
“Maksudnya apa? tanya Ayya. Dia tak mengerti dua hal biar balance dan dari bahan pahit yang Mukti katakan barusan.
“Kenapa sih kalau soal kayak gini, kamu agak telat mikirnya?” tanya Mukti.
“Lah koq malah ngenyek Mas?” protes Ayya.
“Sebenarnya itu bukan hanya ngenyek itu kenyataan,” jelas Mukti.
“Ayo cepat kasih tahu apa maksudnya tadi,” desak Ayya.
“Mas harus banyak makan yang pahit-pahit biar nggak kena diabetes!” jawab Mukti.
“Emang kenapa?” kata Ayya. Dia langsung berpikir akan bertanya soal diabetes pada kak Adel. Walau Adel adalah dokter kandungan tapi setidaknya basicnya pasti dokter umum tahulah yang ada hubungannya dengan diabetes. Dia harus cari tahu makanan apa yang baik buat Mukti juga obat apa yang paling bagus.
“Mas itu udah kebanyakan melihat kamu yang manis, jadi harus balance!”
“Nggak lucu! Aku udah serius,” kata Ayya sambil cemberut.
“Aku sampai mikir mau tanya ke kak Adel menu terbaik buat orang yang kena diabetes.”
Mukti tertawa ngakak sampai tersedak.
“Kualat tuh Mas ketawain aku,” kata Ayya sambil menyerahkan segelas air putih.
“Ini bukan kualat, tapi karena memang tertawa lagi makan,” bantah Mukti.
“Tapi serius Mas minta buntilnya besok. Nggak tahu tiba-tiba kepengen aja,” ucap Mukti.
__ADS_1
“Ya besok dibikinin kalau bu Pinem nya nggak lupa belanja,” jawab Ayya.
“Kamu seperti biasa kasih catatan biar enggak lupa,” pinta Mukti.
“Males gara-gara Mas kayak gitu,” kata Ayya.
“Malam ini mau kerja nggak?” Ayya mengalihkan pembicaraan. Dia masih tak percaya Mukti merayunya dengan gombalan seperti itu. Mukti yang selama ini dingin dan kaku barusan juga dia lihat bisa terbahak-bahak.
“Kayaknya sih kerja, idenya lagi banyak banget. nanti kalau ke pending sayang.”
“Kan udah disuruh dimasukin di notes,” Ayya mengingatkan Mukti agar mencatat semua ide yang terlintas.
“Sudah, sudah dicatat. Juga beberapa mungkin untuk pekerjaan berikutnya. Kalau yang pekerjaan hari ini tetap juga sudah dicatat cuma kan sayang mumpung lagi bagus mood-nya,” kata Mukti.
“Oh ya udah, nanti aku bikinin makanan buat teman kerjanya.”
“Nggak tahu, adanya di kulkas apa. Kayanya banyak sayuran buat capcay. Nanti aku bikin nasi capcay aja,” kata Ayya.
“Boleh tambah kopi nggak nanti malam?” pinta Mukti.
“Kan tadi pagi udah ngopi, masa mau ngopi lagi. Kan jatahnya cuma satu gelas satu hari.”
“Jangan galak-galak gitulah, daripada minum obat diabet kan?”
“Kalau digodain kayak gitu hukumannya ditambah, malah jadi nggak boleh ngopi sama sekali.
“Kayanya suster yang ini galak banget deh, mendingan dokter Adelia aja sekalian,” kata Mukti.
__ADS_1
“Dokter Adelia mah nggak bakal dilepas sama Pak Sonny,” kata Ayya.
“Eh bagaimana tuh kabar pengantin baru ya. Kita belum godain lagi,” kata Mukti. Dia mau godain kakaknya.
“Sudah nggak usah usil kayak gitu, kasihan kak Adel,” cegah Ayya.
“Katanya mereka mau pulang ke Jogja kan? Kenapa kita nggak datangin ke Jogja aja?” kata Mukti.
“Emangnya kita sempat kabur ke sana? Waktunya udah mepet kayak gini. Persiapan pameran belum selesai 30% aja. Tadi barang belum selesai rampung di masukin data.”
“Ya kan nggak sekalian kalau data. Masih ada waktu sampai tiga minggu ke depan,” ujar Mukti.
“Waktu udah mepet kan, persiapan tinggal 3 minggu kok malah lari ke Jogja. Begitu pas sampai Jogja, mama di Solo ngamuk pasti minta ke Solo. Lalu kita ngapain jungkir balik kalau akhirnya persiapan buat pameran sama sekali nggak siap karena lebih pentingin jalan-jalan?”
“Ya sudah nggak jadi godain orang,” kata Mukti.
“Lagian usil banget sih,” Ayya tak mengerti mengapa Mukti usil.
“Aku suka banget godain kak Adel, nggak kebayang ternyata dia akhirnya jadi kakak iparku. Padahal aku dulu suka banget godain dia, mas Sonny malah nggak berani godain.”
“Ya nggak bakalan mas Sonny berani godain perempuan yang dia taksir. Mas berani godain karena Mas nggak naksir dia. Jadi nggak takut salah ngomong. Mas Sonny kan takut salah omong. Aku diceritain sama Aksa waktu mas Sonny ada yang nyosor di pantai.” kata Ayya.
Mukti tertawa ngakak saat ingat siapa yang nyosor Sonny di depan Adelia.
“Tapi keren loh mas Sonny langsung MASO MINTA duluan ke orang tuanya kak Adel, nggak kayak Mas. Mas ngomong depan orang tuanya sendiri duluan bukan di depan papa Wayan,” ucap Ayya.
“Timing-nya beda Yank. Waktu itu kalau aku nungguin ngomong ke Bali ya telat. Lebih baik aku ngomong depan mama papa duluan,” kata Mukti membela diri.
__ADS_1
“Mbuh ah.”