
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
Selesai sudah semuanya. Mukti bersiap pulang ke villa Uluwatu, tempat tinggal tetap keluarga Lukito bila sedang di pulau Bali. Karena rumah di Denpasar sudah dibuat menjadi homestay.
"Mamas milih tidur gelaran pakai karpet walau pun hanya makan pakai garam. Buat Mamas yang penting kita ngumpul semua," demikian ucap Sonny malam ini ketika Ambar menanyakan mereka mau tidak dipesankan kamar hotel selama di Solo weekend kali ini. Karena Ambar akan memesankan hotel buat Laksmi beserta anak-anaknya.
"Bener Mas, aku juga setuju dengan pendapatmu," jelas Mukti yang merasakan kumpul keluarga adalah segalanya. Terlebih dia sadar, dirinya "yatim piatu" walau masih ada papa kandung dan kakek Rustam.
Mukti dan Sonny tidak mau tinggal di hotel. Mereka ingin tetap di rumah kecil itu walau pun hanya gelaran tikar atau karpet.
"Assalamu'alaykum Ma," Mukti memeluk dan menciumi Ambar setelah memberi salim pada perempuan terhebat dalam dirinya itu. Hari Rabu pagi Mukti sudah tiba di Solo.
"Koq sudah sampai? Bukannya kamu bilang sampai nanti sore ya atau besok pagi?" Abu kaget mendapati putra keduanya telah tiba di rumah mereka.
"Enggak lah Pa. Aku kangen sama Mama," kata Mukti.
__ADS_1
"Lha, cuma mama ya yang dikangenin, Papa enggak?" Protes Abu.
Mereka bertiga tertawa. Ambar sedang masak buat makan siang, Abu bersiap ke rumah mereka dengan motor matik yang memang digunakan sebagai kendaraan operasional sehari-hari. Buat kepasar atau ke warung.
Aksa punya motor sendiri, pagi ini dia mulai mengisi form daftar ulang di SMA yang dia masuki.
"Jauh rumahnya dari sini Ma?" Mukti bertanya sambil mengambil krupuk kulit yang akan dimasak Ambar.
"Tadi kamu udah lewatin loh. Kalau kamu naik taksi atau naik apa pun pastikan ngelewatin tanah yang sedang dibangun sebelah kiri jalan. Kalau dari sini sebelah kanan jalan," jawab Abu.
"Papa bangun di sana, sedikit demi sedikit biar benar-benar sesuai keinginan mamamu," ucap Abu dengan tatapan penuh cinta pada Ambar.
"Wah keren kalau yang itu, aku tadi juga ngebatin rumah siapa yang keren kayak gitu. Walau bangunannya masih belum terlihat tapi aku tahu itu kayanya pakai etnik Jawa," komen Mukti.
"Iya kita bikin seperti rumah Bali. Rumah Bali kan pakai etnik Bali. Di sini Papa bangun pakai etnik Solo."
__ADS_1
"Ngebayangin aja aku sudah enggak sabar Ma," kata Mukti.
"Papa hunting GOBYOK tua, juga perabotan-perabotan tua menyesuaikan dengan bangunan yang ada nanti," kata Ambar juga menceritakan bagaimana Abu bertekad membangun mansion mereka beda dengan rumah tinggal biasa.
"Eyang pasti suka banget ya Ma?" tanya Mukti. Dia yakin eyang kakungnya suka. Begitu pun eyang Sutiono bila datang ke Solo kelak.
"Eyang excited banget tahu Papa bangun mansion etnik begitu buat Mama," jawab Ambar dengan senyum.
"Eyang belum pulang?" tanya Mukti lagi.
"Eyang nanti hari Jumat bareng tante Laksmi dan dua jagoannya."
"Oh gitu Aku kira eyang juga bareng Mama dan Papa." Mukti tahu minggu lalu papa dan mamanya ke Surabaya untuk keperluan menuntaskan masalah tante Laksmi dan keluarga suaminya yang merongrong perusahaan mama.
"Enggak sengaja eyang bareng sama tante Laksmi agar tante Laksmi aman sementara dari keluarganya Om Dwi."
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY yok