
‘Ma, nanti sarapan aku dan Sri mau bicara sama Mama dan papa ya? Kami akan segera check out karena aku ingin main ke cafe dulu,’ tulis Ayu saat akan salat subuh pada Ambar.
‘Ya,’ jawab Ambar
Ayu dan Sri datang ke ruang makan lebih dahulu dari Ambar dan Abu. Di sana sudah ada eyang Soetiono dan Eyang Angga
“Eyang nanti habis makan aku pamit dulu ya. Aku mau ke cafe tempat aku bekerja dulu untuk bertemu teman-teman lama, jadi aku enggak pulang bareng Eyang,” pamit Ayya lebih dulu agar tidak dicari nantinya.
“Iya Nduk, have fun aja. Hari ini kita belum ada acara apa pun koq,” kata Eyang Angga.
“Nah itu mama sama papa sudah datang, aku mau bicara sama mama papa dulu ya Eyang,” kata Ayu. Dia pun pamit pada kedua eyang tersebut.
“Sebentar ya, Mama ambil sarapan dulu,” sapa Ambar melihat Sri dan Ayu sudah duduk di sebuah meja.
“Iya Ma, santai saja,” jawab Ayu.
“Papa, mau aku bikinkan kopinya?” tanya Ayu.
“Boleh,” jawab Abu sambil mengambil makanan yang akan dia makan.
Ayu pun segera mengambil satu cangkir kopi dan satu cangkir teh juga creamer sachet dan gula karena dari hotel teh mau pun kopi belum ada belum ada rasa manis sama sekali.
“Ini kopi buat Papa dan teh buat mama,” kata Ayu ketika keduanya duduk di depannya.
“Terima kasih sayang. Mana Mas mu?” tanya Ambar.
“Belum menghubungiku Ma. Mungkin belum bangun,” jawab Ayu.
“Bagaimana belum bangun? Tadi pagi dia sudah nge gym bersama 3 adiknya,” Abu memberitahu Ayu kegiatan Mukti sejak pagi.
“Berarti mereka sedang man time Pa. Aku enggak di kasih tahu,” jawab Ayya santai.
__ADS_1
“Nah ini, baru diomongin malah telepon,” ponsel di meja bergetar. Abu dan Ambar terbelalak membaca nama penghubung.
“Ya Mas?”
“Kamu di mana?”
“Di ruang makan hotel bersama mama dan papa juga Sri.” jawab Ayya.
“Ya sudah kamu sarapan duluan saja. Mas mau mandi dulu. Kirain kamu belum di sana, Mas mau bareng.”
“Aku sudah hampir selesai koq. Habis itu mau langsung ke cafe.”
“Sebelum ke cafe kita harus ketemu dulu.” pinta Mukti.
“Baik Mas,” jawab Ayya patuh.
“Sri, saya sudah dengar keinginan kamu dan saya sudah katakan pada Ayu semalam. Kalau kamu mau bisa mengelola kantin di kantor saya di Solo. Akan ada beberapa pegawai yang ikut kerja di kantin tapi untuk sementara kamu yang pegang keseluruhannya.”
“Alat dan bahan kamu bicara dengan ibu Ambar ya nanti dia yang akan siapkan semua kebutuhan kantin. Bahan-bahan untuk awal juga akan disiapkan dananya oleh ibu Ambar. Kamu tinggal laporan untuk kegiatan berikutnya jadi laporan keuangan masuk keluar itu kamu tanggung jawabnya ke ibu Ambar bukan ke saya,” Abu langsung bicara pada Sri persoalan yang diminta Mukti semalam.
“Di sana sudah siap 4 kamar untuk pegawai, tapi bukan untuk pegawai kantin saja. Ada pegawai bagian lain. Nanti kamu mungkin berdua dengan seorang pegawai perempuan lainnya atau bisa sendiri. Saya tidak tahu. Tapi paling tidak ada satu kamar di sana. Kalau makan seperti yang kamu bilang kan bisa makan dari kantin.”
“Baik Pak. Jadi nanti selanjutnya saya berhubungannya dengan Ibu?”
“Ya untuk tahapawal kamu akan berhubungan dengan saya, sebelum saya tentukan bendahara untuk semua kegiatan,” Ambar langsung oper handle pembicaraan.
“Nanti akan ada penanggung jawab semua divisi keuangan. Saya jarang pegang perusahaan kok. Nanti ada sub-sub yang pegang kegiatan keuangan.” jelas Ambar selanjutnya.
“Baik Ibu, saya mengerti,” jawab Sri.
“Kamu harus siap ada di Solo minggu depan ya. Kami juga baru pulang minggu depan. Kamu datang duluan ke lokasi, nanti saya kasih alamatnya nomor telepon kamu berikan kepada Ibu.”
__ADS_1
“Baik Bu.”
“Nanti di sana saya akan beritahu kamu menghubungi siapa dan yang mana kamar kamu dan apa tugas kamu sebelum saya datang,” kata Ambar lagi.
“Baik Bu. Saya tidak menyangka akan mudah pindah kerjaan. Saya memang betah di cafe tempat kerja sekarang, saya tidak gampang pindah kerja bila hanya karena ada selisih gaji. Saya sudah 6 tahun kerja, saya kost di belakang cafe. Jadi tak perlu ongkos. Kalau saya pindah kejar pasti harus mengeluarkan ongkos kerja. Sehingga hasil akhirnya tak ada selisih pendapatan.”
“Saya kepingin pindah kerja seperti Komang yang bisa menabung full karena makan dan tidur tidak bayar seperti waktu kami di Jakarta dulu. Nanti uang sewa kamar dan makan bisa saya tabung lebih untuk orang tua saya,” demikian Sri memberi alasan pindah kerja yang ingin dia lakukan.
“Mukti juga bilang niat kamu pindah itu karena ingin menabung untuk orang tua. Itu sebabnya saya tergerak untuk menolong. Kalau tidak untuk tujuan menolong orang tua saya tidak akan cepat bergerak,” Kata Ambar.
“Iya Ibu, saya memang tujuannya seperti itu. Sama seperti Komang dulu. Kerjanya hanya untuk biaya berobat ibunya saja,” jelas Sri.
“Saya sudah dengar sejarah hidupnya Komang dulu,” kata Ambar menatap lembut wajah Ayu.
“Ayo kita teruskan sarapan,” Kata Abu. Yang penting semuanya sudah clear ya.”
“Iya Pak sudah clear kok. Biar nanti Sri berhubungan dengan mama langsung,” jawab Ayu.
“Kami sudah kehabisan?” tanya Aksa yang baru datang bersama Fahri dan Farhan.
“Ha ha ha, sudah Mbak habisin semua,” jawab Ayu.
“Sama pacar enggak setia, bukannya sarapan bareng,” goda Aksa.
“Pacarnya pagi-pagi nge gym aja enggak izin dulu,” balas Ayu.
“Jadi Mas harus izin kamu dulu?” tanya Mukti yang baru tiba.
“Pacarku kan Aksa, bukan Mas,” balas Ayu malu, dia tadi bicar seperti itu pada Aksa. Tak tahu kalau Mukti sudah ada di sana.
“Ma, Mama sudah lihat kan sebagian foto-foto aku dan Ayya? Masa sama kakak ipar kaya gitu? Itu foto sama pacar ‘kan Ma?” Mukti menggoda Ayya.
__ADS_1
Ayu menunduk tersipu mengingat kemarin dia tak menolak diajak foto aneka gaya mesra oleh Mukti.
Ambar tersenyum melihat kebahagiaan Mukti yang mulai ceria, sama seperti sebelum anak itu lulus SMA dan berangkat ke Paris.