CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
WALLPAPER YANG MENGEJUTKAN


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Ayo Pak, kita lihat ke dalam,” ajak Mukti pada Wayan dengan sopan.



“Ini kenalkan Pakde Saino dan Bude Lastri atau Bude Ati yang biasa menjaga ibunya Ayya ketika saya belum tinggal di Badung,” Wayan memperkenalkan Saino dan Ati.



Mukti menyalami dua orang tua yang sangat berjasa bagi Ayya itu. Tanpa mereka tentu Sukma terlantar dan Ayya tak bisa cari uang di Jakarta untuk membiayai pengobatan ibunya itu.



Mereka pun masuk ke dalam ruang rawat IGD. “Tadi dokter menyuruh nunggu 3 jam dulu untuk mengetahui reaksi tubuh Ayya terhadap obat yang disuntikan. Kalau aman boleh pulang kalau enggak aman nanti harus dirawat,” Mukti menjelaskan pada Ayya dan 3 orang tamunya.



Wayan menciumi Ayya. Dia tak percaya anak yang baru dia ‘temukan’ malah harus terbaring sakit seperti saat ini.



“Semoga aman ya Nduk?” doa bude Ati.



“Iya Bude doain ya,” pinta Ayya tulus. Lastri langsung mengecup keningnya Ayya.



“Papa tahu dari mana? Siapa yang telepon?” tanya Ayya.



“Tadi pak Mukti yang telepon Papa. Papa kira kamu yang nelpon eh ternyata pak Mukti menghubungi Papa pakai nomor kamu,” jelas Mukti.



“Saya kan enggak punya nomor Bapak bagaimana saya mau nelpon Bapak pakai nomor saya? Kalau saya hanya copy nomor Bapak dari ponsel Ayya dan saya hubungi dengan nomor saya, saya takut malah tak diangkat,” kata Mukti



“Oh iya Nak. Kalau gitu saya kasih nomor saya sekarang ya biar saya gampang menghubungi anda.”  Lalu mereka pun saling bertukar nomor telepon.



‘*Koq cepet berubah ya panggilannya*?’ Ayya mendengar panggilan Nak dari Wayan buat Mukti, tadi menyebut Pak buat Mukti.

__ADS_1



“Maaf saya terima telepon silakan ngobrol dengan Ayya,” kata Mukti yang kembali menerima telepon dari Ambar.



“Iya Ma?” jawab Mukti.



“Bagaimana kondisinya?”



“Luka bakarnya cukup lumayan Ma. Sekarang sedang nunggu reaksi obat suntik yang dokter berikan. Kalau 3 jam lagi enggak bermasalah dia boleh pulang. Dia boleh beraktivitas seperti biasa cuma enggak boleh kena air badannya yang kena luka bakar.



“Kamu tidur di rumah aja.” saran Ambar.



“Iya aku tadi sudah telepon Bi Darmi katanya rumah kosong Jadi aku mau ke rumah aja,” kata Mukti.



“Mobilku juga sedang diantar ke sini oleh sopir,” jelas Mukti.




“Enggak Ma, aku khawatir sama Ayu. Jadinya yang bawa mobil temanku. Kalau mobilku kan enggak bisa bertiga.



“Ya sudah hati-hati kabarin Mama perkembangannya ya. Sekarang Mama mau bicara dengan anak Mama. Berikan teleponnya pada dia,” pinta Ambar.



“Dia sedang ada papanya Ma. Nanti aja ya bicaranya,” cegah Mukti.



“Sebentar aja, nanti keburu dia tidur. Pasti obat suntik akan membuat putri Mama tertidur,” desak Ambar.



Tak bisa menolak permintaan mamanya Mukti pun kembali masuk ke ruang rawat IGD.


__ADS_1


“Maaf mengganggu, Ya, Mama mau bicara sebentar,” Mukti memberikan ponsel miliknya ke Ayya.



‘*Mama*?’ pikir Wayan.



“Iya Ma?”



“ ….”



“Aku enggak apa apa Ma. Mama enggak perlu khawatir, Mama jaga kesehatan. Mama sekarang kan lagi sibuk buat pernikahan kak Adel dan Mas Sonny. Enggak perlu ke sini. Aku boleh pulang koq,” entah apa yang Ambar bicarakan tak ada yang tahu kecuali Ayya. Tapi sepertinya perempuan yang dipanggil mama oleh Ayya sangat khawatir pada kondisi Ayya dan ingin segera mengunjunginya di Denpasar.



“ ….”



“Iya Ma, aku akan bilang Mas Mukti. Tapi sebaiknya Mama juga bilang ke mas Mukti. Kalau hanya aku yang bicara mana dia mau? Terlebih selain persiapan pameran Solo, di sini kerjaan juga lagai banyak. Harusnya besok kami mau ke kantor dinas pariwisata propinsi,” jelas Ayya.



“ ….”



“Iya Ma. Mama juga jaga kesehatan ya. Salam buat eyang Angga dan Aksa. Assalamu’alaykum.”



Dari pembicaraan itu jelas Wayan, Ati dan Saino tahu perempuan yang telepon sangat menyayangi Ayya.



Sejak memberikan ponsel pada Ayya, Mukti keluar ke kantin. Dia membeli nasi box untuk semua termasuk Ayya. Pasien di IGD tak dapat jatah makan malam.



Ayya tercengang melihat wallpaper ponsel Mukti yang baru saja terlihat setelah pembicaraan dengan Ambar terputus.



Ada yang tahu wallpapernya apa atau siapa? Jawabannya eyang tunggu di komen manis yaaaaa.


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.

__ADS_1


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR yok.



__ADS_2