CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
DAPAT SALAM DARI TUNANGANKU


__ADS_3

“Beli apa Yank?” tanya Mukti di restoran yang mereka datangi.


“Papa tuh sukanya Chinese food Mas. Karena terbiasa dulu kan sama Bu Dewi. Dan di sini itu Chinese foodnya halal Mas. Jadi aku suka beli di sini. Dari zaman ada ibu juga aku sering beli di sini,” jawab Ayya.


“Oh gitu,” kata Mukti, dia melihat daftar menu yang ada.


“Mas mau beli apa?” tanya Ayya.


“Terserah kamu aja Yank, semuanya tergantung kamu,”  balas Mukti.


Ayya pun menulis fuyunghai, lalu dia tulis kwetiau goreng seafood, ayam goreng mentega dan sayuran nya adalah capcay kuah. Tentu saja masing-masing dia pesan dua porsi.


Mukti tak perlu tanya mengapa Ayya memesan setiap jenis dua porsi karena dia tahu pasti yang satu porsi akan ditaruh di rumah pakde Saino.


Sambil menunggu masakan matang Ayya minta satu minuman soda tambah su5u. Dia campur dan berikan pada Mukti.


“Suka nggak sama soda gembira kayak gini?” tanya Ayya.

__ADS_1


“Mas nggak terlalu suka sih sama minuman beralkohol, tapi kalau pakai su5u kayak gini ya suka,” kata Mukti.


“Seriusan Mas nggak suka minuman beralkohol?” tanya Ayya tak percaya.


“Serius Yank, jangan kamu pikir Mas itu bebas di Paris sendirian nggak ada orang tua lalu Mas jadi peminum, tukang main perempuan dan segala macam hal buruk lainnya.”


“Bahkan teman satu kamar Mas dari dulu, yaitu Made dia ngerokok pun Mas nggak ngerokok.” Jelas Mukti.


“Sesekali suka juga menghisap rokok, tapi nggak ketemu satu bulan sekali kok. Kalau pas ada teman-teman datang atau apa, Mas ditawari, Mas ambil tapi itu pun nggak sampai satu batang. Sebagai penghormatan saja.”


Sebelum masuk ke desanya ada supermarket juga. Ayya sengaja minta berhenti di situ untuk beli buah. Ayya jadi ingat tas belanjaan yang pernah dia lihat adalah dari supermarket besar ini.


Ayya mengambil beberapa macam buah juga daging dan ayam serta ikan beku untuk persediaan papanya. Biarpun sendiri papanya rajin masak. Kalau sayuran memang Ayya sengaja tidak belikan karena nanti papanya bisa belanja ke warung sendiri dan Ayya juga nggak tahu stok di kulkas masih ada apa. Yang penting dia belikan daging ikan dan ayam beku saja.


“Assalamu’alaikum Pa,” sapa Ayya.


“Wa’alaykum salam. Kok cepat datangnya? Kirain kamu datangnya sore,” Wayang memeluk erat putrinya setelah gadis itu memberi salim.

__ADS_1


“Enggak Pa, begitu selesai sidang, kami makan siang lalu ke sini,” jawab Ayya.


Saat itu Mukti masih menurunkan belanjaannya. Ayya memang turun lebih dulu.


“Papa ingat ya Pa. Jangan main langsung terima aja. Kalau disuruh nentuin waktu bilang kalau soal nentuin waktu itu urusan Ayya,” bisik Ayya.


“Iya Sayang, Papa inget kok. Tenang aja. Kita juga belum tahu dia mau ngomong apa,” jawab Wayan juga dengan berbisik.


“Kalau ngomong pasti soal pertunangan kemarin Pa, karena pertunangan itu sudah bocor ke mana-mana. Papa Abu cerita ke pengacara sehingga akhirnya dari situlah semuanya menyebar. Maka dia pasti akan bicara itu. Cuma soal penentuan waktu nikah aja yang harus Papa lemparkan ke Ayya.”


“Siap ibunda ratu,” kata Wayan. Mereka pun tertawa berdua. Mukti yang melihat bagaimana bahagianya Ayya dengan Wayan menjadi sangat terhibur.


“Mas aku antar ini ke rumah Bude Saino dulu ya,” kata Ayya. Dia sudah memisahkan makanan matang untuk Bude Saino.


“Iya Sayank, nanti bilangin aja salam dari Mas,” kata Mukti.


“Ya nanti aku bilangin dapat salam dari tunanganku,” kata Ayya membuat Mukti terpana. Ayya pun bergegas ke rumah bude Ati untuk mengantarkan makanan matang bagi Pakde dan budenya itu.

__ADS_1


__ADS_2