
Habis sarapan Mukti sibuk dengan empat orang tukang yang datang untuk membongkar kamarnya dulu untuk dijadikan satu dengan kamar Ayya menjadi kamar yang super besar. Lalu nanti juga akan dibangun dua kamar tambahan yaitu persiapan untuk kamar anak-anak. Tapi sebelum ada anak-anak, kamar yang baru akan digunakan sebagai kamar untuk para tamu yang hadir atau datang.
Tentu saja sebelum kamar lama dibongkar semua barang harus dikeluarkan. Itu yang membuat Mukti harus langsung terjun yaitu menyuruh empat orang tukang itu membereskan barangnya secara hati-hati dan pelan-pelan. Terlebih lukisan yang tak ada penggantinya. Bukan soal harga frame dan kaca tapi nilai historisnya. Dia tak mau ada cacat atau lecet sedikit pun untuk lukisan-lukisannya.
Dia juga minta kamar mandinya di pindah karena kamar mandi dia dan kamar mandi Ayya itu kan nempel bersebelahan tapi bila kamar digabung letak kamar mandi ada di tengah.
Mukti minta kamar mandi di pindah di sudut tapi dengan size yang lumayan besar. Nantinya ada jacuzzi di dalam kamar mandi, bukan hanya sekadar bathtub.
Berhubung Mukti sibuk dengan para tukang, Ayya langsung ngibrit ke dapur. dia langsung sibuk dengan Bu Pinem.
“Bu Pinem masak yang untuk umumnya tolong ditambah untuk 4 orang tukang ya. Jangan sampai mereka makan di luar. Jadi beritahu mereka sebelum istirahat. Biar mereka makan sekalian sama semua pegawai. Aku nggak mau tukang-tukangku makan di luar, sedangkan di sini kita masak untuk para pegawai.” Ayya sebagai nyonya rumah memerintah bu Pinem.
“Iya Mbak saya akan tambah porsi untuk para tukang agar mereka makan bersama para pegawai,” kata Bu Pinem. Tentu saja Bu Ikhlas diminta membantu di dapur karena pekerjaan Bu Ikhlas untuk sementara ditunda dulu karena debu akibat pembongkaran. Tak ada yang perlu dibersihkan dan dirapikan. Paling hanya sekedar cuci baju dan setrika saja. Itu pun hanya sedikit, dua pasang baju majikannya. Biasanya Ayya lebih senang bajunya dan baju Mukti dicuci dengan tangan saja. Hanya perlu dikucek, tidak perlu disikat karena baju mereka tidak kotor.
__ADS_1
“Saya tadi dapat baju kok sangat kotor ya? Kena tumpahan coklat apa Mbak?” tanya Bu Ikhlas.
“Itu tragedi tadi malam yang membuat saya sakit. Saya disiram es krim satu mangkok besar di dada. Sehingga saya terpaksa malam-malam mandi air dingin karena baju saya sudah basah semua seperti itu. Sekarang urusannya sudah ditangani polisi.”
Ayya hanya meminta bu Pinem dan bu Ikhlas menggoreng tempe, membuat ayam asam manis dengan nanas. Dia bikin sambal terasi biasa tapi digoreng. Itu saja. Tentu ada kerupuk.
“Ini mau di apakan?” tanya bu Ikhlas.
“Itu tumis pedas saja Bu,” kata Ayya ketika ditanya daun pepaya mau dibikin apa. Dia segera menyiapkan bumbunya. Jadi menu makan siang mereka tambah satu menu.
“Ditumis yang pedas, jangan lupa banyakin daun jeruknya, sehingga aroma daun jeruk pada bumbu itu sangat terasa. Ini bumbu ayam masak nanasnya sudah aku racik.!
“Habis ini aku duduk saja ya. Nanti kalau aku ketahuan masak ada yang lapor ke mama atau kak Adel. Aku bisa disemprot,” kata Ayya. Dia pun langsung duduk di kursi dapur sambil ngemil keripik kentang. Dan mereka bercerita aneka topik ringan.
__ADS_1
“Kamu nggak masak kan Yank?” tanya Mukti yang tiba-tiba datang ke dapur.
“Apa Mas nggak lihat dari tadi aku duduk manis di sini? Hanya menjadi mandor Bu Ikhlas dan Bu Pinem.” Ayya terus mengunyah keripik kentang dengan santai. Untung dia sudah selesai meracik bumbu. Ketika Mukti mendekatinya dia suapi kekasihnya dengan keripik kentang.
“Ibu tolong ya jangan sampai dia masak. Pokoknya dia nggak boleh masak,” kata Mukti memberi perintah pada kedua ibu yang sedang sibuk itu. Dia menerima suapan keripik kentang dari tangan bidadari pemilik kapling hatinya.
“Iya pak Mukti, nggak akan saya perbolehkan Mbak Ayu masak kok,” sahut bu Pinem.
“Sekarang tolong kasih air dingin dulu buat 4 tukang. Kasihan mereka pasti lelah. Aku tadi ke dapur mau minta air putih,” jawab Mukti.
“Saya siapkan,” kata Bu Ikhlas. Dia mengambil 3 botol air es dan 4 gelas yang ada tutupnya agar tidak kena debu bila gelas itu sedang tak dipergunakan.
“Iya Mas, kalau aku masak marahin Bu Pinem saja,” ucap Ayya dengan senyum jahil.
__ADS_1
“Lah kok jadi saya yang kena getahnya?” kata bu Pinem sambil tersenyum-senyum. Dia tak percaya Mukti bisa seperti itu. Sangat lembut dan kolokan kalau bersama Ayya. Padahal selama ini Mukti itu hambar dan keras. Boro-boro suka ngobrol atau bercanda dengan karyawannya.