CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
USUL ADELIA


__ADS_3

“Ayu, Mukti sekarang giliran Papa yang bicara,” kata Abu serius.


Tentu saja kedua pasangan itu mendengarkan dengan saksama san mereka juga deg-degan melihat wajah Abu saat ini.


“Ayu, kamu tahu kan baik Silvana maupun Saras atau mungkin nanti ada perempuan lain di luaran sana membuat kamu menjadi sasaran kebencian mereka. Itu semua pangkalnya adalah karena Mukti! Mereka mencintai Mukti, bukan mencintai sih. Rasanya mungkin terobsesi. Kalau cinta tentu tidak seperti itu,” kata Abu.


Ayya membenarkan apa yang Abu ungkapkan, sementara Mukti jadi merasa tak enak sebab karena dirinya Ayya menjadi sasaran tembak para perempuan yang tak ia sukai itu.


“Tadi pagi kak Adel pesan pada Mas Sonny. Lalu Mas Sonny menyampaikan sebelum kalian datang. Papa, Eyang dan Mama setuju dengan apa yang disampaikan kak Adel.”


“Kak Adel minta kalian cepat menikah!” ucap Abu tegas. Ayya tak percaya kakak iparnya meminta sedemikian rupa. Ayya tak tahu apa pertimbangan kak Adel, tapi dia masih tak percaya saja.


Ayya menoleh, memperhatikan tunangannya yang juga masih bengong.


“Papa ingat ketika kalian tunangan di Jakarta. Di kamar rumah Om Ariel, Mukti bilang kan sehabis pameran kalian akan memikirkan pernikahan kalian. Sekarang pameran telah usai. Papa ingin kami sekeluarga bisa datang melamarmu secara resmi ke papa Wayan. Kami tak ingin kalian tertunda lagi karena ada masalah baru. Kami tidak ingin tragedi kafe kemarin terulang lagi atau tragedi saat kamu disiram kopi. Kami ingin semua orang, seluruh dunia tahu kamu adalah istrinya Mukti. Kamu adalah anak mama Ambar, kamu adalah anak Papa. Itu yang kami inginkan. Kami tidak ingin terjadi tragedi lagi. Sama sekali tidak ingin.”


Ayya hanya menunduk dia ingat waktu itu memang Mukti bilang mereka akan nikah begitu selesai acara pameran di Solo.


“Bagaimana Yu?” tanya Ambar melihat calon menantunya hanya menunduk.

__ADS_1


“Aku nggak akan ingkar janji Ma. Memang waktu itu aku juga tahu Mas Mukti bilang habis pameran akan menikah. Tapi kan kita belum bicara apa pun.” jawab Ayya masih tetap menunduk.


"Ya kita bicarakan begitu kamu sudah oke bahwa kami akan melamarmu,” kata Angga.


“Aku terserah Mas Mukti saja,” jawab Ayya sambil mengangkat wajahnya memandang Mukti. Dia tak menolak. Itu membuat Mukti seperti di guyur air es.


Tanpa diminta dua kali Mukti langsung memeluk erat tunangannya. Dia kecup pipi dan kening Ayya.


“Aku setuju banget Ma, Pa. Terima kasih buat kak Adel yang menyarankan seperti itu. Jujur aku sangat takut. Sangaaaaaaat takut terlebih Ayya sudah bilang ke Mama, dia tidak bisa menepis bayangan video tentang pergulatan aku yang dia terima di ponselnya.”


“Alhamdulillah Mas Sonny memberikan bukti bahwa video tersebut adalah rekayasa karena dalam rekaman CCTV jelas aku nggak ngapa-ngapain sepanjang malam itu. Jadi aku sungguh berharap kenangan di dalam otak Ayya yang melihat aku melakukan hal buruk itu bisa Ayya hapus karena itu bukan cerita yang sebenarnya. Aku sama sekali tak terpengaruh dengan videonya Ayya karena begitu melihat aku langsung yakin itu bukan dia! Tapi kalau Ayya kan tidak bisa seperti itu. Dia merasa aku pernah berumah tangga sehingga aku terbiasa melakukan itu. Dalam hal ini, kita juga nggak bisa menyalahkan bayangan itu ada. Tapi sekarang aku harap bayangan itu bisa Ayya hilangkan dari benaknya.”


“Sebenarnya sulit Mas. Jujur aku syok melihat video yang masuk ke ponselku. Tapi saat kemarin melihat video CCTV aku mulai berupaya mensugestikan diriku bahwa video di HP-ku adalah hasil rekayasa atau editan. Tapi tentu tidak semudah kita membalik telapak tangan. Seperti tadi Mas bilang sendiri, aku punya pandangan Mas terbiasa melakukan itu sehingga bayangan tersebut sulit aku hapuskan.” Ayya menarik napas.


“Jadi kita kapan ke Bali?” kata Sonny.


“Apa kak Adel aman untuk terbang ke Bali?” tanya Ayya. Dia tak ingin kakaknya tidak hadir saat dia lamaran atau pernikahan.


“Berapa lama waktu yang kalian butuhkan untuk jarak dari lamaran ke pernikahan? Kalau bisa aku ingin dalam waktu satu minggu. Jadi satu minggu ini kita lamaran minggu berikutnya kamu sudah menikah. Jadi Adel hanya satu kali berangkat ke Bali selama kehamilan ini.” todong Sonny.

__ADS_1


“Tapi kalau tidak bisa aku akan upayakan dari Jogja aku naik kereta ke Surabaya. Nanti dari Surabaya baru ke Bali naik pesawat sehingga meminimalisir waktu tempuh di pesawat karena ibu hamil sebenarnya aman sih naik pesawat yang ditakutkan hanya turbulensi atau goncangan pesawat. Atau pilihannya aku ke Banyuwangi naik kapal ke Bali. Nanti aku tanya Adel lah mana yang aman buat dia.”


“Kalau soal jeda waktu antara lamaran dan pernikahan itu tentu Mama yang lebih tahu. Aku nggak bisa mutusin. Mas tahu aku enggak ada ibu yang akan urus pernikahan,” balas Ayya. Mukti trenyuh mendengar Ayya seperti ini.


“Kamu punya mama Vonny,” ucap Angga.


“Ya, kamu ada Vonny dan Laksmi. Mereka anggap kamu anak koq,” ucap Abu menyetujui pendapat Angga.


“Berapa maksimal waktu Adelia bisa libur di Bali?” tanya Ambar pada Sonny.


“Kalau urusan libur mau dua minggu mau sebulan mau tiga bulan sebagai pemilik kan nggak ada masalah,” kata Angga mengingatkan kalau rumah sakit itu milik Adel pribadi.


“Masalahnya adalah dia praktek Eyang. Bukan sial kantor rumah sakitnya.” jawab Sonny.


“Cari dokter pengganti sehingga dia bisa satu bulan di Bali. Kita lamaran dengan waktu pernikahan jeda hanya 2 minggu paling lama 3 minggu sehingga Adel hanya butuh waktu satu kali penerbangan. Mungkin Mama sama Papa bisa bolak-balik pulang ke Solo dulu setidaknya Papa. Karena dia banyak pekerjaan. Begitu pun Sonny bisa tinggalkan Adel di Bali bersama Mama. Aksa juga sehabis lamaran pulang dulu karena dia sekolah jadi Mama sama Adel yang stand by di sana.”


“Oke kalau begitu aku akan atur waktu cari dokter pengganti,” jawab Sonny.


“Urusan pekerjaanku belum selesai lho Ma. Aku masih dua minggu lagi di sini. Tiga minggu lah dengan liburannya. Masa habis kerja aku langsung pulang?”

__ADS_1


“Oke 1 bulan dari sekarang kita lamaran lalu 3 minggu kemudian langsung ke pernikahan,” kata Ambar.


“Satu bulan ini persiapan Mama untuk Mama matangkan mengurus semua keperluan pernikahan dan merekurt team inti Mama seperti mama Vonny dan Laksmi juga Sri.”


__ADS_2