
”Tadi mau bilang apa Yank?” tanya Mukti saat mereka sudah masuk ke mobil.
“Bukan masalah kerbau ganteng kan?”
“Ihhh, mana ada kerbau ganteng?” jawab Ayya sambil pasang seat belt.
“Mungkin ini hanya pikiran buruk aku, tapi ngeganjel kalau nggak aku bilang.”
“Ada apa sih?” tanya Mukti.
“Aku kok lihat Saras itu beda ya Mas?” jawab Ayya.
“Beda apanya? Mana Mas perhatiin. Kalau pun belum ada kamu, sejak dulu Mas nggak pernah perhatiin dia kok. Lebih-lebih ada kamu. Ngapain juga perhatiin orang?” kata Mukti. Saat ini dia menjalankan mobilnya menuju cabang Gianyar.
“Aku lihat pipinya chubby, padahal dia kan seharusnya ya tertekan di dalam penjara. Baik perasaannya maupun karena tak bisa makan dengan baik, sesuai seleranya. Bukan bilang makanan di penjara tidak enak. Tetapi paling tidak kan nggak sesuai dengan seleranya.” Ayya mencoba memaparkan pikirannya.
“Masa pikiran nggak enak, terus makan nggak selera pipinya tambah chubby?”
“Mungkin hanya perasaanmu saja,” kata Mukti tak peduli. Dia memang sama sekali tak memperhatikan kondisi Saras. Dulu kondisi Vio di rumah tahanan saja dia tak peduli sejak tahu pengkhianatan Vio. Apalagi hanya Saras yang tak pernah ada hubungan apa pun dengan dirinya.
“Bisa jadi sih Mas, kita lihat bulan depan atau dua bulan lagi saja,” jawab Ayya.
__ADS_1
“Ada apa sih kok kamu bikin Mas penasaran,” desal Mukti.
“Aku kok berpikir Saras itu kemarin benci dan marah karena aku nutup kesempatan dia jebak Mas. Rasanya dia lagi cari … ya sudahlah nggak jadi.” kata Ayya yang tadi sempat berhenti bicara.
“Nanti saja ya Mas, kita lihat bulan depan atau bulan berikutnya nanti aku bicarain,” Ayya memutuskan tak jadi membahas dugaannya.
“Kamu tuh gitu deh. Nggak ngasih tahu apa yang kamu pikir,” protes Mukti.
“Nggak, aku sekali ini nggak akan ngomong duluan. Kita lihat saja bukti pengamatan aku.”
Hari ini Ayya akan bekerja di cabang Gianyar, tadi mereka sudah bawa laptopnya untuk persiapan berangkat ke Solo 2 minggu lagi.
“Aaa dulu Mas,” pinta Ayya. Mukti membuka mulutnya tak menolak.
Mukti dan Ayya langsung serius bekerja begitu tiba di galery Gianyar. Sejak tadi dia mengutak utik data di laptopnya, juga menerima laporan. Saat itu ada 3 orang pegawai di depan Mukti. Tanpa malu Mukti menerima suapan Ayya.
‘Ibu Komang ini memang sangat perhatian pada Mukti. Bahkan untuk makan siang saja dia tidak menyuruh makan, tapi memberikan makan. Bagaimana pak Mukti tidak jatuh cinta setengah mati terhadap dia,” batin seorang pegawai yang melihat bagaimana Ayya dengan telaten mengurusi Mukti.
“Kok cuma Mas saja yang makan. Kamu nggak makan?” tanya Mukti saat sadar sejak tadi Ayya hanya menyuap makanan untuk dirinya.
“Habis ini aku akan makan dengan Dewi, kami sudah bikin bumbu rujak untuk rebusan kangkung,: jawab Ayya.
__ADS_1
“Kamu tuh curang ya, makanan yang enak seperti itu Mas nggak dikasih,” kembali Ayya menerima protes calon imamnya.
“Bukan nggak dikasih Mas. Cuma nggak enak makan kalau pakai sendok. Rujak kangkung itu enaknya tanpa sendok makannya.”
“Ya kamu suapinnya pakai tangan,” jawab Mukti.
“Ya nggak enak lah aku nyuapin Mas pakai tangan, kayaknya nggak sopan banget,” jawab Ayya.
Pegawainya hanya senyum-senyum saja mendengar debat kedua bosnya itu. Biar bagaimana pun Komang sekarang sudah menjadi bos mereka juga.
“Pokoknya besok-besok lagi, Mas nggak mau tahu. Tetap harus disuapin walaupun pakai tangan,” pinta Mukti.
“Ya, besok-besok lagi,” jawab Ayya. Dia memberikan satu gelas air putih karena Mukti sudah selesai makan. Lalu dia berikan tissue basah untuk mengelap mulut agar tak bau amis.
“15 menit lagi minum suplemennya ya,” beritahu Ayya pada Mukti.
“Ya siapin saja,” jawab Mukti.
“Oke, aku ke belakang dulu ya,” pamit Ayya.
Ayya langsung ke ruang belakang. Di sana sudah ada Dewi dan dua orang temannya yang siap makan bareng. Nasi hangat, rebusan kangkung setengah matang yang akan berteman dengan bumbu rujak, ada kerupuk juga tempe goreng. Menu yang benar-benar nikmat buat Ayya dan teman-temannya.
__ADS_1