
“Sudah lama Pak?” tanya Mukti.
“Baru Mas Mukti. Tadi begitu saya tiba di sini, ada pengumuman bawa pesawat Mas baru aja landing,” kata Om Yapie yang menjemput Mukti dan Komang Ayu di bandara.
“Hotelnya di mana?” tanya Mukti pada om Yapie.
“Kan enggak di hotel Mas? Kemarin Mama kan udah bilang,” tukas Ayya mengingatkan Mukti.
“Oh iya, aku lupa kalau Om Ariel kasih satu rumah buat kita tinggalin bersama-sama untuk acara ini,” jawab Mukti sambil memasang seat beltnya.
“Batul,” kata Om Yapie dengan logat Ambon-nya.
“Dong ada kase ruma satu blok dari rumah Pak Sjahrir. Ruma basar deng 7 kamar. Tetapi kemarin suda ditamba beberapa kasur untuk digelar. Kalau kurang nanti akan ditamba kasur lai,” jelas om Yapie. Sonny masih mengerti bahasa Ambon, tapi Mukti tak mengerti dengan apa yang diucapkan om Yaapie. Dia hanya bisa mengira-ira saja.
Abu memang menaruh semua keluarganya sekalian di rumah itu jadi keluarga dari Jember pun tinggal di situ. Termasuk Laksmi dan anak-anaknya dari Surabaya. Awalnya dia akan menyewa hotel dekat dengan tempat acara, tapi Ariel calon besan yang juga sahabatnya melarang dan menyediakan satu rumah kosong.
“Biar kami yang muda-muda nanti di luar enggak apa-apa kok,” Kata Mukti.
“Itu suda Mas. Diatur saja. Kemarin kami sudah tambah banyak kasur sehingga tidak ada yang tidur di sofa.
”Tujuh kamar kayanya cukup sih. Satu untuk mama papa, kedua untuk Eyang Angga dan Eyang Soetiono, ketiga untuk Pakde Pras keempat untuk Pakde Pram, kelima untuk tante Laksmi, keenam untuk Komang Ayu dan ketujuh untuk aku dan Aksa.” Hitung Mukti.
__ADS_1
“Cukup kok kayaknya, enggak ada lagi keluarga tambahan. Anak dan cucu bisa gabung di kamar orang tua dengan kasur lantai,” jawab Mukti selanjutnya.
“Nanti kalau ada tambahan bisa tambah kasur. Lagi kan hanya sampai acara akad saja, sesudah itu semua pindah ke rumah Pak Ariel,” jelas om Yapie.
“Kita lihat saja, mama pasti sudah atur semuanya,” kata Mukti.
“Kemarin Pak Ariel bilang seperti itu, sehabis akad langsung semua tinggal di rumah dia tidak boleh di rumah depan. Kalau sebelum akad kan untuk formalitas memang biar calon pengantin tidak satu rumah.”
“Mas kamu enggak hitung Mas Sonny. Kan butuh satu kamar sendiri. Biar aku aja yang di kasur luar enggak apa-apa,” potong Ayya.
“Mana boleh perempuan yang di luar kamar. Biar nanti dan Aksa aja yang ngalah.”
Mukti dan Ayya memang masih sama-sama menjaga mulut. Mereka masih sama-sama tidak bertegur sapa untuk hal-hal yang tidak urgent.
“Assalamu’alaykum,” sapa Komang Ayu sambil mengulurkan tangan pada Angga.
Angga menyambut uluran tangan tersebut dan langsung menarik Ayu untuk dia peluk. Angga menganggap Ayu adalah cucunya.
“Eyang kangen banget sama kamu cucu Eyang yang paling cantik,” kata Angga. Wajar dia berkata seperti itu karena 5 cucunya tak ada yang perempuan.
Ayu pun mengecup punggung tangan Angga juga pipi lelaki sepuh tersebut.
__ADS_1
“Sudah dong Eyang, gantian,” protes menantunya.
“Mama aku kangen,” kata Ayu sambil mengecup punggung tangan Ambar, lalu dilanjut dengan peluk erat keduanya.
“Mama juga kangen kamu,” kedua perempuan tersebut terus berpelukan
“Sama Papa enggak kangen?” tanya Abu menunggu giliran.
“Kangen lah Pa. Kangen sama semua terlebih sama Aksa. Mana si ganteng kekasih hatiku itu?” jawab Ayu.
“Dia sedang di kebun belakang bersama Fahri dan Farhan,” jawab Abu setelah menerima salim dari Ayu.
“Loh Tante Laksmi sudah datang?”
“Tante Laksmi tadi pagi datang, harusnya besok tapi ternyata mereka juga enggak sabaran kumpul keluarga besar,” jawab Angga.
“Aku salim Tante dulu,” kata Ayu setelah dia salim kepada Abu.
‘Mereka bahkan tidak memperhatikan aku yang anak atau cucuknya. Aku benar-benar sudah tergeser begitu ada kehadiran Ayya,’ batin Mukti yang masih keki sama Ayya.
__ADS_1