
“Mbak Ayu!” teriak Farhan dan Fahri. Mereka langsung berlari menuju, Ayu dan memeluk gadis tersebut. Tentu saja Ayu senang dengan sambutan mereka. Gadis itu langsung memeluk keduanya dan mencium pipi lelaki kecil tersebut.
“Aku kayaknya juga enggak nolak deh dicium,” goda Aksa yang juga menghampiri Ayu.
“Nanti aku dimarahin pacar kamu,” jawab Ayu.
“Pacar aku kan kamu. Masa kamu marah sama kamu sendiri? Ya enggak mungkin lah,” balas Aksa.
Ayu dan Aksa langsung berpelukan sangat erat, mereka hanya menganggap adik dan kakak tak pernah lebih dari itu. Hanya mereka yang tahu tetapi di depan semua orang memang Aksa sering menyebut kalau Ayu adalah kekasihnya. Sebenarnya itu hanya misi rahasia dia dan Eyang Angga.
“Wah yang ketemu pacarnya begitu ya,” kata yang Angga membuat semua menoleh.
Mukti juga langsung otomatis menoleh dia melihat Ayu dan Aksa sedang berpelukan.
“Eyang jangan ganggu kami deh,” protes Aksa tanpa malu atau merasa bersalah memeluk Ayu di depan semua orang.
Ayu langsung melepaskan diri karena banyak yang melihat dia ada dalam pelukan Aksa.
‘Sama aku boro-boro meluk, gandeng tangan aja enggak pernah. Bahkan saat nyebrang atau apa pun dia enggak mau aku pegangin. Memang sih aku pernah suapin dia waktu cicipin makanan di resto tapi kan enggak akrab seperti itu,’ protes Mukti dalam hatinya.
“Tadi sama Papa juga enggak peluk. Kamu cuma cium tangan. Sama eyang kamu cium pipi,” protes Abu bikin panas Mukti.
Ayu langsung tersenyum, dia jadi malu sendiri lalu dia menghampiri Laksmi dan Dwi untuk salim pada keduanya tentu saja kalau dengan Laksmi dia tetap memeluk dan menciumnya.
“Loh datang kok nggak salim sama Mas?” Sonny keluar dari kamar. Dia kaget ada heboh-heboh, ternyata Mukti sudah datang.
__ADS_1
“Eh calon pengantinnya keluar. Kirain enggak ada di sini Mas,” kata Ayu dia pun memberi salim pada Sonny.
“Ya pasti sudahlah. ‘Kan aku berangkatnya sama mama dari Solo,” jawab Sonny pada gadis yang sekarang jadi idola di keluarganya itu.
“Oh iya, aku lupa Mas,” kata Ayu.
“Jadi tinggal nunggu keluarga eyang Soetiono?” tanya Ayu.
“Iya eyang sudah berangkat kok, sore nanti sampai,” Ambar menjawab pertanyaan Ayu.
“Mereka naik kereta pagi Ma?” tanya Mukti.
“Iya, mereka naik kereta pagi. Sore ini sampai. Nanti om Yapie yang jemput lagi,” jawab Sonny.
“Enggak. Enggak apa-apa Om Yapie yang jemput. Itu sudah aku atur,” kata Sonny.
“Kalau mobil lain mulai besok ada yang aku sewa dari rental untuk kita semua.”
“Oke siap Mas,” kata Mukti.
Ayu, Laksmi, dan Ambar langsung ke ruang dapur. Mereka bersiap masak untuk makan siang.
“Mama mau bikin apa?” tanya Ayu.
“Mama sudah bawa rendang banyak Yu. Ada juga ayam ungkep, ayam buat di bakar dan makanan beku lainnya. Kita keluarkan tiap akan makan saja. Disini tinggal kita bikin tumisan aja buat seratnya,” jelas Ambar.
__ADS_1
“Mama ada buah yang mau aku bikin salad atau jus?” tanya Ayu.
“Tante bawa banyak buah naga. Itu dibikin apa enaknya?” kata Laksmi.
“Mama bawa bumbu salad enggak Ma? Sesuai dengan catatan yang aku minta kemarin,” Ayu malah bertanya bumbu salad karena dia lihat ada biah lain. Biar dia bisa mix untuk salad saja.
Memang Ayu dan Ambar kemarin bicara soal makan selama mereka di rumah ini sebelum pindah ke rumah keluarga Ariel setelah akad nikah nanti.
“Bawa masih di tas kayaknya. Campur sama madu dan su5u eyang. Coba ambil di kamar Mama.” jawab Ambar sambil mulai memasak nasi.
“Iya Ma,” jawab Ayu.
”Mas, bisa tolongin aku?” pinta Ayya.
“Kenapa?” tanya Mukti datar.
“Ambilin bahan makanan di kamar Mama. Aku enggak enak masuk ke kamar mama,” jelas Ayya.
“Ambil aja kalau kamu disuruh mama,” jawab Mukti.
“Tolongin lah Mas. Tapi ya sudah enggak usah. Aku akan minta toling Aksa saja,” jawab Ayya tanpa menunggu jawaban Mukti dia langsung berbalik badan menuju halaman belakang.
“### Oke,” jawab Mukti walau sudah ditinggal Ayya. Dia langsung ke kamar Ambar untuk mencari barang yang diminta oleh Ayya.
__ADS_1