
“Kamu enggak apa-apa naik taksi bareng aku?” tanya Sri.
“Kan memang tujuan kita tadi naik taksi ke Terminal,” jawab Komang Ayu.
“Tapi kan ada pak Mukti.”
“Enggak apa-apa kok dia akan ikuti kita tenang aja. Aku sudah izin. Aku bilang kalau enggak boleh di taksi bareng kamu mending aku enggak usah dijemput.”
Di terminal, Mukti meminta dua poter untuk mengangkat barang milik Sri. Sri sendiri antri di loket membeli tiket menuju Cilacap. Mukti mengawasi Ayya dengan ketat taku di dekati orang jahat yang hendak berbuat tak baik.
“Bu ini kelebihan muatan barangnya kena cas biaya tambahan Bu,” seorang kondektur bus memberitahu Sri.
“Silakan kasih tambah biaya resmi. Kalau di luar biaya resmi akan saya perkarakan,” kata Mukti yang mendengar permintaan dari kondektur.
“Zaman sekarang semua ada buktinya Pak. Sejak tadi pembicaraan saya rekam dan ini juga bisa saya videokan nomor mobil serta plat nomor polisi mobil ini. Jadi jangan macam-macam,” gertak Mukti.
“Baik Pak, baik,” kata sang kondektur sedikit gemetar.
Mukti memberikan satu lembar uang merah pada kondektur. “Ini sudah maksimal, lebih dari yang seharusnya. Dan ingat nanti di Cilacap tidak boleh minta biaya tambahan lagi. Nomor pintu bus dan nomor polisi sudah saya rekam sejak di sini. Jadi begitu saudara saya ini laporan kalau di Cilacap nanti dipersulit, akan saya viralkan,” kata Mukti lagi. Dia lalu membuat video badan mobil juga nomor pintu mobil dan nomor polisi mobil tersebut. Tentu saja semua takut kalau sudah akan diviralkan karena nanti PO akan memecat kondektur tersebut.
“Sampai sana kamu kabarin aku ya,” pinta Komang Ayu.
“Pastilah, aku tak akan mungkin lupa sama kamu.”
__ADS_1
“Ya sudah enggak usah sedih kita kan malah harusnya senang karena akan sering bertemu,” ucap Komang Ayu menepis rasa berat akan perpisahan kembali dengan Sri. Sahabat yang banyak membantu saat dia kesulitan dulu.
“Aku enggak sedih. Aku hanya terharu ternyata hanya bicara mengenai harapan pindah kerja padamu aja langsung terwujud.”
“Ini hasil yang kamu tabung dulu. Kamu bilang sesuatu jangan dihiting uang karena Allah akn menghitung segalanya lebih rinci. Semoga pekerjaanmu di Solo nanti lancar,” ucap Komang Ayu.
“Aku yakin pendapatanmu akan lebih besar dari gaji di cafe, selain dari bebas makan dan free kamar, karena gaji dari keluarga Lukito itu lebih besar dari UMR.”
“Walaupun UMR Solo lebih kecil dari UMR Jakarta, tapi aku yakin pendapatanmu akan lebih besar dari pendapatan di cafe,” bisik Komang Ayu.
“Aamiiin, semoga saja itu benar-benar terwujud,” ucap Sri penuh harap.
“Aku yakin pasti terwujud, terlebih kalau kamu jujur. Karena di keluarga Lukito kuncinya hanya jujur dan rajin.”
“Nah itulah. Kamu akan berhasil di sana. Pasti akan banyak orang yang tidak senang dengan kehadiranmu, jadi kuncinya hanya kejujuran aja. Semua tipu muslihat akan kita bisa lawan dengan kejujuran koq.”
“Kok ke sini Mas?” protes Ayya.
“Iya refreshing lah sekali-kali, kita kan belum pernah jalan berdua untuk refreshing,” ungkap Mukti sambil memarkirkan mobil di mall besar daerah Senayan.
“Refreshing itu enggak ke mall Mas. Tapi ke tempat yang tenang dan sejuk, kalau ke mall itu bikin bete,” ujar Ayya yang tak suka dibawa ke mall oleh Mukti.
“Kok bikin bete?”
__ADS_1
“Ya bete lah lihat orang sibuk belanja seperti orang yang tak punya kegiatan lain yang positif aja,” ucap Ayya.
‘Gadis lain akan berlomba-lomba minta ke mall dan minta dibelikan sesuatu tapi gadis di sebelahku malah tak suka ke mall, bukan karena dia dari orang yang kesusahan tapi memang karakternya tidak suka keramaian.’
'Buktinya Kak Adel juga sama seperti itu, padahal dia anak orang super berlebih, malah punya berapa rumah sakit. Tapi memang tak suka belanja. Kak Adel lebih suka dengan hal-hal yang tenang dan damai sama seperti Mas Sonny.’
‘Rupanya Ayya memang cocok dengan aku yang tak suka hura-hura walau aku sejak lahir berada di lingkungan orang yang berlebih. Tapi papa dan mama memang tidak mengajarkan kami untuk hura-hura. Aku bersyukur dirawat dan dibesarkan dengan kasih sayang oleh keluarga Lukito,’ ucap Mukti dalam hatinya. Dia sangat bersyukur akan nasib baiknya dipelihara cinta kasih Ambar dan Abu.
“Sebenarnya Mas mau cari sepatu,” jawab Mukti.
“Bukannya sepatu Mas sudah super banyak? Yang dipakai kan hanya satu pasang. Buat apa beli lagi?”
“Ya pastilah Mas enggak akan pakai sepuluh pasang sepatu sekaligus,: jawab Mukti tersenyum.
“Sebenarnya Mas cuma mau beli sepatunya Farhan dan Fahri tadi. Mereka bicara soal sepatu bola jadi Mas mau belikan sepatu untuk mereka,” Mukti cari alasan.
“Honey ke mall yok,” ajak Vio setiap mereka bertemu.
“Ngapain lagi? Bukannya pertemuan terakhir kita kamu sudah belanja tas dan pakaian banyak?” tanya Mukti pada istri sirinya.
“Aku mau cari 2 atau 3 pasang sepatu honey,” rengek Vio.
Semua terlintas dalam benak Mukti. Bahkan Vio yang terhitung tidak matre ternyata setelah jadi istrinya setiap ketemu selalu merogoh kantongnya teramat dalam. Tapi saat itu Mukti tak peduli, yang penting istrinya bahagia.
__ADS_1
“Mas … Mas?” Tegur Ayya menyadarkan Mukti dari lamunan kenangan masa lalunya.