lukas.
“Kalau memang yang harusnya seperti itu, ya sudahlah aku akan mendampingi dia,” lanjut Ayya dan Lukas sadar kalau kesempatan Carlo tak ada sama sekali.
“Mas, Lukas mau pulang,” kata Ayya. Mukti tetap tak mendengar.
“Sudahlah kamu pulang aja, nanti aku bilangin saat dia berpaling. Kalau lagi kayak gini kalau diganggu dia suka marah, karena otaknya sedang penuh dengan beberapa kriteria yang hendak dia capai,” ulas Ayya.
“Oh iya nggak apa-apa,” kata Lukas.
__ADS_1
“Titip salam aja buat dia dan selamat serta sukses buat kariernya juga pameran di Solo nanti.”
“Mohon maaf ya kondisinya kayak gini,” kata Ayya tak enak hati.
“Bukan salah kamu kok, namanya orang kerja. mau diapain dia juga nggak sadar kalau sedang kita pamiti.”
Ayya mengantar Lukas ke depan.
“Kamu kan sudah punya nomor telepon aku, kalau mau ke sini atau mau ketemu kasih kabar ya. Takutnya pas aku nggak di rumah. Kamu tahu kan aku sukanya ngelayap terus. Bukan kemauanku tapi karena tugas aku memang harus sering keluar.”
“Nggak apa-apa. Malah aku yang minta maaf tadi itu memang aku spontan aja dan beruntung kamu ada di tempat. Terima kasih ya kamu sudah menerima aku dengan baik.”
“Kamu jangan kapok ya. Aku benar-benar senang kamu mau main ke tempat aku,” kata Ayya.
“Yang ada tuh yang kapok kamu. Seharian di repotin sama aku sama pertanyaanku dan segala macamnya,” ujar Lukas.
“Enggak ada yang repot kok, aku senang ada teman di sela kesibukanku,” kata Ayya.
__ADS_1