
“Sekarang kita masuk ke masalah yang sedikit ada kaitannya yaitu masalah Silvana.”
“Seperti kalian tadi dengar Silvana itu pertama diminta mencari artis buat menjebak Mukti. Sebagai orang yang juga menggila-gilain Mukti Silvana tentu cari celah, dia tak ingin Mukti jatuh ke tangan adiknya. Tapi dia tetap melaporkan apa yang Saras minta karena rupanya kalau Silvana atau Silva mengirim info, Saras akan langsung mengirim uang. Keuangan Saras lebih kuat dari keuangan Silva.”
“Silvana tidak tahu kasus tragedi di cafe. Bagaimanapun kerasnya orang-orangnya papa menekan dia, bagaimanapun kerasnya orang-orang papa menekan teman-teman satu timnya, Silvana sama jawabannya. Tidak tahu masalah di cafe. Dia hanya tahu disuruh cari artis tidak tahu mau buat apa. Tentu saja dia dan Saras tahu maksudnya ARTIS, tapi dia tidak tahu tentang rekaman video juga masalah hilangnya CCTV sama sekali.”
“Melihat Mukti terus ada di pameran Silva jadi terinspirasi ingin menjebak Mukti. Itulah mengapa dia datang tiap hari mencari celah buat mendekati Mukti. jadi kalau kita lihat dia datang setiap hari. Benar dia ada tiap hari tapi dia baru cari celah bukan dia dalang tragedi.”
“Tapi karena kedatangan dia tiap hari itulah aku jadi dapat linknya dia dengan Saras. Itu juga karena Ayya bilang dia ada tiap hari.” kata Sonny.
“Kembali ke masalah Silva. Silva yang menjebak Wayan, tujuannya bukan untuk menangkap Wayan, melainkan menggunakan Wayan sebagi umpan. Dia dulu pernah juga menjebak Mukti saat di mess Solo yaitu agar Mukti datang menghampiri Wayan yang dia bilang sedang sakit.”
“Kemarin dia baru akan membawa pulang Wayan dengan tujuan agar Mukti mendatanginya. Tapi ternyata dia keduluan oleh Mukti dan Made yang membawa pulang Wayan ke rumah kita.”
“Jadi kejahatannya Silvana belum tercapai sama sekali. Dia belum pernah menyentuh Mukti. Dia baru sampai ke titik Wayan. Tapi sudah ditangkap Papa. Karena itu waktu kemarin di rumah makan dia sudah berharap akan mendapatkan Mukti. Begitu Ayya dan Mukti pingsan oleh anak buahnya tapi ternyata malah anak buahnya ketangkap oleh orang-orangnya Papa.”
“Kalau untuk Silvana orientasinya memang hanya untuk mendapatkan Mukti. Dia tak seperti Saras yang ingin mencelakakan Ayu.”
__ADS_1
“Jadi kakak adik sama-sama terobsesi pada Mas Mukti?” tanya Ayya.
“Ya. Mereka sama-sama terobsesi tapi tak saling tahu kalau mereka menyukai orang yang sama.”
“Jangan-jangan mamanya juga terobsesi. Karena itu faktor genetik,” goda Angga.
“Bisa jadi Eyang, namanya juga darah keturunan,” jawab Ayya.
Mukti hanya bisa cemberut digoda oleh eyang dan Ayya. Dia sungguh tak percaya bahwa dua kakak adik itu mempunyai jiwa yang sama dan sama-sama buruk perangainya.
“Tetap ada Ma. Tetap ada jalur hukum untuk Silva. Kita akan tuntut dia dengan perbuatan tak menyenangkan dan percobaan hal buruk karena terbukti dari pemberian cairan di lemon tea milik Ayu dan Mukti. Kan kita sudah ada rekaman CCTV nya semua. Jadi tetap dia ada kasus hukumnya. Berhasil atau tidak atau belum berhasil, tetap ada sanksi hukum,” ucap Sonny.
“Aku pikir dia tidak akan kena sanksi hukum,” jawab Ambar.
“Ada lah Ma. Wong ada rekaman CCTV-nya kok. Bukti bahwa mereka memberikan obat tidur. Kalau mereka memberikan obat tidur tanpa sanksi, enak banget.”
“Ya benar. Kalau begitu kapan mulai bergerak?” kata Abu tak sabar.
__ADS_1
“Sudah bergerak Pa. Sudah bergerak. Papa tenang saja. Andri sudah ditangkap tadi pagi, lalu satpam yang ada di cafe masih ada di tanganku karena kemarin aku culik dia untuk membuat pengakuan siapa dalangnya. Kalau dia nggak diculik tentu dia nggak akan buat pengakuan dan kita belum tahu siapa dalangnya. Kita cuma tahu rekaman CCTV-nya yang asli tapi nggak tahu dalangnya.”
“Alhamdulillah kalau semuanya sudah selesai,” kata Ambar.
“Ya alhamdulillah,” jawab Sonny.
“Mukti, Ayu, kalian masih ada ganjalan dengan masalah Silvana dan Sarasvati?” tanya Sonny.
“Nggak Mas. Alhamdulillah dari aku sudah selesai. Lebih-lebih kalau memang jalur hukum sudah ditempuh Mas Sonny dan Papa,” kata Ayya.
“Dari aku juga sudah selesai. Aku bersyukur semuanya jelas. Aku sangat takut kalau aku memang melakukan hal buruk walau itu di luar kesadaran. Tentu saja Ayya akan tetap merasa ji-jik terhadap aku,” kata Mukti lega.
“Oke tuntas ya Pa, Ma, Eyang?” tanya Sonny.
“Oke kita tutup kasus ini, tuntas!” jawab Angga.
“Kalau sudah berarti sekarang giliran Papa yang bicara,” kata Sonny.
__ADS_1