CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
TAK INGIN IKUT MENANGIS


__ADS_3

“Alhamdulillah. Terima kasih ya Yank, kamu mau angkat telepon ini setelah dering ketiga. Mas pikir kamu nggak mau angkat walaupun sudah Mas hubungi dari tadi,” Ayya diam saja.


“Kamu belum mau ngomong ya sama Mas?” kata Mukti. Ayya tetap diam saja.


“Sampai segitu nistanya Mas di mata kamu. Nggak apa-apa. Tapi maafin Mas ya. Mas nggak ingin kamu menderita seperti ini. Mas akui Mas tidak jujur pada kamu saat kamu tanya Mas di mana. Itu saja kesalahan Mas. Tapi untuk perbuatannya dan kejadian yang lainnya Mas sama sekali nggak salah. Mas cuma salah nggak jujur waktu kamu telepon. Jadi Mas mohon maaf soal itu. Soal kejadian yang lainnya kamu nggak bisa maafin, Mas ngerti kok. Yang penting Mas bisa bicara sama kamu.” Mukti terdiam sesaat.


“Kalau kamu nggak mau bicara apa pun sama Mas ….” Ayya  langsung mematikan teleponnya padahal Mukti belum selesai bicara. Ayya langsung me-nonaktifkan nomornya. Dia tak ingin ikut menangis mendengar kata-kata Mukti selanjutnya.

__ADS_1


“Jelaskan dari kata-katanya bahwa dia sangat putus asa. Dia merasa sangat nista di mata kamu.”


“Waktu itu karena kata-katamu bahwa dia sudah terbiasa tidur dengan wanita lebih dari memeluk saja dia demam tinggi karena merasa sangat rendah di matamu dan kemarin dia pingsan itu karena merasa kamu pasti menganggap dia sangat hina dengan kelakuannya seperti itu. Itu yang membuat jantungnya sangat lemah. Jadi memang Mama tahu dia hanya menunggu maaf dari kamu. Apabila tak dapat maaf ya Mama sudah tahu akhirnya lah. Mama bisa meraba ke mana langkah yang ingin dia tetapkan. Tapi sekali lagi Mama nggak akan paksa kamu apa pun keputusan yang kamu ambil.”


“Seperti tadi yang aku bilang Ma. Mohon maaf saat ini aku tidak bisa memaafkan Mas Mukti karena dia telah berbohong sama aku Ma. Mama dengar sendiri yang Mas Mukti bilang kan? Dia salah karena nggak jujur waktu aku telepon. Itu menyakitkan Ma. Ngebayangin dia terima telepon aku, padahal dia sedang memeluk perempuan yang menangis di dadanya. Aku enggak bisa terima Ma,”


“Aku nggak punya waktu banyak Ma. Aku cuma minta besok hari Minggu Mas Mukti tetap menutup pameran. Bilang ke Mas Mukti, Mas Mukti harus tetap ke pameran tapi jangan bilang disuruh aku. Dan ini kasih kemeja yang harus dia pakai,” kata Ayya.

__ADS_1


Ambar menerima bungkusan dari Ayya yang dibungkus rapi ditutup rapat tidak bisa dibuka.


“Isinya apa?”


“Tadi aku bilang Ma, suruh dia pakai kemeja ini saat penutupan pameran besok. Berarti isinya kemeja kan Ma? Nggak bakalan aku kasih kain kafan,” kata Ayya.


“Oke. Jadi Mama harus bilang dia harus tetap menutup pameran dan dia harus pakai kemeja ini?”

__ADS_1


“Benar banget Ma. Tapi jangan bilang ini disuruh aku. Pokoknya Mama suruh dia seperti itu. Dan kalau Mama bisa Mama datang ke sana pada saat penutupan agar dia kuat. Itu saja permintaan aku. Aku rasa pertemuan kita cukup ya Ma. Nanti pas saat aku ada perlu lagi aku akan telepon Mama. Aku nggak akan pernah kirim pesan selain yang kemarin. Aku akan telepon Mama saja,” Ayya  memberi salim lalu mencium pipi Ambar. Tadi dia pesan minum sudah dia bayar dan minumannya juga sudah mereka habiskan sejak tadi.


__ADS_2