
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
"Iya, aku on the way," Mukti menerima telepon dari Made sahabatnya yang ngajak ketemuan untuk bercerita. Sehabis makan malam Mukti sudah pergi setelah menerima telepon. Dia tak tahu kalau Aksa kencan dengan Adelia diantar Sonny.
\*\*\*
. "Hai," sapa Mukti yang baru pulang dari lari pagi.
"Owh hai. Wah kamu rajin olah raga," balas Adelia.
"He he, enggak juga. Pas lagi pengen aja," jawab Mukti merendah.
Bagaimana bisa dibilang pas kepengen kalau lihat bentuk tubuhnya yang pelukable itu?
"Aku temani boleh?" Tanya Mukti.
"Bukankah ini daerah kekuasaan mu? Bagaimana aku bisa menolak tuan tanah di lahan miliknya?" goda Adelia.
"Ha ha ha, tuan putri mengejekku rupanya," balas Mukti.
'Rupanya dia sosok yang tidak kaku walau aku masih melihat tembok kokoh yang dia bangun,' pikir Mukti mengambil kesimpulan.
"Apa siang nanti kamu ikut terbang layang?" Tanya Mukti.
"Bagaimana aku enggak ikut wong aku yang pengen terbang lagi. Pemandangan dari atas sangat mempesona," sahut Adelia.
"Bener banget. Dulu awalnya saat SMP ada teman buleku yang ngajakin aku terbang layang tandem. Saat itu aku langsung jatuh cinta pada olahraga itu."
"Lalu aku ajak MAMAS, begitu keluarga biasa memanggil Sonny, untuk ikut."
__ADS_1
"Ternyata dia malah serius hingga punya sertifikat melatih. Sedang aku tetap seperti ini. Moody. Aku hanya sesekali bila ingin terbang. Tapi tak ahli sama sekali," cerita Mukti membuat Adelia tahu kalau Mukti sangat moody dan Sonny sangat serius bila menginginkan sesuatu.
"Aku bahkan belum bisa bila harus menjadi tokoh utama tandem. Bisa nyusruk kalau aku bawa orang lain," Mukti tersenyum malu.
"Aku tak percaya kalian. Aku pernah tertipu Sonny saat datang pertama. Dia mengantarkanku mendaftar untuk terbang tandem. Saat itu aku baru tahu dia salah seorang atlet terbang layang terbaik Indonesia."
"Aku serius, aku memang enggak layak kalau buat bawa orang terbang." Mukti berupaya meyakinkan Adelia.
Mereka terus berjalan tanpa tujuan. Sambil cerita apa yang mereka lihat. Kadang Mukti menceritakan sesuatu yang Adelia tanya perihal apa yang gadis itu buat.
Beberapa kali Adelia minta Mukti mengambilkan foto untuk dia posting di media sosialnya.
"Kita foto berdua boleh? Aku ingin posting di media sosialku," pinta Mukti.
"Why not? Ayok kita berpose," jawab Adelia. Dia malah mengarahkan gaya mereka. Ada gaya santai, gaya muka jelek dan ada muka alay. Suka-suka pengarah gaya. Dan Mukti juga enjoy dengan semua itu.
"Apa nama media sosialmu?" Tanya Mukti saat dia sedang membuat postingan.
\*\*\*
Adelia dan Mukti masuk ke ruangan tengah villa sambil terbahak. Mereka banyak mendapat kecocokan saat berbincang.
"Hallo sayank, senang sekali kelihatannya," goda Vonny.
"Iya Ma seru. Tadinya mau jalan sendiri malah jadi seru karena ketemu Mukti." Adelia langsung mencuci tangannya dan mengambil sebuah kue yang terhidang di meja depan sang mama dan Ambar duduk.
"Barusan kamu ditanya adikmu. Dia ngomel kamu pergi sendiri," Ambar memberitahu soal Aksa yang mencari Adelia.
"Ih, semalam kan dia sudah bilang pagi ini dia akan latihan futsal. Jadi ya aku keluar sendirian," jawab Adelia. Dia tersenyum mendengar Aksa cemburu dia keluar tanpa pemuda kecil itu.
__ADS_1
Sjahrir dan Abu serta Airlangga dan Menur yang habis jalan santai masuk ke villa. Mereka juga langsung cuci tangan dan mengambil snack yang tersedia. Rupanya jalan santai bikin mereka lapar
"Aku pergi dulu ya Pa, Ma, Yang, Om, Tante," pamit Mukti. Tadi masuk ke villa dia bergegas mandi karena di telepon staffnya akan ada tamu di galerynya.
"Lho kamu enggak ikut acara terbang layang?" Protes Ambar.
"Insya Allah aku ikut Ma. Sehabis Jumatan aku langsung ke arena saja," jawab Mukti.
"Kalau bisa makan bareng disini dengan menu istimewa. Kan jarang ngumpul makan bareng," pinta Menur lembut. Kalau Menur yang bicara, semua keluarga Lukito tak ada yang berani membantah. Kata-katanya lembut tapi itu adalah FATWA dikeluarga besar mereka. Jadi tak ada yang boleh bantah.
"Iya Eyang. Habis pertemuan dengan buyer dari Jerman dan Prancis aku akan segera pulang biar bisa Jumatan dan makan siang bareng," sahut Mukti patuh.
"Eyang tunggu pembuktiannya," tantang Menur.
'Payah kalau eyang sudah bilang ditunggu pembuktiannya,' Sonny dan Mukti membatin yang sama.
Mereka tahu bila melanggar ini eyangnya akan menekan mama dan apa mereka lalu bisa satu minggu penuh Abu dan Ambar berpidato ditelinga mereka tanpa bosan.
\*\*\*
Dua keluarga itu makan dengan menu ketupat santai dan ikan bakar yang memang Ambar request begitu suaminya cerita makan siang di rumah Vonny dengan menu itu.
Sesuai janji, Mukti pulang untuk makan siang bersama. Dia salat Jumat di jalan yang menuju villanya, lalu langsung pulang agar tak dapat sangsi dari eyangnya.
\*\*\*
Aksa dan rombongan masuk ke mobil keluarga ketika menuju arena terbang layang milik Sonny. Sedang Sonny dan Mukti berdua di satu mobil sport milik Mukti.
Di lokasi terbang layang Adel baru tahu, Mukti memang tak boleh membawa orang karena kemampuannya masih sama dengan Aksa. Aksa bisa terbang sendirian. Sedang Ambar dan Abu tandem.
Menur tak berani. Sehingga hanya melihat Airlangga yang bisa terbang sendirian.
__ADS_1
\*\*