
Sehabis salat subuh Mukti, Made dan Wayan langsung sarapan kilat dan berangkat lebih pagi. Untung Bu Parman sejak semalam sudah dipesan oleh Ambar agar pagi-pagi sekali menyiapkan kopi untuk ketiga lelaki tersebut, juga sarapan seadanya.
Bu Parman menyiapkan nasi goreng untuk mereka bertiga tambah ceplok telor setengah matang juga ada ayam goreng. Lumayanlah buat mereka ganjal perut. Mereka pun dibawakan nasi goreng tersebut dalam termos bekal hangat sehingga nanti makan siang mereka ada nasi goreng sosis untuk makan siangnya tetap dengan ayam goreng. Semua dimasukkan dalam termos hangat jadi tidak nasi dingin yang dimakan siang nanti. Sekarang tak ada yang mau jajan sama sekali. Mereka benar-benar antisipasi.
Bahkan untuk kopi pun mereka bawa kopi sachet tinggal minta air putih dan mereka seduh sendiri tidak menyuruh orang. Tadi Wayan bilang mendingan masak sendiri saja biar aman. Wayan akan merebus air di cafe cukup untuk tiga gelas mereka.
Pokoknya mereka akan berjaga-jaga. Wayan bilang akan mencuci dulu pancinya, dibilas air dulu baru digunakan untuk merebus air. Ditungguin tidak boleh meleng. Itu tadi yang dia bilang karena takutnya walaupun hanya minta air putih bisa saja air putihnya sudah ditambah sesuatu bahan. Jadi benar-benar mereka akan antisipasi hal tersebut.
“Baju ganti kalian untuk pembukaan sudah siap?” tanya Ambar saat mereka pamit.
“Sudah Ma, aku sudah siapin baju di travel bag kecil. Juga sepatu. Untuk penutupan pasti aku nggak pakai sneaker, aku pakai sepatu kulit. Waktu pembukaan juga seperti itu. Kalau ada Ayya pasti dia marah kalau aku pakai sneaker,” ucap Mukti. Keluarganya juga teman dekatnya terbiasa mendengar Mukti menyebut Ayu dengan panggilan special Ayya dan tak ada yang ikut memanggil dengan nama itu. Karena itu hanya panggilan dar orang tertentu saja.
__ADS_1
“Dia pasti nggak marah. Dia hanya kecewa,” kata Angga.
“Beda lho marah sama kecewa. Marah itu cepat redanya, tapi kalau kecewa agak sulit sembuhnya,” lanjut Angga lagi.
“Iya Eyang. Itu sebabnya aku nggak mau bikin dia kecewa lagi. Aku bawa kok sepatu kulit, karena kan pakai kemeja batik. Walau nanti mungkin aku agak aneh saja pakai batik tangan pendek. Belum pernah aku punya kemeja seperti itu. Tapi Mama kemarin siapin, ya sudah.
“Kalau aku biasa saja, kata Made.
“Batik-batik Bali kan umumnya memang tangan pendek. adi nggak aneh.”
“Tapi ya aku koboi saja lah. Tetap pakai sneaker begini karena memang aku nggak bawa sepatu ganti. Sepatu ganti bawa untuk satu bulan ini tetap saja sneaker bukan sepatu kulit gantinya. Jadi memang nggak bawa sepatu kulit sama sekali.”
__ADS_1
“Begitu pun aku. Ibuku juga nggak ribut, mungkin kalau aku ada istri beda,” kata Made.
“Sudahlah kau cari istri lagi,” jawab Mukti.
“Aku sih nggak ada masalah asal perempuan tersebut bisa menerima Pram. Itu saja kuncinya. Aku tak ingin Pram tersisih. Pram adalah sentral hidup aku,” jawab Made.
“Ya benar anak adalah segalanya,” kata Wayan. Dia ayah dua anak.
“Buat orang seperti kita, anak adalah segalanya,” kata Angga.
“Beda sama banyak lelaki di luaran sana yang dengan gampang membuang istri dan anaknya demi perempuan lain yang belum tentu akan seperti istri pertamanya. Begitu pun anaknya dia tidak pikirkan tentang nasib anak tersebut. Nasib anak di sini bukan hanya soal nafkah, melainkan beban jiwa anak-anak itu!”
__ADS_1
“Benar Eyang banyak lelaki yang gampang berpaling pada perempuan lain dengan alasan sudah tidak nyaman lalu selingkuh. Padahal seharusnya kalau sudah tidak nyaman dia selesaikan dulu ketidak nyamanan itu. Entah diperbaiki, entah dia cerai. Baru dia punya perempuan lain. Bukan dengan cara selingkuh. Saya paling benci pasangan yang selingkuh!” kata Wayan.
“Betul selingkuh itu di mana pun tetap saja pelakunya bobrok. Dia tidak berpikir hati pasangannya, hati anak-anaknya. Selingkuh itu salah apa pun alasannya. Dengan alasan ketidak cocokkan atau apa pun itu, tidak benar. Kalau tidak cocok, ceraikan atau perbaiki. Kok bisa nikah kalau tidak cocok? Pasti ada yang berubah. Perbaiki perubahan itu,” kata Abu, karena dia tak pernah berniat selingkuh sama sekali tak pernah ada niatan untuk itu.