CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
TIDUR SATU KAMAR?


__ADS_3

Sesuai rencana dari bandara Mukti dan Ayya tidak langsung ke Badung mereka pulang ke studio dulu. Mereka akan beres-beres rumah dulu satu atau dua hari baru kemudian ke Badung.


Bu Pinem kaget ketika majikannya tiba. Untungnya rumah memang selalu bersih. Hanya makanan tentu tak ada yang ready. Kalau tak ada Mukti makanan di kulkas memang sama sekali kosong. Untuk konsumsi para pegawai Bu Pinem biasa belanja di warung saja seadanya tak ada buah apalagi jus, daging, ayam dan ikan.


Aneka saos juga sisa sedikit karena memang selama Ayya pergi semua saos sengaja dihabiskan agar tidak expired. Tapi kalau saus saus yang masih belum dibuka tentu saja masih lengkap. Yang sudah dibuka yang langsung dihabiskan oleh Bu Pinem.


Setiap hari Bu Ikhlas juga tetap bersih-bersih, jadi siap kalau rumahnya kedatangan tamu apalagi kedatangan tuan rumah. Hanya sprei dua kamar itu belum dia ganti, karena tidak tahu. Maka Bu Pinem langsung minta Bu Ikhlas untuk mengganti sprei dua kasur majikannya.


“Apa kabar Bu?” tanya Ayya pada Bu Ikhlas yang sedang mengganti sprei di kamarnya.


“Alhamdulillah baik Mbak Ayu,” kata bu Ikhlas sambil terus bekerja.


“Kalau bisa bereskan satu kamar yang di seberang saja Bu. Kami akan tidur di sana karena besok kamar ini akan dibongkar,” kata Mukti yang tiba-tiba berdiri di pintu kamar Ayya.


“Maskok langsung besok dibongkarnya?” tanya Ayya.


“Iya Yank,  percuma kan sekarang dirapihin, padahal besok kita sudah pindah ke kamar seberang. Massudah panggil tukang sejak kita di Solo, biar cepat di renovasi. Nanti begitu mereka datang kamar ini sudah rapi,” jelas Mukti.


“Ibu ikutin saja perintahnya Mas Mukti, satu kamar di seberang saja yang disiapkan,” kata Ayya.


“Baik Mbak Ayu,” jawab Bu Ikhlas. Dia bongkar lagi seprei yang awalnya hendak dipasang di kamar itu.


Bu Iklas  bingung kenapa hanya satu kamar? Apakah mereka sudah resmi sehingga tidur satu kamar atau bagaimana? Tapi tentu saja Bu Ikhlas tak berani bertanya.


“Mbak Ayu, untuk makan malam apa ya?” kata Bu Pinem bingung.


“Yang ada saja Bu. Nggak perlu repot. Kalau lauknya kurang ya tinggal beli di luar. Yang ada apa, sate atau ayam betutu atau bebek betutu terserah nggak usah terlalu bingung,” jawab Ayya. Dia hendak membongkar oleh-oleh untuk semua pegawai di sini juga untuk Menik.


“Memang Mas Mukti bilang nggak usah dikabarin orang rumah. Jadi aku mau bilang apa? Kalau aku kabarin nanti salah Bu,” jawab Ayya lagi.


“Iya Mbak kulkas kan juga kosong.”

__ADS_1


“Kalau kulkas besok pagi kita isi nggak apa-apa. Cuma untuk makan malam ini nggak usah jadi pikiran. Nanti saya kasih uang buat belanja beli saja sate atau ayam betutu atau bebek atau apalah. Bisa juga beli mie goreng yang sudah matang atau apalah pokoknya,” kata Ayya.


“Baik kalau begitu,” kata bu Pinem.


“Tapi kopi Mas Mukti masih ada kan?”


“Kopi ada masih bagus kok. Belum expired. su5u Mbak juga ada. Nanti saya catat yang nggak ada deh. Biar nggak bingung untuk belanja besok pagi. Tapi kalau malam ini kopi sama su5u Mbak saja ada koq.”


“Ya sudah, ini saja deh sekalian ntar lupa,” Ayya menyerahkan dua lembar uang merah.


“Kok banyak banget kalau cuma untuk makan malam?”


“Ya nanti ada apa ya beli saja. Pokoknya sedapatnya dulu jadi nggak kalang kabut,” jawab Ayya.


“Baik kalau begitu.”


“Aku takutnya malam ini Mas Mukti ngajak keluar. Jadi jangan beli makan malam dulu. Nanti aku tanya dulu, dia mau makan malam di luar apa enggak.” Ayya baru ingat tadi Mukti bilang akan belanja ke supermarket karena dia bilang pasti kulkas kosong.


Tadi Ayya dan Mukti memang makan siang di bandara karena sudah jam 01.00 waktu Indonesia Timur, mereka juga sekalian numpang salat jadi pulang ke rumah sudah santai.


“Mas,” panggil Ayya di kamarnya.


“Masuk Yank, nggak aku kunci kok,” kata Mukti.


Ayya membuka kamar Mukti lebar-lebar. Dia tak mau masuk dalam pintu tertutup nanti pandangan karyawannya pasti buruk.


“Kenapa dibuka lebar begitu? Mau ditutup rapat pun nggak apa-apa kok. Kamu tuh selalu ketakutan seperti itu.


Ayya melihat Mukti bukannya membongkar koper dan travel bag nya malah mencopoti lukisan yang baru dipasang. Lukisan foto mereka yang dipasang saat Ayya dan Mukti pergi kemarin.


“Nanti kan bisa Mas copotin itunya,” kata Ayya.

__ADS_1


“Aku takut rusak Yank. Ini kan belum kita pandang-pandang. Dipasang saja waktu kita pergi,” kata Mukti.


“Ya besok lah. Capek kan. Mas belum istirahat loh,” kata Ayya.


“Eh iya kamu manggil aku tadi kenapa?” kata Mukti.


“Nanti kita mau makan malam di rumah apa makan malam di luar sekalian belanja? Soalnya Bu Pinem tanya makan malam mau masak apa?”


“Kalau begitu kita makan malam di luar saja ya? Sekalian kita belanja keperluan dapur di supermarket,” ucap Mukti.


“Siip, kalau begitu aku bilang ke bu Pinem,” kata Ayya ingin bergegas keluar. Tapi tangannya ditarik kekasihnya dan Mukti langsung mencium pujaan kati dan menutup pintu kamar dengan kakinya.


“Kalau begitu ini uangnya dikembalikan saja Mbak,” kata bu Pinem.


“Ngapain dikembalikan? Besok pagi saya tinggal nambahin kekurangannya yang ibu bikin listnya kan? Kok kayak sama siapa saja sih ibu nih,” kata Ayya sambil terkekeh.


“Nggak enak Mbak,” kata Bu Pinem.


“Enggak Bu. Nanti saya tambah untuk belanja besok ya. Saya lihat dulu belanjaan saya apa yang kurang. Kan takutnya di supermarket juga banyak belanjaan yang kurang.”


“Iya Mbak. Tapi kalau ikan, ayam dan daging memang lebih enak di pasar saja Mbak. Lebih fresh dan lebih murah. Kecuali beberapa item yang di pasar nggak ada.”


“Nanti saya lihat deh yang ada dan tidak ada di sana baru kita satukan listnya untuk belanja besok pagi,” ucap Ayya.


“Besok sarapannya bubur sumsum ada nggak bahannya? Bubur sumsum saja buat sarapan pagi.”


“Kalau bahan bubur sumsum ada Mbak. Berarti besok pagi bikin itu saja?”


“Ya Bu, bikin itu saja. Nanti biar jam 10-an Mas Mukti makan lagi saya bikin sarapan yang berat.”


“ Oke kalau begitu,” kata bu Pinem.

__ADS_1


__ADS_2