
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
Vio tak percaya kalau Mukti benar-benar telah menjatuhkan talak. Walau mereka menikah siri, ternyata Mukti tak mau menggantung. Karena secara agama kalau dia digantung tetap saja statusnya tetap istri Mukti.
‘Apa dia tersadar setelah pak Abu memberi hasutan padanya? Apa dia tersadar karena pak Sonny yang menindasnya? Selama ini Mukti tak pernah bisa diatur oleh siapa pun. Aku yakin semua bukan keputusan murnu Mukti. Aku yakin dia masih cinta mati pada diriku.’ Vio masuk ke sel tahanan dengan gontai. Hilang sudah harapannya bisa bebas dengan bantuan sibodoh Mukti itu.
\*\*\*
Mukti dan Abu plong telah menyelesaikan satu masalah yaitu Vio. Mereka tinggal mencari keberadaan Sonny dan Ambar. Sekarang mereka menuju cafe tempat janjian dengan pengacara yang mengurus masalah Vio. Mukti akan memutus pembayaran. Kalau Vio tak mau mencabut mandat, maka Vio yang harus membayar kelanjutan kerja sama karena Mukti sudah mundur dan bercerai dari Vio.
Mukti dan Abu masuk ke cafe. Mukti memandang seluruh ruang. Dia mencari pengacara yang memang menentukan tempat disini. Tapi dia malah terkejut. Di cafe itu ada keluarga Sjahrir atau om Ariel dengan Sonny dan Ambar. Mereka duduk tepat disebelah meja sang pengacara yang ingin ditemui Mukti.
"Sudah lama Pak?" Mukti menjabat tangan pengacara yang ingin ditemuinya. Pengacara telah duduk di meja sebelah keluarga Sjahrir sebelum rombongan Sjahrir masuk.
"Baru saja pak Mukti," jawab pengacara tersebut.
"Sebentar ya Pak kami memberi salam pada orang di sebelah dulu," kata Abu.
Abu dan Mukti menghampiri lima orang yang diam terpaku melihat kedatangan mereka.
“Asslamu’alaykum,” sapa Mukti dan Abu hampir bersamaan.
"Wa'alaykum salam," Sjahrir membalas salam yang diucapkan Abu dan Mukti. Syahrir menjabat erat tangan sahabatnya.
"Apa kabar?" tanya Sjahrir.
"Pastinya sedang tidak baik," jawab Abu pelan lalu menghampiri Ambar.
Sebagai istri Ambar masih memberi salim. Dia masih hormat seperti biasa tapi tak mau ketika akan dicium keningnya oleh Abu.
Mukti langsung memeluk Ambar bersimpuh di kaki perempuan itu.
"Maaf nggak usah drama ini ruang umum," kata Sonny datar.
"Aku minta maaf Ma," isak Mukti.
"Tak perlu minta maaf pakai drama," cetus Sonny lagi.
"Mukti kita selesaikan dulu pencabutan kuasa hukum untuk Vio dengan pengacaramu itu nanti baru kita ngobrol di sini" Abu mengangkat Multi untuk berdiri dari kaki Ambar.
'*Oh rupanya mereka sedang mau mencabut kuasa hukum untuk Vio*,' Sonny dan semua yang ada di situ bersamaan berpikir atau membatin apa yang mereka dengar dari mulut Abu.
\*\*\*
Mukti langsung bergegas menemui dan pengacara.
"Maaf ya Pak bukan kami tak suka dengan kinerja Bapak karena memang belum dimulai. Ada masalah intern kami. Ternyata Vio banyak berbohong. Saya tidak mau lagi mendukungnya," kata Mukti setelah dia menandatangani pencabutan kuasa terhadap lawyer itu untuk membantu Vio.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Pak Mukti. Semoga lain kali Bapak bisa menggunakan jasa saya," jawab sang lawyer. Dia tak keberatan karena Mukti telah membayarnya penuh.
Cukup lama Mukti dan Abu bicara dengan sang pengacara. Sesudah selesai baru mereka kembali mendatangi meja keluarga Sjahrir.
\*\*"
Abu kembali mendatangi meja Sjahrir.
"Kalian pesan makan dulu aja. Kita makan dulu baru kita selesaikan masalah kalian," kata Sjahrir. Lelaki itu mengangkat tangan minta server datang biar Abu dan Mukti ikut memesan.
Semua makan dalam diam. Mau bicara basa basi apa? Mereka semua bingung sendiri.
Sehabis makan, Sjahrir mengajak Abu dan Mukti bicara di rumahnya karena tak enak bicara masalah penting di cafe.
\*\*\*
"Silakan masuk, silakan duduk," ajak Sjahrir.
"Kita ke ruang tengah aja ya jangan di ruang tamu lebih nyaman di ruang tengah, ajak Sjahrir lagi.
"Baik," kata Abu. Mukti yang baru pertama kali ke situ pun bingung dia hanya mengikuti papanya.
"Sebelum kita bicara panjang. Aku disini hanya sebagai fasilitator. Aku hanya sebagai tuan rumah. Aku tidak akan memberikan saran apa pun pada siapa pun karena aku tak mau jadi penengah untuk kekisruhan urusàn rumah tangga. Aku bukan mediator!"
"Aku, anakku dan istriku hanya menjadi saksi. Agar kalian bisa menyelesaikan masalah kalian dengan lancar. Kalau tidak ada kami mungkin kalian akan ribut dan aku tidak mau itu terjadi," ucap Sjahrir membuka pembicaraan siang menjelang sore itu.
"Kamu bisa lihat kan sebegitu terpujinya istrimu walau pun sejak tiga tahun usia Mukti dia sudah tahu kalau Mukti bukan anakmu."
"Jadi sekarang pikirkanlah siapa yang salah. Aku hanya tidak suka dengan kelakuan laki-laki sepertimu," kata Sjahrir.
"Silakan!"
Abu diam dia memang sangat salah . Begitu pun Mukti. Dia juga merasa sangat salah karena menikam Sonny dengan menikahi Vio.
"Sebenarnya tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Buatku semua sudah berakhir," keheningan pecah oleh suara Ambar.
"Di depan semua orang sekali lagi aku mohon maaf padamu Bi." Abu langsung bicara begitu mendengar Ambar bilang tak ada yang perlu dibicarakan lagi.
"Aku memang sangat salah aku tahu mungkin sangat sulit. Bukan mungkin, tapi pasti sangat sulit untuk memaafkanku. Tapi aku tetap minta maaf dan aku memohon padamu untuk kembali padaku." kata Abu lagi
"Buatku Mama adalah perempuan terbaik tak ada yang lebih baik dan aku sudah mengakui kesalahanku pada papa dan eyang di Surabaya kemarin Ma. Aku Insaf aku hanya dibuat pion oleh Vio aja," Mukti pun menyela pembicaraan 'kedua orang tuanya' itu.
"Vio ingin buang kesalahan padaku Ma. Dia ingin menjadikan aku adalah penanggung jawab korupsi yang dia dan tante Imelda lakukan," kata Mukti lagi.
“Selama ini mataku tertutup oleh cinta yang ternyata tak pernah Vio miliki untukku.”
__ADS_1
"Memang semasa SMA mungkin dia ada rasa cinta padaku tapi sesudah itu tak ada lagi. Dia hanya membuatku pion."
"Bayangkan dia sudah tahu aku anaknya papa, dia masih tetap mau sama aku. Padahal dia ngambil uang papa!"
"Kalau tak ada maksud lain enggak mungkin kan? Seharusnya dia sadar kalau cinta aku dia mundur dari mencuri uang papa, ya kan Ma?"
"Atau dia tendang aku supaya aku nggak tahu setiap perilaku kejamnya di perusahaan papa. Tapi Vio melakukan sebaliknya Ma. Dia memelukku sambil terus mengambil uang papa!" kata Mukti.
"Maafin aku Ma. Maafin aku Mas." pinta Mukti tulus.
Ambar diam mendengar keterangan Mukti dan Abu. Jujur dia sulit tapi dia memang harus bicara.
"Aku tak mau berpanjang cerita. Aku ingin kita diskusi dengan cepat. Mukti kenapa selama ini sejak di Kediri sejak lamaran nya Vio kamu sengaja menyembunyikan hubunganmu dengan Vio pada aku dan Sonny. Aku tidak urus soal kamu dengan papamu karena memang dia selalu tertutup cintanya pada ibumu sehingga selalu hanya ada kamu di matanya!"
"Maaf sejak dari Paris Aku mencari Vio, tapi tak pernah nggak ketemu. Baru lihat lagi saat di Kediri."
"Aku masih mencintainya dan aku tidak rela Mas Sonny memilikinya. Lalu besoknya kami bertemu."
"Vio bilang dia ingin menyelesaikan misinya dulu dan dia tidak bilang tak pernah mencintai mas Soony sama sekali."
"Dia mengajakku menikah kalau aku percaya pada dia bahwa tak ada mas Sonny sama sekali di hatinya."
"Memang aku bodoh Ma, aku terlalu percaya pada Vio. Aku pun sudah bilang pada Eyang, aku juga sudah mengakui mengapa mencarikan lawyer untuk Vio itu karena aku berpikir aku harus membela istriku walau pun aku harus berhadapan dengan bapak kandungku karena saat itu kan aku belum tahu bahwa aku bukan memang papa," jawab Mukti
"Akhirnya aku sadar kalau aku memang salah sekarang Mama lihat sendiri kan aku sudah mencabut kuasa lawyer untuk Vio. Aku dan papa akan buat Vio dan Imelda membusuk di penjara Ma."
"Bayangkan Ma, tanpa sepengetahuanku dia membunuh dua anakku. Walau aku bandel tapi aku bukan pembunuh Ma. Dia dengan santainya dua kali membunuh! Apa perempuan seperti itu masih patut aku cintai?" kata Mukti lagi.
"Baik," kata Ambar.
"Cukup sampai sini. Maaf aku tak bisa kembali langsung kepada kalian. Aku minta waktu satu tahun untuk kita berpisah dan berpikir. Terserah kamu mau ceraikan aku lalu kawin dengan yang lain aku tak peduli. Tetapi kalau kamu mau menungguku ya monggo silakan. Itu pun belum tentu aku kembali padamu! " kata Ambar pada Abu.
"Soal Aksa apa nanti dia mau ikut denganku atau mau tetap di Bali silakan terserah dia. Aku akan tinggal dengan Sonny di Jogja."
"Aku bebaskan Aksa memilih mau di Bali atau di Jogja," kata Ambar lagi."
"Finish. Aku tak mau lagi bicara," Ambar tak mau ada diskusi lagi.
"Dengan berat hati aku menerima semua konsekuensi tindakanku," kata Abu.
Setelah berpanjang kata, akhirnya Abu memutuskan pamit setelah di mendapat keputusan Ambar minta break satu tahun dari dirinya.
"Aku rasa sebaiknya aku pamit dulu. Aku berterima kasih atas bantuanmu dalam hal ini." Abu mohon pamit pada Sjahrir.
Titip banner
__ADS_1