CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
KOQ MATI LAGI?


__ADS_3

“Maaf, tadi masih ada pakde Saino. Dia nanya apa sudah ada kabar dari kamu atau belum?” kata Wayan saat dia menghubungi putrinya.


“Memang pakde tahu bahwa aku pergi dari rumah mama Ambar?” tentu saja Ayya bingung darimana pakde Saino tahu.


“Ada dua orang yang selalu bergantian tanya ke lingkungan kita, baik kepada Saino maupun ke Papa dan pada orang lainnya. Mereka terus nanya-nanya ke siapa pun apakah kamu pulang. Jadi ya pakde nanya ke Papa bagaimana kondisimu sekarang. Papa bilang Papa nggak tahu juga karena kalau pakde Saino kan kita juga nggak bisa tutup mulutnya. Belum tentu dia tidak memberitahu informan bahwa Papa bisa hubungi kamu.”


“Walau ke pakde Saino sekali pun jangan  Pa. Takutnya bocor. Aku bener-bener nggak mau Pa kalau semuanya belum clear, jangan dulu. Aku bisa saja sih pulang ke tempat Papa. Tapi nanti pasti ada yang curiga jadi lebih baik jangan.”


“Memangnya kamu di sana nggak ada yang tahu?” tanya Wayan penasaran.

__ADS_1


“Nggak Pa. Di sini nggak ada satu pun yang tahu siapa aku. Aku yakin kalau aku berdiri di depan Papa, juga nggak akan tahu siapa aku. Jadi aman. Tadi pagi aku iseng ngeliat ke pameran. Ternyata Mas Mukti sudah mulai datang. Dia sudah sembuh.” balas Ayya.


“Bukannya baru hari Jumat dia pulang dari rumah sakit? Kamu bilang ada yang cerita dia keluar dari rumah sakit hari Jumat kan?”


“Iya Pa. Hari Jumat pagi aku dengar dia pulang dari rumah sakit. Tapi tadi hari Senin dia sudah ada di pameran,” jawab Ayya.


Wayan memang sedikit mengetahui ada keributan antara Ayya dan Mukti. Tapi dia belum tahu awal persoalannya. Ayya belum mau terbuka. Ayya cuma bilang sedang ada sedikit permasalahan dengan Mukti. Itu saja. Ayya sama sekali tidak memperjelas apa permasalahannya.


“Aman Pa, tenang saja,” balas Ayya.

__ADS_1


“Sebenarnya kalau cuma bertahan hidup dengan kondisi yang sederhana kamu nggak perlu kerja. Tabunganmu cukup kan atau nanti Papa kirim uang dari sini agar kamu nggak perlu kerja sehingga tidak terlalu beresiko,” cetus Wayan.


“Nggak Pa, aku nggak mau gantungin hidup pada siapa pun. Aku akan kerja semampuku. Kemarin gaji terakhirku masih dikirim kok sama Mas Mukti.”


‘Bukan hanya gaji, sih Pa. Lebih dari gaji malah. Cuma aku nggak mau bilang sama Papa saja. Nanti Papa mengira aku jual diri.’ lanjut Ayya dalam hatinya.


Mukti memang memberikan tiga kali gaji pada Ayya kemarin sebelum tragedi. Jadi bukan sesudah Ayya tahu ada persoalan. Itu belum termasuk yang Mukti berikan uang belanja yang dia berikan saat pagi sebelum dia ke pasar Klewer.


Jadi memang sangat besar yang Ayya dapatkan bulan ini

__ADS_1


“Kok kamu matiin lagi sih Yank nomor ponselmu? Padahal Mas masih dingin bicara sama kamu. Kamu nggak ngeluarin suara apa pun. Apa kamu cuma ngecek saja bahwa ada yang menghubungi kamu? Mas nggak akan pernah tinggalin pesan buat kamu karena pesan itu nanti malah jadi distorsi. Lebih baik Mas selalu menghubungi kamu kapan pun,” kata Mukti yang barusan bisa menghubungi nomornya Ayya.


Walau tak mendengar suara Ayya sama sekali tapi dia akan terus mencoba setiap saat begitu dia ingat Ayya.


__ADS_2