CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
BUKA PUASA


__ADS_3

“Mau makan di mana?” tanya Mukti pada dua sobat kentalnya.


“Kami ikut sajalah di mana pun, yang penting makan. Sejak tadi aja sampai nggak berani minum,” jawab Wayan. Dia langsung mengambil air mineral di saku jok mobil belakang dan langsung meminumnya karena memang dia tadi menaruh botol mineral di situ. Tadi dia kan duduk di belakang.


“Ini ada roti kalian ganjel aja dulu,” kata Ayya mengeluarkan tiga bungkus roti.


“Buat kamu aja Yank, kamu belum makan loh,” saran Mukti. Dia pandangi wajah Ayya penuh cinta.


Ayya membuka plastik roti isi daging kesukaan Mukti lalu dia menyuapi Mukti mereka makan satu roti berdua. Tanpa menolak Mukti menerima suapan tunangannya, walau dalam hati dia sangat ketakutan bila ini adalah akhir hubungan mereka. Dia harus siap bila Ayya memutuskan pertunangan mereka.


Ayya memberikan satu roti pada Wayan dan satu sisanya diberikan kepada Made.


“Kita makan di alun-alun ya. Di sana banyak kuliner kota Solo yang ngetop. Kita bebas beli apa aja,” kata Mukti.


“Oke kamu arahkan saja. Aku kurang tahu jalan di sini,” kata Wayan yang malam ini menjadi driver.


“Ya lihat di map lah,” jawab Made. Dia langsung mencari arah alun-alun kota Solo menggunakan ponselnya agar tidak mengganggu pasangan yang di belakang.


Mukti memegang erat tangan Ayya, seakan dia takut kehilangan. Beberapa kali dan berulang kali diciumnya punggung tunangannya. Dia benar-benar tak menyangka bisa bertemu dengan Ayya lagi. Tentu saja mereka belum bisa bicara karena masih ada Wayan dan Made dan Ayya juga orang yang pintar. Dia tidak mau keributan mereka didengar oleh siapa pun sehingga Ayya memang benar-benar meredam emosinya.


‘Ya Allah, bantu aku. Bagaimana aku bisa bertahan melihat sejumput air di sudut matanya saat dia memandangku?’ batin Ayya beberapa kali.


‘Astagfirullaaah,’ Ayya tak menyangka sebulir air jatuh di punggung tangan yang sedang Mukti kecup. Ayya langsung membuah wajah ke luar jendela. Tak ingin ikut larut dalam sedih berkepanjangan yang sedang Mukti hadapi kali ini.

__ADS_1


Mukti dan Ayya memilih sate buntel kambing. Mereka sangat suka dengan santai buntel itu. Sate buntel adalah daging cincang yang dibungkus dengan lemak kambing. Menu tambahan mereka tongseng buat kuahnya. Ayya hanya pesan satu porsi untuk berdua.



‘Aku ingat pernah makan di sini karena Mas Mukti ingin dibuatkan sate buntel agar bisa makan puas-puas hasil masakanku.’ batin Ayya.


‘Kita pernah ke sini ya Honey, esoknya kamu bikinin aku sate buntel di rumah jadi aku bisa makan puas. Aku ingat semua kisah manis kita Yank,’ batin Mukti saat menerima suapan tongseng dari Ayya.


Made makan nasi gudeg, dia pagi, siang atau malam kalau ketemu gudeg tetep aja pilihannya adalah gudeg. Entah mengapa dia sangat menyukai gudeg. Kali ini dia tambah ayam bakar. Itu makanan Made malam ini. Sedang Wayan memilih nasi padang dengan rendang, lalapan daun singkong rebus tambah paru goreng.


“Kalian mau tambah apa lagi?” tanya Mukti saat sate dan lontong miliknya sudah habis. Masih ada sedikit tongseng yang sedang dimakan Ayya.


“Enggak lah. Ini aja kami belum habis,” jawab Made.


“Cukup Mas. apa Mas belum cukup? Mas mau tambah apa lagi?” Ayya mengerti sebenarnya Mukti yang ingin tambah.


“Apa ya Yank?” tanya Mukti memandang sekeliling.


“Apa Mas belum kenyang karena belum makan nasi ya? Mau tambah nasi pakai apa?” kata Ayya.


“Nggak kok. Aku nggak kepengen nasi. Tambah apa ya?”


“Itu ada steak. Tambah steak mau?” Ayya melihat di ujung sana ada warung steak.

__ADS_1


“Boleh deh tambah steak juga nggak apa-apa,” Mukti setuju menu yang Ayya sarankan.


Ayya melambai pada pelayan warung steak.


“Kak Made dan Kak Wayan mau tambah nggak? Ini Mas Mukti mau tambah steak,” ujar Ayya.


“Kalau steak aku mau deh,” kata Wayan.


“Aku minta steak ikan aja deh. Aku mau coba steak ikannya,” ucap Ayya pada pelayan.


“Kak Made mau tambah apa?”


“Kalian ini racun deh. Dari tadi aku mikir sudah nggak mau nambah lagi. Tapi karena kalian nambah semuanya, aku juga mau. Aku sirloin aja deh. Jangan kering, medium saja,” jawab Made.


“Mas mau apa? Medium juga steak daging kan? sirloin atau tenderloin?” kata Ayya.


“Nggak Yank, aku mau ayam aja,” jawab Mukti. Sama dengan pesanan Wayan, steak ayam.


“Kamu tambah apa?” tanya Mukti.


“Aku udah tulis kok. Aku tambah tuna steak,” jawab Ayya.


“Tuna steaknya dua deh Yank. Aku lapar banget,” pinta Mukti.

__ADS_1


Made dan Wayan mengerti Mukti benar-benar BUKA PUASA. Selama ini dia susah makan sejak tak ada Ayya. Lauk apa pun seleranya sangat kurang. Jadi begitu ada Ayya benar-benar makan sepuas-puasnya.


__ADS_2