
“Mama nulis apa saja ya? Aku nggak baca tadi. Takut ketahuan. Ah andai saja aku lihat di top up nya isinya apa. Aku jadi penasaran aku lihat lagi ah,” kata Ayya pelan. Dia mengganti lagi nomor lama ponselnya. Dia buka pesan pertama dan kedua Ambar. Isinya sama berarti ke bawahnya juga isinya sama.
Ayya juga memperhatikana da dua misscall dari nomor Mukti sehabis nomor terhubung tadi.
“Segitu putus asanya mama sampai menulis kata-kata itu. Aku harus jawab apa ya? Nggak enak Mama seperti ini aku nggak jawab.”
Ayya membaca pesan Ambar berulang kali. Di forward pula pesan itu ke nomor barunya untuk dia baca berulang. Tolong datang satu kali saja untuk memaafkan Mukti. Kalau memang tidak mau meneruskan hubungan ya tidak apa-apa. Mama sudah ikhlas kok. Yang penting ada maaf untuk Mukti agar dia bisa melanjutkan hidupnya.** Tidak seperti saat ini.** Itu yang Ayya baca.
Membaca itu tentu saja Ayya menangis. Mama sampai mengorbankan egonya menghiba meminta tolong tiap hari agar Mukti bisa mendapatkan maaf darinya.
“Mama tahu aku orangnya nggak bisa marah tapi aku pendendam. Aku nggak bisa memaafkan kebohongan yang Mas Mukti lakukan. Kalau kejadian itu memang bukan atas inisiatifnya dan kejadian itu bukan atas kemauan dia, seharusnya dia kan nggak usah bohong sama aku. Seharusnya dia bicara saja sejujurnya, sehingga aku tahu sejak awal. Tidak kaget melihat video itu.”
__ADS_1
“Siapa ya yang ingin aku berpisah sama Mas Mukti?” tanya Ayya. Sejak tadi dia bicara sendiri dalam kamar kost-nya.
“Apakah Carlo sejahat itu?”
“Atau bahkan Arjun?”
“Aku nggak tau. Aku nggak bisa ngerti kalau mereka yang melakukan itu. Makanya lebih baik aku mundur.”
“Tadi aku juga lihat tiap hari Carlo menghubungiku seakan-akan tahu kalau aku sedang break dengan Mas Mukti. Apa beneran Carlo ya? Karena Lukas juga nggak hubungi aku. Seharusnya kan Lukas yang cari aku karena dia ada di Solo dan kami belum bertemu. Tapi bukan Lukas yang hubungi aku tiap hari.”
“Arjun rasanya nggak seperti itu. Tapi entahlah. Kita nggak bisa menilai orang dari luarnya saja.”
__ADS_1
Abu kaget pagi-pagi Ambar berteriak sambil memegang teleponnya. Saat itu mereka baru bangun dan akan menjalankan salat subuh.
“Kenapa Ma, kenapa?” tanya Abu.
“Papa baca saja. Papa baca saja,” jawab Ambar terbata berulang seakan tak percaya dapat pesam itu.
Abu mengambil ponsel dari tangan istrinya, dia baca pesan yang masuk sejak tadi malam jam 01.17. Dini hari, tepatnya tengah malam.
‘Ma. Maaf kalau selama ini aku menghindar. Tapi aku tetap anak Mama. Aku doakan Mama selalu sehat. Begitu pun kak Adel dan keluarga lainnya.’
‘Untuk saat ini aku belum bisa bertemu Mama atau siapa pun. Biarkan hati ini mendingan Ma. Bara ini susah padam. Jadi aku mohon Mama mengerti aku.’
__ADS_1
‘Mama nggak usah pikirin di mana aku. Karena ke Papa Wayan pun aku nggak kasih tahu di mana aku berada. Yang pasti aku masih bisa bekerja dan makan. Mama nggak perlu khawatir akan hal itu.’
‘Sekali lagi aku sayang Mama. Salam buat Eyang Angga dan kak Adel.’