
“Ma, Pa,” kata Ayya.
“Di depan Mama dan Papa Aku juga bicara. ku tidak mau nanti dibilang aku hanya berani bicara di belakang Mama dan Papa. Aku terima kata-kata Mas Mukti barusan. Aku terima cincin ini bukan sebagai cincin pertunangan tapi hadiah dari Mama kepada anaknya. Sehabis ini mungkin hubungan aku dan Mas Mukti akan berubah tetapi kami tidak akan langsung pacaran apalagi tunangan. Tidak Ma. Aku harus mengikis traumaku dulu sedikit-sedikit. Kalau Mas Mukti mau bersabar menerima aku, membantu aku untuk memulihkan rasa trauma ku, mungkin aku bisa mulai menerima dia sebagai calon pasangan aku. Tapi kalau Mas Muktinya enggak mau sabar ya sudah silakan aja Mas Mukti cari yang lebih pantas untuk dia. Aku enggak bisa menjanjikan apa pun Ma. Tapi aku janji aku enggak akan terima orang lain.” Ayya menjeda kalimat panjangnya. Mukti sedikit bernapas tenang ternyata dia tak ditolak malah diminta membantu Ayya menghilangkan traumanya.
“Jangankan Mas Mukti yang bicara depan Mama seperti ini. Ada empat orang lain yang pernah mengatakan akan serius sama aku. Dua diantaranya Mas Mukti sudah tahu. Yang satu bilang pertemuan kedua dia sudah bawa coklat dan buket bunga yang satunya langsung bilang mau ngelamar dia sudah sampai ke Badung untuk ngelamar aku Ma, Pa. Tapi tetap aku menolak karena merasa trauma. Mungkin kalau enggak ada trauma seperti itu, aku sudah memilih mereka karena mereka sudah lebih dulu menyatakan cinta sama aku dan yang dua lagi enggak usah aku ceritakan.” Mukti tahu semua lelaki yang mengajak serius karena dia mengamati saat di cafe kemarin.
“Mungkin seiring berjalannya waktu akan banyak orang yang menyatakan seperti itu. Aku berharap dan seharusnya Mas Mukti bisa mengerti itu. Seharusnya di usia Mas Mukti, Mas Mukti bisa meredam emosinya buat marah karena yang sering aku dapati Mas Mukti itu suka kalang kabut kalau aku didekati oleh pria lain. Dia akan langsung bertindak tidak masuk akal Ma. Pernah satu kali Mas Mukti sengaja bikin aku enggak bisa terima tamu. Sepanjang hari aku disibukin sama kerjaan karena Ajun datang ke studio,” Mukti tersenyum simpul mengingat bagaimana liciknya dia saat itu.
“Benar-benar enggak dewasa, bagaimana aku mau menjadikan dia sebagai imam aku kalau tingkah lakunya seperti itu?”
__ADS_1
“Mama enggak mengerti kalian itu bagaimana,” kata Ambar.
“Yang Mama minta kalian berdua sama-sama dewasa. Kuncinya rumah tangga itu cuma dua : KOMUNIKASI dan KESETIAAN.”
“Dari komunikasi dan kesetiaan nanti akan ada kepercayaan, keterbukaan, menahan emosi dan banyak hal yang akan terus mengikuti dua hal pokok itu.”
“Kunci komunikasi juga yang membuat kita satu keluarga menjadi lebih kuat karena waktu itu kita miskomunikasi. Antara Papa dan Mas Sonny juga dengan Mukti. Begitu komunikasi lancar, semuanya terbuka dan kita bisa bersatu melawan eyang Menur juga Vio.”
“Jadi Mama minta mulai sekarang kalian sama-sama meredam emosi dan kalian sama-sama mencari waktu untuk bicara secara kedewasaan. Itu aja nasihat Mama buat pagi ini sebelum kalian berangkat ke Bali.”
__ADS_1
“Benar seperti yang Mama kamu bilang, kuncinya ada di komunikasi. Selama ini Mama selalu meredam semuanya sendirian. Mama menahan sakit sendirian. Mama, Papa tidak tahu bahwa apa yang diomongkan eyang Menur itu adalah kebohongan besar. Itu kesalahan kami berdua tidak terbuka dalam berkomunikasi. Jadi kami minta kesalahan itu menjadi pembelajaran buat kalian berdua. Katakan semuanya, cari solusinya bareng-bareng. Jangan sampai seperti kami yang hampir bercerai gara-gara kehadiranmu dan hampir percaya juga karena kelakuannya eyang Menur.”
“Iya Pa. Aku akan belajar untuk itu,” kata Ayya.
“Maafin aku ya Pa, karena kehadiranku jadi kayak gini,” kata Mukti.
“Kamu enggak salah. Itu memang sudah takdir kita. Dan seperti yang tadi Papa bilang, cari solusi dari masalah kalian dengan bicara. Kuncinya cuma bicara,” kata Abu.
“Terima kasih ya Pa,” kata Aya. Mereka pun langsung keluar kamar.
__ADS_1