CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
36 JAM NON STOP


__ADS_3

“Selasa magrib aku dapat video entah dari nomor siapa. Aku buka sehabis makan malam. Untungnya sehabis makan malam. Kalau sebelum tentu aku tak bisa duduk makan malam bersama mama dan papa,” Ayya mulai membuka apa yang terjadi sejak kasus itu merebak.


“Tadinya aku mau kabur malam itu juga. Tapi aku berpikir tentu nggak enak kalau aku kabur begitu saja. Lalu aku pikir aku pergi subuh-subuh saja tapi pasti juga sulit karena rumah ini ke jalan raya depan kan jauh. Pasti aku belum sampai jauh sudah ketahuan. Kalau cari ojek online atau taksi online subuh atau tengah malam tentu akan dijaga satpam di depan. Aku langsung berpikir bagaimana caranya aku keluar dari rumah ini dengan aman tanpa ada yang bisa cegah.”


“Saat aku mau masuk kamar, aku dengar kalau besok mama dan eyang akan ke bank urus masalah rekening perusahaan. Saat itulah aku seperti mendapat senter di saat gelap. Aku langsung packing barang-barangku, karena aku bukan mau pulang ke Bali. Sehingga harus bawa baju ganti. Kalau aku pulang ke Bali tentu aku tak butuh baju.”


“Kenapa kamu nggak pulang ke Badung?” tanya Mukti penasaran.


“Bodoh saja kalau aku pulang ke Badung. Kamu atau mama dan papa pasti langsung cari aku di sana. Ngapain juga kan?”


“Aku keluar pagi setelah mama dan eyang berangkat. Aku bilang pada pak Parman mau ke tempatnya Sri. Aku juga nggak hubungi Sri sama sekali. Aku pesan taksi online sampai ke terminal.”


“Untungnya aku dapat mobil ke Banyuwangi yang pagi, sehingga tengah malam aku sudah sampai sana. Saat di perjalanan aku ingat Mas tahu aku punya keluarga di Banyuwangi. Pasti nanti Mas akan cari ke sana juga. Aku bingung sendiri. Tapi sudah dalam perjalanan di bis. Sudah kadung ( terlanjur ). Di jalan, aku diam saja. Pada saat sudah di bis itulah aku kirim video ke papa mama juga ke Mas Sonny. Lalu HP aku matikan dan aku ganti dengan nomorku yang baru beli tadi di terminal.”

__ADS_1


“Sampai di Banyuwangi aku langsung ambil hotel kecil di dekat terminal. Tidak mau terlalu jauh, aku berpikir ke mana aku harus pergi. Bingung sendiri. Tengah malam itu aku terus berpikir, berpikir dan berpikir.”


“Saat subuh aku ke makamnya eyang yaitu orang tua ibuku. Setelah dari pesarean ( makam) itulah aku merasa mendapat pencerahan. Aku langsung ke sebuah penata rias di Banyuwangi. Aku belajar trik kilat menyamar dan membeli peralatan yang aku butuhkan di sana.”


“Paginya aku langsung naik bus pertama ke Solo. Sehingga hari Kamis tengah malam aku sudah sampai kembali di Solo. Benar-benar perjalanan 36 jam nonstop.


“Aku langsung ambil hotel juga di sini. Sebuah hotel kecil yang bisa disewa mingguan atau bulanan aku ambil satu bulan karena jadi lebih murah jadi seperti kost.”


“Nggak mungkin. Mas pasti punya feeling itu kamu,” kata Mukti dengan pedenya.


Ayya membuka ponselnya dan memperlihatkan foto selfie saat pagi sebelum penutupan.


“Astagfirullah itu kamu Yank?” kata Mukti tak percaya. Ayya hanya tersenyum. Mukti jadi ingat sosok yang dia yakin sangat mirip Ayya.

__ADS_1


“Itu mengapa aku leluasa bergerak, tanpa ada yang tahu.”


“Waktu ketemu mama bagaimana?” tanya Mukti.


“Aku ketemu mama aku natural seperti apa adanya, tidak menyamar. Kalau menyamar nanti ya ketahuan penyamaran berikutnya.”


“Aku sering ke kantor mama dan papa, karena aku kerja di kantinnya Sri.”


“Astagfirullah. Sri tahu itu kamu?” tanya Mukti.


“Aku datang sudah menyamar. Jadi awalnya dia tidak tahu. Lalu aku kasih tahu siapa aku dan aku minta kerja sementara sampai aku bisa jelas kasusku. Aku nggak mau menghabiskan uang tabunganku atau uangnya Mas di ATM-ku. Aku harus bekerja untuk hidupku.”


Mukti percaya Ayya memang sangat kuat untuk bebas dari kasihan orang. Dia tak mau membuang uang kalau masih bisa menghasilkan.

__ADS_1


__ADS_2