
“Sejak tidak boleh mencari bukti Mas tambah kebingungan. Sejak kamu nggak ada jadi banyak kepikiran, kamu tahulah bagaimana perasaan Mas. Mas benar-benar tidak pernah sekalipun ingin mengkhianati kamu. Mas selalu jujur apa pun. Selalu menceritakan sejak awal tidak ada yang Mas tutupin ke kamu, kecuali saat kemarin itu. Mas benar-benar ketakutan karena Mas tidak pulang, padahal itu bukan kemauan Mas. Jadi kalimat itu terlepas begitu saja dari mulut Mas, tanpa dipikir. Itu memang benar-benar omongan refleks, spontan. Demi Allah Mas nggak punya keinginan apa pun buat membohongi kamu.” ucap Mukti lemah.
“Sekarang semuanya terserah kamu. Kalau memang kamu tak bisa memaafkan, Mas terima. Tapi Mas minta satu kondisi. One condition please. Jangan pernah berpisah dari mama. Itu saja.” ucap Mukti penuh harap.
__ADS_1
“Kalau selama kamu berhubungan dengan mama tidak mau ada Mas, Mas tidak akan pernah memperlihatkan diri di depan kamu. Mas rela. Yang penting jangan nyakitin mama. Karena cuma itu yang Mas bisa berikan pada orang tua yang sangat mencintai Mas tanpa reserv itu,” kata Mukti sambil menangis. Dia benar-benar berharap Ayya tidak meninggalkan Ambar. Ayya juga ikut menangis. Dia mengambil kotak tissue dan memberikannya kepada Mukti sehabis dia mengambil tiga lembar untuk dirinya sendiri. Mereka benar-benar menangis karena akhir cinta mereka sekarang harus seperti ini. Tersakiti dengan kebohongan yang bukan mereka rencanakan. Bukan mereka yang sengaja membuat sakit seperti ini.
“Aku belum bisa memutuskan Mas apakah pertunangan kita bisa lanjut atau tidak. Tapi jujur aku tidak bisa menghilangkan trauma melihat kamu melakukan hubungan tersebut dengan orang lain. Kalau dengan Vio dulu, aku tidak pernah lihat dan saat itu aku belum jadi tunanganmu jadi apa pun yang kamu lakukan itu tak ada sangkut pautnya dengan aku. Tetapi kejadian kemarin itu kita sudah tunangan. Itu yang tidak bisa aku maafkan. Walau itu bukan kemauanmu sekalipun, tetapi tubuhmu lah yang melakukannya. Jadi sekali lagi aku tekankan aku belum bisa memutuskan apakah kita akan terus atau putus. Yang pasti aku tak akan mungkin memisahkan diri dari mama dan eyang Angga. Mereka berdua segalanya buat aku selain papa Wayan tentunya. Kalau dengan papa Abu aku terus terang tidak terlalu kepikiran. Tapi kalau mama Ambar dan eyang Angga itu berat buat aku kalau berpisah dengan mereka.”
__ADS_1
“Untuk selanjutnya, aku ingin kita berdua bahu membahu membongkar dalam persoalan ini Mas. Aku minta Mas mau bekerja sama dengan aku. Aku tak ingin ini tidak terungkap. Jadi poin dari pembicaraan kita tadi yang pertama aku belum tahu apakah bisa meneruskan pertunangan kita tapi aku yakin kita belum putus. Untuk sementara kita mengambang saja dan yang kedua aku ingin kita menyelesaikan persoalan ini bersama kita jadi satu tim yang solid sehabis ini selesai kita bisa menentukan langkah kita,” kata Ayya pasti. Dia penasaran dengan Carlo. Ada hubungan apa Carlo dengan kasus ini?
‘Kalau Carlo dalang semua ini, aku akan “bu-nuh” dia, akan aku buat dia kembali menjadi zero!’
__ADS_1
“Baik. Mas terima dua poin yang kamu ucapkan tadi. Tapi please ceritakan apa yang telah kamu lakukan sejak kamu keluar dari rumah ini,” pinta Mukti.