
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Menurut pendapat kamu ini kurang apa?” tanya Mukti sambil menyodorkan layar monitornya. Mau tak mau Ayu menggeser tubuhnya agar lebih jelas menatap layar monitor laptop Mukti.
“Kalau saya bilang ini hurufnya terlalu kecil pak dan di titik ini Sepertinya harus ditambah dengan tambahan sentuhan bunga atau apa yang saya juga enggak mengerti. Mungkin pita atau apa gitu,” kata Komang Ayu dengan serius.
“Seperti ini maksud kamu?” tanya Mukti setelah dia edit sesuai pendapat Ayu.
“Bener Pak.”
“Kamu dari tadi manggil saya PAK. Mulai hari ini saya akan kasih kamu sangsi! Satu kali kamu panggil Pak saya akan kasih kamu hukuman.”
“Eh jangan hukuman dong Pak, eh tuh kan pak lagi, Aku tuh bingung deh,” Kata Komang Ayu yang tak sadar menyebut dirinya aku.
“Lalu maunya apa kalau enggak dihukum? Kamu selalu panggil aku pak,” protes Mukti.
“Iya deh Mas, apa ya? Tapi jangan hukuman lah,” pinta Komang Ayu.
“Denda gimana?” Mukti menawarkan alternatif hukuman yang harus Ayu bayar.
“Apa saya sanggup bayar kalau di denda?” jawab Ayu bingung.
“Ya dendanya bukan uang,” jawab Mukti.
“Lalu?” tanya Komang Ayu tanpa sadar.
“Ya kamu pilih aja mau cium aku, mau pijitin aku, mau apa lagi ya?” belum selesai Mukti bicara Ayu sudah menjawab.
“Enggak, enggak, enggak,” Komang Ayu berulang-ulang mengatakan enggak tanpa sadar. Tentu dia tidak mau dihukum dengan harus mencium Mukti. Ayu menjawab sambil menggeleng dan menutup bibirnya.
Mukti tertawa terbahak-bahak, membuat banyak pengunjung di cafe itu yang melihat mereka.
Memang Mukti hanya menggoda saja tak mungkin dia meminta Komang Ayu melakukan hal tersebut, karena mereka juga baru kenal. Tapi karena rasa nyaman Mukti sudah berani menggoda Komang Ayu seperti itu.
__ADS_1
Mukti tertawa karena respon spontan Ayu yang sangat polos sangat menggodanya.
“Yang ini bagaimana?” lanjut Mukti saat mereka telah kembali serius.
“Itu warnanya lebih bagus kalau gold Mas, kalau silver kayaknya mati. Desain semuanya sudah bagus,” ulas Komang Ayu.
“Aku juga tadinya mau ambil gold tapi kok kayak ragu.” Akhirnya Mukti membuat dua warna dan dia sandingkan.
“Nah benar kan Mas kalau silver itu kayaknya mati tapi kalau gold lebih hidup,” Ayu tanpa ragu mengucapkan pendapatnya.
Sampai cukup lama mereka bekerja seperti itu, Mukti juga mengajarkan beberapa tabel yang harus dibuat oleh Komang Ayu.
Mukti juga memberi beberapa file yang harus dirapikan oleh Komang Ayu di laptop. Dia langsung mem-forward data yang harus dikerjakan oleh Ayu.
“Mas jangan lupa lho belum pesan tiket ke Solo padahal sekarang sudah hampir makan siang,” kata Komang Ayu mengingatkan Mukti.
“Astagfirullah, aku tuh kalau sudah kerja sering lupa. Untung kamu ingetin. Besok-besok kamu yang langsung pesan tiket ya. Ini nomor telepon wa-nya, ini emailnya.”
Mukti mengajarkan cara pesan tiket di WA dan cara mengakses email travel yang biasa dia gunakan. Mukti juga memberikan data diri sendiri juga mama, papa, eyang Angga, dan Aksa juga Tante Laksmi dan sebagainya agar kalau Komang Ayu harus memesankan semua sudah ada datanya.
“Ini travel yang buat pesan tiket kereta yang biasa aku minta. Kalau ada apa-apa bilang atas nama bapak Mukti lalu ini nomornya.”
“Baik P eh Mas,” kata Komang Ayu yang hampir salah sebut lagi.
“Jelas ya? Besok-besok langsung kamu yang pesan,” tegas Mukti.
“Iya Mas, akan saya ingat.”
“Jadi besok kita penerbangan yang jam berapa?” Tanya Mukti untuk memastikan bahwa Ayu sudah berhasil mengerjakan tugas pertamanya.
“Tadi dapat yang jam 09.10 Mas.”
__ADS_1
“Oke nanti kamu yang lapor ke mama, maksimal jam 07.00 besok kita habis sarapan jalan ke bandara.”
“Ya Mas jawab,” Ayu.
“Saya bisa minta tas besar enggak Mas?” tanya Komang Ayu.
“Kenapa?” Jawab Mukti.
“Semalam Ibu Adelia memberikan saya beberapa pakaian tapi dalam kardus. Enggak mungkin kan saya bawa kardus ke bandara? Lebih enak pakai travel bag yang besar. Kalau pakai koper rasanya ribet.”
“Kenapa tadi malam enggak minta sama Kak Adel aja sekalian?” tanya Mukti.
“Ya enggak enak lah Mas. wong saya sudah dikasih baju, kok malah minta travel bag. Yang enggak enggak aja.”
“Ya sudah nanti kita cari aja pulang dari sini,” jawab Mukti tak merasa direpotkan.
“Boleh enggak saya aja yang bayar? Kan sisa uangnya di saya masih banyak. Saya enggak mungkin pegangin terus kebanyakan seperti ini.”
“Kamu sudah cek dana buat selamatan ibumu? Pakai aja buat itu,” balas Mukti.
“Sudah Mas, sudah selesai hari ketujuh dan tidak ada kurang keuangan untuk selamatannya ibu.”
Saat itu ponselnya Komang Ayu bergetar, Ayu melihat ada panggil dari nomor papanya.
“Maaf Mas, saya izin angkat telepon,” Ayu izin akan bicara.
“Dari siapa?” Tanya Mukti sambil melirik.
“Dari papa,” jawab Ayu sambil memperlihatkan layar ponselnya.
“Angkat aja di sini, enggak usah pindah ke mana-mana. Kamu diam di sini enggak ada yang perlu kita rahasiakan dan enggak perlu ada kebohongan,” kata Mukti.
“Baik Mas,” Ayu segera menggeser icon ke arah menerima panggilan.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY yok
__ADS_1