CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
MULAI SEMBUH


__ADS_3

“Lalu bagaimana planning kalian selanjutnya?” tanya Mukti.


“Aku besok dan lusa akan keliling Solo untuk cari oleh-oleh buat anak dan istriku,” kata Wayan.


“Baru hari ketiga kami pulang.”


“Niatnya seperti itu, esok dan lusa kami hunting sekalian kami piknik lah. Selama di Solo kami tak sempat piknik karena sibuk bekerja. Nanti hari ketiga kami pulang,” kata Made. Dia juga pasti butuh mencari oleh-oleh untuk ayah, ibu dan Pram. Selain itu selama di Solo mereka belum piknik sama sekali jadi mereka berdua ingin jalan-jalan.


“Kami boleh ikut piknik?” tanya Ayya.


“Why not? Bagus lagi kalau kamu saja yang ikut piknik, Mukti nggak usah ikut. Sehingga kita jalan bertiga,” balas Made cepat.


“Wah cari ribut nih,” kata Mukti. Dia tahu Made menggoda dirinya.


“Pekerjaan kalian sudah selesai?” tanya Angga saat makan malam ketika Made mengutarakan hari ketiga akan pulang ke Bali.


“Sudah Eyang, anak-anak ngebut biar kami bisa cepat pulang,” jawab Wayan.


“Terus kapan kalian mau pulang?” tanya Angga, lupa kalau tadi Made sudah bilang akan pulang di hari ketiga.

__ADS_1


“Esok dan lusa kami akan hunting oleh-oleh buat anak istri, hari ketiga kami pulang,” jawab Wayan.


“Kalian?” kata Ambar pada Mukti dan Ayya.


“Kami hari kelima dari sekarang pulangnya Ma,” jawab Mukti.


“Bukannya kalian harusnya dua minggu lagi baru pulang?”


“Kalau bisa lebih cepat kenapa ditunda Ma. Kami kan juga di sana harus mempersiapkan segala sesuatunya buat penerimaan lamaran,” jawab Ayya.


Made dan Wayan sudah tahu bahwa Mukti akan segera menikah karena kalau ditunda pasti akan ada terus persoalan yang terjadi untuk diri Mukti. Entah mengapa sejak pertemuan Ayya, sepertinya Mukti memang tidak boleh jauh dari perempuan tersebut.


“Baiklah Mama nggak akan melarang,” jawab Ambar.


“Siap Om. Kami akan mengurus persiapan di sana selama Om masih di Solo,” kata Made. Memang keluarga Lukito mendelegasikan semua urusan pada Made dan Wayan nanti Sri pun akan berangkat lebih dulu karena untuk mempersiapkan segala sesuatu keperluan keluarga Lukito.


Untungnya Sri sudah bekerja di perusahaan Abu sehingga kapan pun dia pergi dan berapa lama pun tentu tak jadi masalah. Perusahaan tetap jalan, kantin tetap beroperasional, semua bisa dikontrol.


“Iya kenapa?” tanya Ayya ketika menerima telepon dari Carlo malam ini. Dia baru saja masuk ke kamarnya dan di kamar ini ada Mukti yang mendengarkan pembicaraan karena mengaktifkan speaker agar tak cerita dua kali.

__ADS_1


“Kamu kapan pulang ke Bali?”


“Kenapa?” tanya Ayya.


“Aku tak bisa lebih lama berada di Solo karena pekerjaanku sudah banyak tertinggal. Nanti kalau aku nggak kerja akan lebih repot. Kalau kamu sempat kamu bisa tengok-tengok Lukas. Dia sudah mulai membaik tapi tetap belum boleh pulang,” pinta Carlo.


“Aku lusa pulang ke Bali karena aku akan menikah satu setengah bulan lagi. Nanti aku kirim undangannya ke kamu. Jadi aku nggak bisa nengokin Lukas.” jawab Ayya. Kemarin pak Made dan Wayan sudah pulang ke Bali lusa Mukti dan Ayya yang akan pulang.


“Wah selamat ya. Semoga pernikahanmu lancar,” kata Carlo.


“Kalau memang kamu tidak bisa merawat dia di Solo, kenapa nggak kamu pindahin saja dia balik ke Jakarta? Coba urus antar rumah sakit ke rumah sakit jadi yang ngurus perpindahan nanti rumah sakit. Lebih banyak teman dan keluarga di Jakarta kan biar nanti kamu bilang mereka tengokin Lukas selama kamu sibuk kerja,” Ayya memberi saran buat Carlo.


“Baiklah nanti aku akan coba seperti itu, kasihan kalau dia di sini tanpa ada yang menjaganya,” ucap Carlo sedih. Dia sungguh menyayangi sahabatnya ini.


“Maaf ya bukan aku nggak mau, tapi aku harus kembali ke Bali karena ini persiapannya sudah mepet,” jawab Ayya lagi.


“Iya aku ngerti kok. Nggak apa-apa. Aku pikir kamu masih lama di Solo sehingga bisa sesekali melihat Lukas.”


“Nggak bisa,” jawab Ayya.

__ADS_1


“Salam buat Lukas ya. Aku juga besok nggak bisa mampir karena sudah terlalu mepet.”


“Enggak apa-apa. Nanti salamnya akan aku beritahu dia dan aku sekarang akan coba urus perpindahan ke rumah sakit di Jakarta. Terima kasih atas saranmu dan aku tunggu undangannya.”


__ADS_2